Seperti sudah kita bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, iman Kristen akrab dengan pengenalan kebenaran yang sifatnya paradoxical. Pengertian kita akan dua natur Kristus misalnya adalah salah satu pengertian yang paradoxical yang kita terima dari Firman Tuhan sendiri. Paradoks kekal – dapat mati, tidak terbatas – terbatas, Mahatahu – tidak Mahatahu dlsb. Kita harus menerima dengan rendah hati bahwa ada tegangan antitesis yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh rasio manusia. Namun ini bukan berarti kepercayaan iman Kristen adalah sesuatu yang irrasional. Justru di sini kita mengakui dengan rendah hati keterbatasan rasio kita yang tidak dapat menampung pengenalan akan Allah sebagaimana Allah mengenal diri-Nya sendiri.

Continue reading

Hidup Bersyukur

Bacaan: II Korintus 4:15-18

Ayat yang sangat unik ini membicarakan kaitan yang begitu jelas antara kehidupan yang diselamatkan dengan pengucapan syukur. Jelas dalam bagian ini ucapan syukur bukanlah sekedar sesuatu yang menyertai kehidupan orang percaya, melainkan bahwa to certain extent, keselamatan dianugerahkan oleh Tuhan agar ucapan syukur semakin melimpah, di atas dunia yang berdosa ini. Menurut surat Roma, ingratitude (tidak tahu berterima kasih) adalah salah satu tanda kekafiran. Mereka yang hidupnya selalu mengeluh dan tidak pernah bersyukur sesungguhnya hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah.

Continue reading

Worldview and Theory

Bacaan: I Tes 5:21

Dunia ini dikuasai oleh pemikiran yang dihasilkan oleh para pemikir dalam segala bidang. Pemikiran-pemikiran tersebut berbeda dalam kualitas dan jangkauan pengaruhnya, dari yang paling global, sampai kepada pengaruh dalam batasan lokal. Pemikiran dalam skala yang lebih global biasanya sudah dicetuskan menjadi suatu teori yang dikembangkan oleh para pemikir. Sementara pemikiran yang lebih berskala kecil biasanya kurang memiliki teori yang digarap dengan comprehensive. Baik teori raksasa maupun teori yang lebih sederhana sebenarnya merupakan hasil perkembangan dari suatu worldview/Weltaunschauung (pandang/wawasan dunia) yang dianut oleh sang pemikir. Sehingga tidak ada suatu teori apapun (entah teori ekonomi, sosial-politik, estetika/seni, science, psikologi etc) yang sifatnya netral. Ini dikarenakan worldview juga tidak mungkin netral.[1]

Continue reading

Luther on Prayer

Katekismus Besar yang ditulis oleh Luther membahas lima pokok besar: 10 perintah Allah, iman, doa, baptisan dan perjamuan kudus. Bagian ketiga tentang doa sebenarnya merupakan penjelasan tentang Doa Bapa Kami, dan sebelumnya Luther menulis suatu pengantar mengenai doa. Ada beberapa point yang kita bisa pelajari dari konsep Luther tentang doa pada bagian pengantar ini.

Continue reading

Talenta

Bacaan: Matius 25:14-30
Perikop atau unit ini berhubungan dengan unit sebelum dan juga sesudahnya. Di dalam penulisan Kitab Injil kita percaya bahwa penulis memiliki alur tertentu pada waktu dia menulis blok demi blok. Kita tidak harus mengertinya secara kronologis, sebab kalau kita mengertinya secara kronologis kita akan mengalami kesulitan karena keempat Injil meletakkan urutan peristiwa-peristiwa berbeda satu sama lain. Sehingga yang lebih penting mengerti bagaimana atau mengapa mereka menyusun alur (flow) tersebut sehingga kita dapat menangkap alur message yang hendak disampaikan waktu kita membaca blok demi blok. Perikop ini ada di dalam satu bagian dari Injil Matius yaitu kotbah tentang akhir jaman (pasal 24-25). Dan dialam konteks itulah Matius menuliskan perumpamaan tentang talenta ini. Perumpamaan tentang talenta yang menjelaskan tentang Kerajaan Sorga.

Continue reading

Spiritual Battle

Bacaan: Mazmur 144

Ini adalah satu Mazmur pujian, yang dimulai dengan kata pujian, tetapi ini bukan suatu pujian biasa. Jika kita baca koleksi Mazmur nomor-nomor yang terakhir sampai puncak doksologi dari Mazmur 150, kita mendapati bahwa banyak yang tergolong Mazmur pujian. Mazmur pujian biasanya memiliki alasan seperti Tuhan membebaskan, Tuhan menyelamatkan, dan sebagainya. Tetapi di dalam Mazmur 144, ditulis bahwa Daud memuji Tuhan bukan karena keselamatan (meskipun hal ini ada dalam ayat-ayat yang berikutnya), tetapi oleh karena dia dilatih oleh Tuhan, oleh suatu pembentukan Tuhan di mana dia belajar berperang. Kalau kita membaca dalam bagian Alkitab yang lain, kita membaca tokoh-tokoh yang lain seperti Musa, Yeremia, Paulus, Timotius dan lain-lain, mereka mengalami pembentukan Tuhan dengan cara-cara yang berbeda. Ada yang seperti Paulus yang mengalami pembentukan dalam 3 hari, ada juga yang dibentuk sampai 40 tahun seperti Musa. Lalu ada orang yang seperti Yakub yang memiliki karakter tidak baik (penipu), ada juga seperti Natanael yang memiliki ketulusan hati, ada yang terlalu berani seperti Petrus, ada yang cenderung penakut/pemalu seperti Timotius. Ada yang harus belajar untuk berdiam diri dan mempersilakan Tuhan yang berperang baginya, ada yang harus diajar berperang seperti Daud.

Continue reading

Doa Bapa Kami

Bacaan: Matius 6:5-15

Bagian ini termasuk dalam bagian dari khotbah di bukit yang sangat terkenal. Ajaran Yesus Kristus dapat dikatakan dikristalisasikan dalam khotbah di bukit. Kita tidak harus mengerti khotbah di bukit sebagai suatu rangkaian yang terjadi secara kronologis, melainkan merupakan kumpulan khotbah yang dikumpulkan oleh Matius.

Continue reading

Iman dan Biji Sesawi

Bacaan:

Roma 1:17
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Roma 1:12
yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.

I Yohanes 5:4
sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

Mat 17:20b; Lukas 17:6
Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Continue reading

Kematian

Memikirkan tentang kematian adalah suatu hal yang seringkali dianggap menakutkan. Filsafat eksistensialisme bahkan mengembangkan suatu pemikiran yang menempatkan Angst zum Tode sebagai suatu tema yang penting. Di satu sisi kita sependapat bahwa mereka yang memikirkan akhir hidupnya (baca: kematian) adalah mereka menyadari eksistensi diri, namun di sisi yang lain, kita tahu bahwa blosse Angst tidak akan memimpin manusia ke mana-mana. Mungkin saja dalam ketakutannya tersebut manusia lalu terdorong untuk mengerjakan pekerjaan yang berarti, namun sekali lagi, ketakutan, bagaimanapun juga, tidak dapat dianggap sebagai kebajikan (Tugend/virtue).

Continue reading

Mengenal Allah

Manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk memiliki pengetahuan. Keinginan untuk tahu adalah pemberian Tuhan yang sudah ada dalam diri manusia, karena manusia tidak dapat melepaskan diri dari kebenaran. Entah hubungan itu berupa penolakan akan kebenaran, ataupun penerimaan kebenaran. Pengetahuan, atau lebih tepat pengenalan akan kebenaran itulah yang membawa manusia kepada hidup yang seutuhnya.

Continue reading

© Copyright 2017 Sola Dei Gloria. All Rights Reserved.