Doa

Di manakah tempat doa dalam perspektif teologi sistematis? Atau doa hanya bisa ditempatkan dalam cabang teologi praktis, i.e. dalam teologi spiritualitas? Tidak diragukan lagi, keterpisahan antara teologi sistematis dan teologi praktis menjadi persoalan besar dalam kehidupan jemaat. Teologi praktis tanpa pendasaran teologi sistematis; sebaliknya, teologi sistematis tanpa aplikasi yang jelas dalam kehidupan sehari-hari. Namun seharusnya tidak demikian. Sesungguhnya, doa memiliki tempat yang sah dalam teologi sistematis, yaitu dalam doktrin keselamatan.

Memang doa tidak menyelamatkan, yang menyelamatkan orang percaya adalah korban Yesus Kristus di atas kayu salib yang sempurna menebus kita dari kuasa dosa. Namun bukan berarti doa tidak memiliki kaitan dengan keselamatan kita. Dalam struktur Institutio, Jean Calvin mengaitkan dengan erat antara soteriologi klassik, i.e. bagaimana kita diselamatkan (buku III) dengan alat-alat anugerah yang dengannya Tuhan memelihara keselamatan kita supaya kita tetap berada dalam keselamatan tersebut (buku IV). Yang termasuk alat-alat anugerah adalah Gereja dan sakramen, namun juga doa. Calvin bahkan menempatkan pembahasan tentang doa pada buku yang ke-3 dan bukan yang ke-4. Ini berarti ada kaitan sangat erat antara teologi doa dengan doktrin keselamatan.

Doa menghayati ketidak-mampuan serta kebergantungan kita kepada Tuhan sebagaimana nyata dalam jalan keselamatan kita. Kita bangkrut rohani di hadapan Allah, tidak ada satu orang pun yang bisa datang kepada Allah dengan kesalehannya sendiri. Semuanya adalah karena anugerah Tuhan. Demikian dalam doa kita sebenarnya terus-menerus menghayati kebangkrutan rohani ini ketika kita terus-menerus bergantung dan berharap kepada Allah dalam segala kebutuhan kita. Sayang sekali, kita mendapati orang percaya yang dalam cerita keselamatannya menyatakan kebergantungan total pada kasih karunia Allah, namun ketika dalam proses perjalanan mengikut Kristus tidak membangun dengan spirit yang sama. Soal keselamatan sepenuhnya bergantung pada belas kasihan Allah; soal pengudusan dan pelayanan sepenuhnya tergantung pada kesungguhan dan ketekunan kita. Doa kemudian dianggap sebagai suatu yang tidak berguna, karena dianggap merupakan suatu pelarian dari tanggung-jawab mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Alangkah menyesatkannya pandangan seperti ini.

Sekalipun kita memang hidup dalam dunia yang hanya mengerti siapa yang berjuang dia yang mendapatkan dan yang berhasil, namun Alkitab tidak mengajarkan spirit pengikutan seperti itu. Yang benar adalah bagaimana kita terus-menerus menghayati kebangkrutan rohani kita, seperti Yesus mengatakan: „demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku“ (Yoh. 15:4). Tinggal di dalam Yesus berarti bergantung sepenuhnya kepada kekuatan Yesus. Seorang yang banyak berdoa bukanlah seorang yang kuat, justru sebaliknyalah yang benar: seorang yang sangat menyadari kelemahan rohaninya, dan karena itu dia berdoa. Tidak ada doa yang benar yang mungkin dilakukan tanpa kesadaran kemiskinan rohani ini.

Seorang yang dengan tulus hidup bergantung dalam doa, akan mengalami apa artinya pertolongan, anugerah, kasih karunia, dan belas kasihan Tuhan. Sebaliknya mereka yang tidak suka berdoa hanya akan melihat kehebatan pencapaiannya sendiri, sehingga hidupnya miskin dengan pengalaman melihat keajaiban anugerah Tuhan. Orang yang tidak melihat anugerah Tuhan akan sulit sekali memuliakan Tuhan. Ia hanya akan memuliakan dirinya sendiri. Dan kalau pun bersyukur dan memuji Tuhan itu hanya dilakukan sekedar basa-basi, bukan dari kedalaman hati. Di sini ada rantai yang beruntun antara pengertian kita akan keselamatan, penghayatannya dalam sikap doa, kedalaman pengertian anugerah Tuhan, dan akhirnya hidup doksologi. Mereka yang terus-menerus menyaksikan kemuliaan Allah akan diperkenan oleh Tuhan. Dengan demikian kita menggenapi panggilan kita sebagai ciptaan yang untuknya Allah telah menyelamatkan kita. Kiranya Tuhan memberikan kepada kita kehidupan yang sedemikian.