Mencukupkan Diri (Contentment)

Pendahuluan: Situasi Kontemporer Dunia Kita

Kita hidup dalam dunia yang serakah. Ya, bukan hanya itu: bahkan kita diajari bahwa keserakahanlah yang benar, karena orang-orang yang tidak serakah akhirnya terlindas hancur dan tidak akan pernah menuju pada pintu gerbang keberhasilan. Keserakahan ternyata mengambil bentuknya bukan hanya pada materi atau uang saja, melainkan juga dalam bentuk-bentuk yang lain. Ada orang yang serakah dengan kehormatan, yang lain lagi serakah dengan jabatan dan kekuasaan, serakah dalam kenikmatan yang palsu dan menyesatkan. Selain keserakahan, kita juga sudah terbiasa hidup dengan spirit kompetitif, ya bahkan di antara kalangan pemimpin-pemimpin agama. Banyak orang yang mengaku diri religius, menolak paham evolusionisme, ternyata toh menghidupi dalam hidup sehari-hari pandangan Darwinisme secara harafiah: “the survival of the fittest, of the smartest, of the most elite, of the most gifted, dst, dst.” Satu sisi memeluk paham creationism, sisi yang lain mengkhianatinya! Orang yang biasa hidup dengan spirit survival (bertahan hidup) memang pada umumnya memiliki karakter sangat kompetitif: either saya yang menang, kamu kalah, atau kamu yang menang, saya yang kalah. Mungkinkah dalam keadaan seperti ini kita hidup menyenangkan Tuhan? Berikutnya: agaknya dunia kita juga selalu mengajarkan untuk menjadi besar: berpikir besar, melakukan hal-hal yang besar, bahkan kalau perlu ‘ngomong besar’. Dunia dipenuhi dengan orang-orang yang menderita penyakit inferior complex, yang tidak mampu menerima keterciptaannya. Di Singapura, ada yang disebut dengan 5 Cs: cash, car, credit card, condominium, country club. Mereka yang belum memiliki 5 Cs ini belum dapat dianggap berhasil hidupnya. Terakhir, belum lagi ditambah dengan masyarakat Timur kita yang sangat image-driven. Apapun dilakukan hanya untuk menjaga muka. Dan tentu saja, yang disebut muka di sini adalah bukan muka Tuhan, tapi muka saya sendiri, muka kelompok saya, muka partai saya, muka gereja saya! Adakah hal-hal di atas ini berkaitan dengan prinsip Kitab Suci? Ya, ada, yaitu suatu kaitan perlawanan atau permusuhan!

Beberapa Kutipan tentang Contentment

Waktu berbicara tentang mencukupkan diri atau kepuasan diri (contentment), ternyata issue ini sudah banyak dibicarakan bahkan di luar kepercayaan kristiani. Ada beberapa kutipan yang menarik tentang contentment:

“Who is rich? Those who are happy with their portion.” (Ben Zoma, reported in Babylonian Talmud, Shabbat 32a also found in Pirkei Avot 4:1).

“A joyful heart makes a cheerful face; A sad heart makes a despondent mood. All the days of a poor person are wretched, but contentment is a feast without end.” (Rabbi Meir Leibush (Malbim), Proverbs 15:13 and 15).

“Who seeks more than he needs, hinders himself from enjoying what he has. Seek what you need and give up what you need not. For in giving up what you don’t need, you’ll learn what you really do need.” (Mivhar Hapeninim 155,161, reported in Borowitz and Schwartz, The Jewish Moral Virtues, p.164).

Wow, alangkah indahnya kutipan-kutipan di atas ini. Agaknya bukan kebetulan jika kutipan-kutipan tentang contentment itu banyak digumulkan oleh orang-orang bijaksana yang mengamati keadaan dunia kita yang dipenuhi dengan ketidak-sanggupan untuk menjadi puas.

Ayat-ayat Kitab Suci tentang Contentment

Sekarang mari kita melihat beberapa ayat dalam Kitab Suci tentang issue contentment ini. Yang pertama dari Amsal 27:20 „Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas.“ Penulis Amsal banyak melakukan observasi dalam kehidupan manusia sehari-hari, kemudian ia mengambil kesimpulan dan menjadikannya kalimat-kalimat yang boleh menjadi peringatan atau ajaran bagi mereka yang mau mengikutinya. Di sini, mata manusia yang tidak pernah puas disejajarkan dengan dunia kematian! Jika ketidakpuasan sangat berkait erat dengan kematian, betapa lebih lagi kaitan antara kepuasaan yang sehat dengan kehidupan. Namun sayangnya, manusia sering kali disesatkan oleh keinginan matanya sendiri.

Amsal 14:30 „Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Ketidaksanggupan untuk puas dapat berakar dari iri hati, ya, hati yang sempit, yang tidak sanggup untuk melihat kebaikan dan anugerah Tuhan dalam diri orang lain. Menarik bahwa iri hati memang sering kali didahului dengan perasaan insecure, sebaliknya Amsal mengajarkan kita untuk memiliki hati yang tenang (lawan kata dari insecure). Orang yang insecure dan iri hati sebenarnya merupakan orang yang egois dan hidup berpusat pada dirinya sendiri. Akibatnya adalah dia tidak tahan untuk menyaksikan keluasan anugerah dan kemuliaan Tuhan (terutama pada diri orang lain). Jika kita mau menikmati contentment yang sejati, kita perlu belajar untuk memiliki hati yang luas, hati yang tenang.

1 Tim. 6:6-10 “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya   terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat   dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman  dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.“ Cukup jelas ayat-ayat ini. Ibadah akan memberi manfaat yang besar, menjadi berkat bagi kita jika disertai dengan contentment. Sebaliknya cinta uang akan menghancurkan ibadah kita kepada Allah. Paulus mencukupkan diri hanya dengan makanan dan pakaian (rumah pun tidak). Ia adalah seorang pengikut Kristus yang sungguh-sungguh menghidupi apa artinya menjadi seorang musafir. Seperti dikatakan oleh Agustinus (yang belajar dari Paulus), Paulus mengerti apa artinya menggunakan barang-barang di dunia ini untuk tujuan yang kekal. Tanpa memiliki rasa cukup ini (contentment), mustahil bagi orang beriman untuk bisa beribadah dengan benar kepada Tuhan.

Lukas 3:14 „Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: ‚Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?‘ Jawab Yohanes kepada mereka: ‚Jangan merampas dan jangan memeras  dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.‘“ Bahkan Yohanes Pembaptis pun dalam khotbahnya yang terkenal menegur bahaya ketidak-puasan (jangan memeras!) dan mengajarkan untuk mencukupkan diri. Yohanes Pembaptis memiliki posisi yang unik dalam Kerajaan Allah karena dialah yang ditempatkan oleh Allah untuk mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus. Dalam khotbah Yohanes ini kita melihat betapa pentingnya arti contentment dalam menyambut kedatangan Yesus Kristus. Mereka yang serakah dan tidak pernah puas sesungguhnya sulit untuk bisa menyembut kehadiran Yesus dalam hidupnya. Salah satu pertobatan yang penting dan perlu terjadi dalam hidup kristiani adalah berbalik dari hidup yang tidak pernah puas menjadi orang yang mencukupkan diri dengan keadaannya.

Luk 12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan , sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Yesus sendiri memperingatkan pendengar-Nya akan bahaya ketamakan. Hidup seseorang memang tidak tergantung dari berapa banyak yang dimilikinya, melainkan berapa banyak yang dia salurkan untuk menjadi berkat bagi sesamanya. Dalam perumpamaan yang diajarkan Yesus dalam ayat-ayat selanjutnya pada pasal 12 ini digambarkan seseorang yang sangat yakin dengan harta yang telah dikumpulkannya bagi dirinya sendiri. Namun, ternyata Allah tidak memberikan kepada dia kuasa untuk menikmati hartanya sendiri. Akibatnya? Ironis, orang lain yang akan menikmati apa yang dia kumpulkan. Mana yang lebih baik: Tuhan yang dengan kedaulatan kehendak-Nya yang tidak dapat dihalangi membagikan harta yang kita kumpulkan bagi orang lain dengan menghentikan nafas hidup kita, atau, kita dengan rela hati membagikan harta tersebut selagi kita masih hidup?

Mazmur 16:11 “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu  ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu  ada nikmat  senantiasa.” Ayat sederhana ini menyatakan bahwa contentment yang sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Tuhan saja. Manusia selalu mencari apa yang berada di luar dirinya untuk mengisi kekosongan hidupnya, sementara Tuhan sendiri mengejar dan mendambakan kepuasan jiwa kita yang terdalam. Kita tidak akan pernah puas dalam hidup ini jika kita terus-menerus menolak untuk mencari kepuasan kita yang terdalam dalam diri Tuhan saja.

Mazmur 84:10 “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu  rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” Pemazmur mendapat kepuasaannya dengan menikmati hadirat Tuhan pada rumah-Nya yang kudus. Tidak ada sukacita yang sejati dalam kumpulan orang-orang yang hidup melampiaskan kesenangan mereka sendiri. Sebaliknya, kehadiran Tuhan dalam rumah-Nya memberikan kepada kita kepuasaan yang sejati.

Fil. 4:11-13 “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri  dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan,  baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan  kepadaku.“ Perkataan Paulus ini akan menjadi sangat menarik jika dikaitkan dengan apa yang ditulis dalam Amsal 30:8-9 „Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan  yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN  itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.“ Penulis Amsal sangat berhati-hati dalam menghadapi baik kemiskinan maupun kekayaan. Ia tahu bahwa keduanya bisa menjadi jerat dalam hidup manusia. Dalam hal ini, ia sangat sadar akan kelemahan manusia tanpa pertolongan Tuhan. Paulus sebaliknya, dengan iman berani menghadapi baik kekurangan maupun kelimpahan. Bagi Paulus, segala perkara (baca: kekurangan atau kelimpahan) dapat ditanggung di dalam Kristus Sang pemberi kekuatan. Saat dalam keadaan kekurangan tidak mencuri dan mencemarkan nama Allah. Saat dalam kelimpahan juga tidak menyangkal Tuhan. Paulus merelativisasi bahaya kekurangan maupun kelimpahan dengan kuasa Kristus. Hanya Yesus Kristus yang dapat menolong kita untuk mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Contentment = tidak boleh ada ambisi?

Setelah merenungkan bagian-bagian Kitab Suci ini mungkin kita bertanya: apakah dengan demikian Alkitab mengajarkan bahwa memiliki contentment = tidak boleh mempunyai ambisi? Pertanyaan yang sentral tentunya adalah: bagaimana saya dapat membedakan contentment yang sejati dengan yang palsu, atau contentment yang alkitabiah atau semacam contentment palsu yang sebenarnya lebih merupakan keengganan untuk maju dan bertumbuh. Beberapa point bisa menjadi bahan pertimbangan kita:

Pertama, apakah ambisi yang ada pada kita itu berpusat pada diri kita sendiri (sekedar pengejaran karir semata) atau dalam rangka memperlengkapi orang lain lebih maksimal? Ambisi yang pertama memiliki sifat kedagingan, yang kedua adalah ambisi yang kudus.

Kedua, ketika kita setia menjalankan takaran atau porsi yang Tuhan berikan, kita pasti akan disertai oleh damai sejahtera dan sukacita yang dari Tuhan sebagai konfirmasinya. Sebaliknya ambisi keserakahan (ya, bahkan dalam hal-hal yang sepertinya rohani) hanya menghasilkan karakter yang restless, gelisah, perasaan kekosongan dan keletihan rohani (spiritual exhaustion) karena kita sedang melampaui takaran yang diberikan oleh Tuhan.

Ketiga, mereka yang setia akan diberikan kepercayaan lebih. Pertumbuhan rohani yang sehat, termasuk perkembangan jangkauan pelayanan kita merupakan upah dari kesetiaan. Ini merupakan pertumbuhan yang alkitabiah. Jadi bukan karena kita mau mengerjakan lebih banyak dan lebih banyak lagi (tidak pernah content), melainkan karena Tuhan yang mempercayakan kepada kita pekerjaan yang lebih besar (karena Tuhan melihat kesetiaan kita).

Keempat adalah ujian penyangkalan diri. Seringkali ambisi yang sehat disertai oleh keengganan kedagingan yang harus disangkal. Musa enggan ketika Tuhan memanggilnya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Calvin juga enggan kembali ke Geneva terutama setelah pengalaman penolakan pada masa pelayanannya yang sebelumnya di sana. Yang pekerjaan Tuhan seringkali disertai dengan ujian penyangkalan diri, bukan yang kita mau, bukan yang kita mimpikan dan bukan idealism kita.

Latihan-latihan rohani

Beberapa latihan-latihan rohani yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan karakter contentment adalah sbb:

Yang pertama adalah belajar mengucap syukur. Ucapan syukur membuat kita untuk menghitung betapa besar dan banyaknya anugerah Tuhan dalam hidup kita. Dan ini pada akhirnya akan menolong kita untuk menjadi puas dengan hidup yang diberikan oleh Tuhan.

Kedua, belajar memberi atau membagi. Dengan memberi dan membagi apa yang ada pada kita, kita akan semakin mengerti bahwa ternyata toh kita tidak membutuhkan sebanyak yang kita pikirkan. Ternyata hidup saya berkelebihan dan bukan kekurangan.

Ketiga, meskipun banyak perdebatan di antara para teolog tentang masih berlakunya hukum perpuluhan dalam hidup orang percaya. Perpuluhan merupakan suatu latihan yang sehat untuk menolong kita belajar beriman dalam kehidupan financial kita. Kita tidak akan menjadi miskin dan kekurangan dengan mengembalikan sedikitnya sepuluh persen dari penghasilan yang kita terima. Malah Tuhan akan senantiasa mencukupi dan memberkati.

Keempat, puasa (harafiah) juga dapat menolong kita untuk menyadari bahwa saya sebenarnya dapat hidup dengan keadaan makanan dan minuman yang minim. Kita tidak mati dengan makanan dan minuman yang sederhana dan secukupnya itu. Ini akan menolong dan menyelamatkan kita dari kebiasaan makan dan minum yang berlebihan. Barangsiapa sanggup menahan diri dari urusan makan minum yang sangat sederhana ini juga bisa menahan diri dalam perkara-perkara lain yang lebih besar. Siapa tidak bisa mencukupkan diri dengan urusan sederhana ini juga sulit untuk mencukupkan diri dalam urusan-urusan/perkara-perkara yang lain.

Kelima, adalah baik untuk merayakan dan menikmati berkat Tuhan setelah kita menjalankan tanggung jawab kita. Jangan bekerja banting tulang terus-menerus tanpa tahu menikmati karena itu bukanlah ajaran Alkitab! Mereka yang mengikuti Firman Tuhan tahu ada saat untuk banting tulang dan bekerja keras dan ada saat untuk merayakan akhir suatu pekerjaan. Di sini ada pergantian antara bekerja dan beristirahat.

Terakhir, jadilah seperti anak kecil (childlike). Anak kecil selalu punya alasan untuk kagum (amaze). Orang yang suka kagum hidupnya banyak disertai dengan kepuasan (contentment). Yang ini dan itu tidak puas adalah orang yang gengsi untuk kagum (sok dewasa, sok sudah tahu, sok pinter). Orang-orang seperti ini sekalipun berusaha mempertahankan image orang yang ‘sudah berpengalaman’ sebenarnya lebih patut banyak dikasihani daripada anak-anak kecil yang kagum terhadap segala sesuatu di dalam keluguan yang dekat dengan Kerajaan Allah itu.

Tuhan memberkati kita semua.