Menghayati Paradoks dalam Kehidupan Kristen

Seperti sudah kita bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, iman Kristen akrab dengan pengenalan kebenaran yang sifatnya paradoxical. Pengertian kita akan dua natur Kristus misalnya adalah salah satu pengertian yang paradoxical yang kita terima dari Firman Tuhan sendiri. Paradoks kekal – dapat mati, tidak terbatas – terbatas, Mahatahu – tidak Mahatahu dlsb. Kita harus menerima dengan rendah hati bahwa ada tegangan antitesis yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh rasio manusia. Namun ini bukan berarti kepercayaan iman Kristen adalah sesuatu yang irrasional. Justru di sini kita mengakui dengan rendah hati keterbatasan rasio kita yang tidak dapat menampung pengenalan akan Allah sebagaimana Allah mengenal diri-Nya sendiri.

Kebenaran paradoxical yang lain, seperti yang juga sedang kita bahas adalah paradoks antara Gods decretive/sovereign will dan Gods moral/preceptive will. Kita sudah mengambil contoh bahwa kekerasan hati Firaun misalnya, sekaligus ditetapkan (baca: dikehendaki dari perspektif kehendak kedaulatan Allah) dan tidak dikehendaki (baca: melanggar kehendak umum/moral Allah). Kedua hal ini sulit untuk kita pahami sepenuhnya karena sepertinya ada dua macam kehendak Allah yang saling bertentangan di sini: di satu sisi Allah yang menetapkan dan menghendaki itu terjadi, di sisi yang lain Allah tidak menghendakinya. Setiap theology yang baik dan jujur harus berusaha untuk menyelami serta menjelaskan misteri paradoxical ini.

Ada beberapa alternative tentunya: pertama, kita menghilangkan/meniadakan kehendak ketetapan Allah dan hanya membicarakan kehendak moral Allah saja. Diterapkan dalam ketetapan Allah atas penyelamatan manusia misalnya theology seperti ini akan mencoba untuk menghindari semua pernyataan Alkitab yang mengajarkan tentang Allah yang menetapkan. Seperti kita sudah pernah bahas, kecenderungan seperti agaknya berbau liberal karena tidak bersedia menerima keseluruhan pengajaran yang dinyatakan dalam Alkitab, sebaliknya hanya mau menerima apa yang dapat dijelaskan oleh rasio pribadi saja. Alternativ kedua, pada dasarnya dengan prinsip yang sama, menghilangkan dan tidak mempedulikan bagian Alkitab yang membicarakan kehendak moral/umum Allah dan hanya memperhatikan kehendak kedaulatan Allah. Variasi yang kedua ini agaknya jarang kita jumpai. Variasi yang ketiga dan keempat, sebenarnya memiliki kemiripan dengan variasi pertama dan kedua, namun lebih halus sifatnya, yaitu: berusaha untuk mengharmoniskan tegangan tersebut dengan melakukan subordinasi kehendak Allah. Kemungkinannya adalah: meletakkan kehendak kedaulatan Allah di bawah kehendak moral Allah (variasi ketiga), atau meletakkan kehendak moral Allah di bawah kehendak kedaulatan Allah (variasi keempat).

Applikasi variasi 3: semua pengertian tentang kehendak kedaulatan Allah dibaca di bawah terang kehendak moral Allah, yaitu misalnya Allah memilih orang untuk diselamatkan (doktrin predestinasi), dapat dijelaskan dengan mengatakan bahwa Allah memilih karena Dia telah mengetahui akhirnya siapa yang mau bertobat siapa yang tidak. Berdasarkan pra-pengetahuan Allah ini, Ia menetapkan pemilihan-Nya atas siapa yang diselamatkan. Jalan ini misalnya diambil oleh theologi Arminianism. Kesulitan theology seperti ini adalah: kita sedang memisahkan pra-pengetahuan Allah (Gods forknowledge) dengan penetapan Allah (Gods forordain). Lagipula theology seperti ini berbenturan langsung dengan ayat Alkitab yang menyatakan: bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yoh 15:16). Pengertian pada variasi 3 ini berbenturan dengan penyataan Yesus Kristus karena jika Allah memilih manusia karena Dia mengetahui bahwa manusia tersebut pada akhirnya percaya kepada-Nya, maka ini berarti bukan Allah yang terlebih dahulu memilih manusia, melainkan manusia yang terlebih dahulu memilih Allah, sedangkan pilihan Allah adalah konsekuensi logis dari pilihan manusia. Melihat ketetapan Allah sebagai konsekuensi logis pilihan manusia adalah sebuah doktrin yang buruk karena tidak menghargai Allah sebagai Allah.

Applikasi variasi 4: semua pengertian tentang kehendak moral/umum Allah dibaca di bawah terang kehendak kedaulatan Allah. Contohnya seperti yang dikembangkan dalam pengertian anthropopathis seperti yang pernah kita jelaskan di posting yang lalu. Setiap pengertian Allah menyesal ditafsir di bawah terang ketidak-berubahan Allah (yang juga diajarkan oleh Alkitab). Atau dengan mengartikan semua kata semua dalam panggilan keselamatan Allah sebagai semua orang pilihan. Dalam pemahaman subordinasi ini, sama seperti pada variasi 3, selalu ada akibat penekanan pada yang satu dengan mengorbankan yang lain. Pada variasi 4 selalu ada kecenderungan untuk kurang peka terhadap Gods preceptive will. Penekanan akan Gods sovereign will at the expense of Gods preceptive will ini memiliki kecenderungan fatalisme atau Hyper-Calvinisme, kalau pun bukan secara theori (pada dasarnya orang tidak suka menyebut dirinya Hyper, apalagi menyebut diri fatalis J), maka secara praktis; kalau bukan consciously, subconsciously. Persoalan dari theology Reformed yang seperti ini adalah karena penekanannya yang tidak seimbang pada kehendak kedaulatan Allah, akan mengakibatkan suatu spiritualitas yang tidak peka terhadap kekurangan dan kelemahan.

Konsekuensi seperti ini sangat logis dan mudah untuk dijelaskan: ketika saya tidak memberikan tempat yang selayaknya untuk merenungkan Gods preceptive will, maka konsep penetapan Allah yang berkembang dalam pikiran saya lambat-laun akan berubah menjadi – pinjam istilah Van Tillian – determinasi impersonal. Doktrin lambat laun dimengerti sebagai rumusan-rumusan dan bukannya suatu ekspresi iman atau testimonia pergumulan dalam relasi pribadi dengan Allah (yang juga pribadi). Ketika kita membicarakan personalitas Allah, tidak mungkin tidak (atau kurang) membicarakan Gods preceptive will. Konsep determinasi belaka tidak membuat Reformed theology unik, karena determinasi juga banyak diterima dalam kepercayaan yang lain, juga dalam filsafat Yunani kuno. Keunikan Reformed theology justru karena memberikan warna personal yang sangat kuat dalam doktrin penetapan ini. Dan membicarakan personalitas Allah, sekali lagi, tidak bisa tanpa menekankan Gods preceptive will.

Kita masih berada di applikasi variasi 4. Tidak mengherankan jika ada orang menyebut diri Reformed tapi doanya suam-suam (doa toh tidak mengubah Tuhan), malas menginjili (Tuhan sudah menetapkan semuanya dan rencana Tuhan tidak ada yang gagal), kurang ada pergumulan dengan pribadi Allah (tidak ada waktu, sibuk menggumulkan rumusan logis doktrin-doktrin Reformed), menjadikan doktrin hanya sebatas pengetahuan yang tidak merubah hidup (mengapa mesti merubah hidup jika saya melihat doktrin atau pengetahuan akan Allah sebagai obyek seperti diajarkan nabi Descartes), sangat kurang dalam kerendahan hati (saya adalah orang pilihan [mengenai kamu saya agaknya kurang jelas]), dan …… (kita masih bisa terus memperpanjang kelemahan-kelemahan yang ada yang dapat ditimbulkan dari kecenderungan determinasi impersonal ini). Gambaran-gambaran di atas agaknya sangat karikatural, tapi saya percaya kita tidak kebal terhadap kelemahan-kelemahan tsb. A good Reformed theology always encourages self-criticism; otherwise it is unfaithful to the semper reformanda spirit. Pada intinya, theology pada variasi 4 ini sangat rentan terhadap kondisi status quo dengan mengatas-namakan (again, consciously or subconsciously) kehendak kedaulatan Allah. Status quo di sini bisa berupa ketidak-pekaan terhadap kelemahan Gereja/komunitas sendiri, ketidak-pekaan terhadap ketidak-sempurnaan pribadi, ketidak-pekaan terhadap perlunya pertumbuhan yang terus menerus, merasa diri cukup (dalam pengertian yang negative [self-satisfied]), tidak perlu merasa diperlengkapi oleh orang lain, tidak merasa perlu belajar dari orang lain, hanya mau mengajar orang lain dsb. Dampak theology seperti ini sebenarnya cukup menakutkan bagi spiritualitas kita, dan bagi saya pribadi, kelemahan kecil doctrinal seperti ini sebenarnya jauh lebih berbahaya daripada doktrin yang sangat kacau dari ajaran bidat. Karena kekacauan pada ajaran bidat langsung kita sadari, kelemahan kecil seperti ini sangat gampang menemukan tempat dalam hati dan pikiran kita. Di sini kita melihat jalan subordinasi merupakan pilihan yang tidak bijaksana – sekalipun tampak lebih logis dan lebih mudah dijelaskan – namun sebenarnya tidak memuat keseluruhan kekayaan Alkitab, yang sudah jelas tidak dapat dipaksakan ke dalam logika rasionalisme yang sangat terbatas kemampuannya.

Lalu bagaimana kita menjelaskan sifat paradoks dari Gods sovereign and preceptive will ini jika bukan dengan jalan subordinasi? Kembali kepada doktrin Kristus tentang dua natur, di situ kita tidak melihat paradox ini di-subordinasi. Tidak. Kita melihat kedua hal ini secara paradox tanpa perlu melakukan subordinasi. Apakah ada tension di sini? Harus kita akui: ya, ada.

– Apakah tension ini kontradiksi?
+ Tidak.
– Lalu apa?
+ Paradoks.
– Ah! Anda hanya main-main istilah saja.
+ Tidak, saya tidak sedang main-main istilah.
– Kalau begitu harus ada penjelasan, karena kita tidak mungkin kita berhenti dalam pemahaman ini bukan?
+ Ya, saya sependapat dengan apa yang Anda katakan. Jika kita kembali kepada doktrin Kristus, di situ kita membaca rumusan Chalcedon bahwa dua natur itu without confusion, without change, without division, without separation. Dan lagi: The distinction of the natures is in no way taken away by their union, but rather the distinctive properties of each nature are preserved. [Both natures] unite into one person and one hypostasis. They are not separated or divided into two persons but [they form] one and the same Son, Only-begotten, God, Word, Lord Jesus Christ, just as the prophets of old [have spoken] concerning him and as the Lord Jesus Christ himself has taught us and as the creed of the fathers has delivered to us.

Perhatikan bahwa sekalipun keduanya bersatu dalam Pribadi Kristus namun tidak bercampur. Keduanya berbeda, namun bukan keterpisahan, dengan kata lain: bukan kontradiksi.

– Tetapi dalam theology Lutheran diajarkan communicatio idiomatum, yaitu ada komunikasi di antara kedua properties/natur Kristus itu.
+ Anda benar, namun keunikan theology Reformed justru adalah mempertahankan ketidak-bercampuran kedua natur tersebut, sebagaimana dinyatakan dalam Chalcedon.
– Apakah itu tidak berarti keterpisahan?
+ Sama sekali tidak, itu justru mempertahankan keunikan masing-masing property/natur yang tidak boleh dicampur satu terhadap yang lain sehingga the distinctive properties of each nature are preserved. Prinsip ini dapat kita terapkan secara analog dalam pengertian Gods sovereign and preceptive will dan bukan tanpa alasan. Kita dapat melihat kehendak Allah sebagai kehendak Allah yang dinyatakan en Christo. Atau, jika Anda tidak menyukai pendekatan ini, ada pendekatan yang lain, yaitu: kedekatan antara sifat paradoks Gods sovereign and perceptive will dengan paradoks nature ilahi dan nature manusia Kristus yang dimengerti sebagai paradoks perspektif kekekalan dan perspektif kesementaraan.
– Hmm, saya bisa melihat kaitan keduanya, tapi Anda masih belum menjelaskan bagaimana kita harus MENGHAYATI PARADOKS TERSEBUT!
+ Sabar, orang sabar dikasihi Tuhan. Dan, kalau boleh jangan sering-sering pakai huruf capital seperti di atas itu, meskipun mata saya minus, tapi saya bisa membaca cukup jelas tulisan dng huruf kecil, dan Anda pakai tanda seru lagi. Tolong consider jantung saya …..
– Satu lagi, saya agaknya kurang puas dengan pendekatan historical theology saja. Saya perlu dukungan dari Alkitab, karena saya pemegang prinsip SOLA SCRIPTURA! Maaf …. sola scriptura, maksud saya.
+ Jika kita merenungkan Alkitab, di situ kita melihat bagaimana kedua natur Kristus itu bukan dijelaskan dalam subordinasi, melainkan diperlihatkan dalam waktu yang bergantian. Ketika Dia lapar, kita menyaksikan natur manusia-Nya, sementara natur ilahi-Nya seolah terselubung, tidak nampak pada waktu itu. Sementara pada saat yang lain, ketika Dia mendemonstrasikan kuasa mujizat-Nya, yang mencapai puncak pada peristiwa kebangkitan-Nya, kita menyaksikan dengan jelas natur keilahian-Nya, natur manusia seolah berada di belakang. Alkitab menyatakan kedua perspektif ini secara bergantian dalam satu Pribadi Kristus. Hal yang sama dapat kita pelajari juga berkenaan dengan kehendak kedaulatan Allah dan kehendak moral Allah. Alkitab menyatakannya dengan bergantian. Ada waktu untuk perspektif kehendak kedaulatan Allah, ada waktu untuk kehendak moral Allah.
– Mengapa harus demikian? Mengapa tidak sekaligus saja? Dalam waktu yang sama?
+ Karena kita masih berada dalam kesementaraan dalam batasan ruang dan waktu. Jika Anda mempunyai satu coin dengan dua sisi, Anda tidak dapat melihat kedua sisi itu secara sekaligus pada waktu yang sama dan tempat yang sama. Anda harus berpindah posisi untuk melihat sisi yang satunya, dan ketika Anda berpindah posisi, Anda membutuhkan waktu yang lain. Inilah keterbatasan kita sebagai manusia yang harus kita terima. Kecuali …
– Kecuali apa?
+ Kecuali Anda mau menjadi seperti Allah (Kej 3:5) yang dapat melihat semua perspektif secara sekaligus, tanpa membutuhkan waktu dan tanpa perlu berpindah tempat.
– Hmm … bad recommendation! Jadi saya harus menerima keterbatasan itu, yang hanya bisa melihat satu perspektif saja pada suatu waktu tertentu?
+ Jika Anda masih mengakui keterciptaan Anda, demikianlah halnya.
– Lalu bagaimana dengan perspektif yang lain?
+ Allah akan menyediakan saat/waktu yang lain. Itulah keindahan perjalanan kehidupan kita mengikut Tuhan, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa. Dapatkah Anda menangis sekaligus tertawa?
– Hmmm …. itu gendeng bin edan namanya!
+ Karena itu paradoks tidak dapat ditampung dalam satu waktu sekaligus. Perhatikan bahwa Sang Pengkhotbah menyelesaikan paradoxical tension itu pada waktunya masing-masing. Dan kalau kita mengaitkannya dengan ayat ke-11 di situ dikatakan bahwa Ia (Allah) membuat segala sesuatu indah pada waktunya (waktu-Nya). Di dalam bahasa aslinya kita dapat menerjemahkan dgn pada waktunya ataupun waktu-Nya. Kedua macam terjemahan itu saling melengkapi sebenarnya. Indah pada waktunya berarti setiap waktu itu, entah waktu dukacita, entah waktu sukacita, entah waktu merobek atau waktu menjahit, setiap waktu itu indah pada waktunya masing-masing, dan ini karena waktu itu adalah waktu-Nya (Gods appointed time). Setiap waktu kita menyelami perspektif tunggal, sekalipun hanya satu perspektif adalah waktu yang indah jika itu dikaitkan dengan kairos yang dari Allah. Kita tidak perlu serakah dengan keseluruhan perspektif dalam suatu waktu sekaligus, karena itu hanya membuktikan bahwa kita tidak peka dengan kairos yang dikehendaki Allah.

Ada waktu, ada saat saya menyoroti kehidupan saya dari perspektif kedaulatan Allah: di situ saya terhibur karena tahu dengan pasti Allah memelihara hidup saya dengan setia, bahkan di dalam kegagalan pun saya tidak perlu berputus asa dan tidak lagi berpengharapan karena segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi saya. Saya tidak perlu panik jika saya tidak segera menyaksikan pertumbuhan dalam diri orang lain, karena Allah yang mengatur semuanya itu, saya tidak perlu berusaha menolong Allah karena saya tahu rencana Allah tidak mungkin ada yang gagal.

Ada waktu saya menyoroti kehidupan saya dari perspektif kehendak moral Allah: saya harus bergumul untuk mencari wajah Allah, bergumul tidak melepaskan Allah kecuali Dia memberkati saya, menegur diri dan menyesal ketika kegagalan dan kejatuhan rohani menimpa hidup saya, ketakutan jika Allah tidak lagi hadir dalam kehadiran-Nya yang memberkati, bergumul untuk mendapatkan kepenuhan Roh Kudus agar kesaksian hidup kita berkuasa dan bukan digerakkan oleh kedagingan.

– Apakah ini tidak berbenturan dengan kehendak kedaulatan Allah?
+ Sama sekali tidak, justru menyatakan kelincahan bergerak dalam perspektif yang berbeda-beda dan terutama: kelincahan peka akan saat-Nya. Di dalam hal ini kita harus puas diri jika kita menyampaikan message kepada orang lain hanya satu sisi saja, asalkan itu adalah saat-Nya. Justru keliru jika di dalam khotbah misalnya, kita selalu mengatakan: di satu sisi …. di sisi yang lain … Dialektika paradoks dalam khotbah adalah theori homiletik yang buruk, karena pada dasarnya tidak mempercayai kairos Allah. Kita harus puas dengan pemberitaan yang one-sided seperti ini, asalkan, ada saat yang lain untuk menyatakan sisi yang satunya. Ini juga bedanya penyampaian message seperti terjadi dalam khotbah dengan pengajaran dalam kelas. Dalam kelas kita boleh mengajarkan sebisa mungkin kekayaan perspektif, namun dalam renungan tidak, kita harus puas dengan message yang dipercayakan Tuhan pada saat itu.
– Lalu bagaimana jika orang menuduh saya one-sided dan menganggap saya kurang kompleks pikirannya?
+ Tidak ada panggilan bagi kita untuk membuktikan bahwa pikiran kita kompleks. Kecenderungan seperti itu jangan-jangan timbul dari dosa kecongkakan.
– Bagaimana jika orang langsung menanggapi message yang saya sampaikan dengan menyajikan sisi paradoks yang lain? Ini akan mempermalukan saya bukan?
+ Kita juga tidak dipanggil untuk mencari kehormatan bagi diri sendiri, melainkan untuk memiliki hati yang luas yang dapat menerima kelimpahan pekerjaan Tuhan yg juga dinyatakan melalui diri orang lain yang dipakai-Nya, asalkan: orang tersebut juga mengetahui saat-Nya. Kita perlu dengan rendah hati belajar bahwa saya tidak memainkan seluruh orchestra seorang diri, melainkan bersama dengan anggota tubuh Kristus yang lain kita menyaksikan keindahan simfoni kemuliaan Allah dalam dunia ini. God is our great Conductor, we are His musicians.

Someone who is playing puzzle, with a hope to see bigger picture day by day :)
Billy Kristanto

One thought on “Menghayati Paradoks dalam Kehidupan Kristen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *