Renungan (Rut 1:17)

… di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut! (Rut 1:17).

Ayat ini biasa diucapkan dalam janji nikah bukan? Tapi coba perhatikan, konteks aslinya ternyata bukan dalam hubungan antara suami dan isteri melainkan antara dua perempuan: hubungan mertua perempuan dengan menantunya perempuan. Alangkah sentimentalnya perkataan ini, demikian pendapat beberapa orang. Namun, bicara tentang sentimental, sebenarnya kalimat dari Orpa juga cukup sentimental: “Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu” (ayat 10). Sampai pada ayat ini kedua-dua menantu Naomi sama-sama memiliki solidaritas untuk tetap mau tinggal bersama dengannya. Lalu mengapa akhirnya Orpa meninggalkan Naomi juga? Orpa meninggalkan Naomi setelah Naomi mengucapkan satu kalimat fatal yang tidak mungkin bisa dipahami oleh Orpa: “… bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?” (ayat 13). Apalagi yang akan mengikat Orpa untuk tetap tinggal bersama dengan mertuanya? Mertuanya sendiri berpendapat bahwa TUHAN sedang berperang melawan dia! Dan justru di sinilah letak perbedaan Orpa dan Rut.

Baik Orpa maupun Rut sama-sama mengatakan bahwa mereka akan ikut pulang dengan Naomi kepada bangsanya (Israel). Solidaritas Orpa hanya berada pada batas solidaritas kebangsaan. Namun ini saja tidak cukup. Berbeda dengan Orpa, Rut bukan hanya mengatakan “bangsamulah bangsaku,” melainkan juga “Allahmulah Allahku” (ayat 16). Agaknya selama ini Rut bukan hanya merasakan kebersamaan dengan keluarga Naomi, melainkan terutama ia dengan diam-diam mempelajari iman mereka. Ia adalah seorang Moab, yang seharusnya beribadah kepada Allah yang lain. Namun selama ia tinggal bersama, iman kepada Allah yang sejati itu berakar dan bertumbuh. Iman kepada Allah yang sejati inilah yang memampukan Rut untuk tetap berpaut pada Naomi. Sanggup berpaut kepada orang yang kita kasihi karena kita terlebih dahulu berpaut kepada Allah. Inilah bedanya dengan sekedar keberpautan humanis dengan solidaritasnya yang tidak sanggup bertahan lama.

Rut tahu dengan jelas bahwa ia tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi dari Naomi. Naomi sendiri merupakan seseorang yang tidak suka untuk membebani orang lain. Ia lebih suka menolong dan melayani. Namun sebenarnya, bukankah juga ada saat untuk dilayani dan ditolong? Mengapa Naomi selalu memerankan posisi penolong? Selalu mengambil peran seperti ini bisa membawa kita kepada paranoia keputus-asaan tidak lagi berguna bagi orang lain. Kita tidak dipanggil untuk menjalankan cerita heroik seperti itu. Justru dalam cerita ini, Rutlah yang akan menolong Naomi. Naomi tidak perlu melahirkan anak laki-laki lagi untuk menjadi suami Rut karena itu bukan bagian Naomi, itu adalah bagian Tuhan, entah dengan atau tanpa Naomi. Tuhan sebenarnya sedang bekerja untuk menghibur kepahitan Naomi melalui menantunya yang mengenal Tuhan jauh lebih kemudian dari pada Naomi. Tuhan sedang mempersiapkan Rut untuk merawat Naomi.

Bukan hanya tidak mengharapkan apa-apa lagi, Rut justru bersedia untuk hidup berkorban bagi Naomi. Yang Rut sekarang dampingi adalah seorang perempuan yang tidak lagi berdaya, ya, yang mungkin hanya bisa menjadi beban baginya tapi Rut tidak keberatan dengan itu. Rut tahu bahwa Naomi sedang berjalan menuju kepada kematian dan liang kubur dan Rut bersedia untuk menyertai perjalanan menuju ke liang kubur itu: “di mana engkau mati, akupun mati di sana.” Rut bukanlah seorang oportunis yang hanya mau menyertai orang lain karena mendapatkan keuntungan atau manfaat. Rut menjadi gambaran dari Yesus Kristus yang rela mengalami kematian yang seharusnya kita alami. Yesus mendampingi perjalanan kita menuju kematian. Kita dipanggil untuk menjadi pendamping seperti Yesus, seperti Rut, yang mendampingi sesama kita berjalan menuju kepada kehancuran dan kematian, bukan karena keuntungan. Karena itu tidak salah menggunakan ayat ini dalam konteks pernikahan suami-isteri karena janji pernikahan juga berjanji untuk mengiringi yang kita kasihi menuju kepada kematian, bukan sekedar keberhasilan dan kesuksesan. Kiranya Tuhan mengaruniakan kepada kita hati yang berkorban seperti Rut, seperti Kristus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *