Elia, Elisa, dan janda miskin

Bacaan: 2 Raja-Raja 4:1-7, 1 Raja-Raja 17:7-16

Ini satu bagian yang sengaja kita baca secara paralel. Saya percaya ada kaitan antara pelayanan Elia dan Elisa. Alkitab menyoroti Elisa sebagai penerus Elia. Yang disebut penerus bisa bermacam-macam, ada pandangan tertentu yang berpendapat bahwa penerus memiliki relics (jubah, atau mungkin barang-barang lain seperti tongkat, dll). Tapi Elisa bukan model penerus yang seperti ini, ia mengerti apa yang Elia ajarkan dan yang terutama: dia mengenal Allah yang dipercaya oleh Elia. Di dalam hal ini Elisa berbeda dengan gerombolan para nabi yang disebut dalam bagian cerita ini, dimana salah satu istri mereka menjadi janda. Gerombolan para nabi yang ikut Elia sepertinya sangat setia kepada Elia, namun mereka tidak pernah benar-benar mengerti Allah yang digumulkan dan yang dipercaya oleh Elia. Mereka mungkin saja -tahu- kutipan-kutipan atau -konfesi-konfesi- atau -katekismus-katekismus-, kalimat2 Elia tapi tidak betul-betul mengenal Allah yang dipercaya oleh Elia. Elisa adalah seorang yang sungguh-sungguh meneruskan pekerjaan Elia. Ada banyak kemiripan yang kita akan coba bandingkan satu persatu. Di dalam bagian ini kita juga melihat Elisa benar- benar mengerti pekerjaan Tuhan yang dinyatakan dalam kehidupan Elia. Kita paling kuatir dengan jenis orang-orang Reformed yang mengerti banyak doktrin penting, tetapi sebenarnya kurang mengenal Allah. Allah adalah the first source, sedangkan katekismus & konfesi adalah the second source. Dalam bagian ini, kita melihat bagaimana Elisa yang dipanggil dan dipersiapkan Tuhan meneruskan pekerjaan Elia, ada kemiripan di dalam pekerjaan Tuhan yang dinyatakan dalam dirinya.

Di pasal 17:1 kita membaca satu kalimat penghakiman yang diberikan Elia kepada Ahab. Ahab adalah seorang raja yang mempunyai isteri yang melawan Tuhan. Elia dengan otoritas dari Tuhan dengan berani menegur Ahab. Dalam 2 Raja-Raja 3 kita melihat Elisa berurusan dengan Yoram, raja Moab. Elisa menegur Yoram dengan keras dan dia mempersamakan Yoram seperti Ahab, meskipun dikatakan kejahatan Yoram tidak seperti Ahab. Dalam 2 Raja-Raja 3:2 dicatat ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, tetapi bukan seperti ayah dan ibunya. Yoram menjauhkan tugu berhala baal yang didirikan ayahnya. Sedikit lebih baik dari Ahab, tapi tidak cukup baik, karena Alkitab menyatakan dia melakukan apa yang jahat di hadapan Tuhan. Elisa sangat tidak hormat dan tidak suka berurusan dengan Yoram. Dia mengatakan jika bukan karena Yosafat, raja yang dia hargai, ia tidak mau berurusan dengan Yoram yang tidak menghargai Tuhan. Elisa dengan berani memberikan satu teguran keras kepada Yoram (anak Ahab) seperti Elia dengan berani memberikan teguran keras kepada Ahab. Baik Elia maupun Elisa memberikan satu teguran dengan otoritas dari Tuhan.

Yang menarik perikop ini diawali dengan menegur raja yang berkuasa lalu kita melihat bagaimana Tuhan menyiapkan mereka melayani orang-orang yang miskin. Ini satu point penting yang bisa kita pelajari dari Elia dan Elisa. Mereka bukan hanya berurusan atau berani menegur orang-orang yang berkuasa, itu hanya satu aspek dalam kehidupan pelayanan mereka. Tuhan juga mengarahkan mereka untuk memperhatikan orang-orang sederhana dan miskin. Janda dalam PL identik dengan orang-orang miskin dan tersingkir, sering diperalat dan dimanipulasi karena mereka tidak bisa bayar hutang seperti yang tertulis di 2 Raja-Raja 4. Pada jaman itu orang-orang boleh mengambil anak-anaknya sampai dia bisa membayar hutangnya. Namun seringkali hukum tersebut disalahgunakan, anaknya ditangkap dan tidak dikembalikan lagi. Memang lebih mudah memanipulasi orang yang tidak mempunyai kuasa. Elia dan Elisa tidak melakukan hal tersebut, mereka melayani dan menegur dengan berani orang-orang yang berkuasa seperti Ahab dan Yoram, namun mereka juga memperhatikan orang-orang yang miskin/sederhana/kecil. Kalau di dalam kehidupan kita hanya memperhatikan orang-orang yang besar, kurang memperhatikan orang-orang yang kecil, saya kira Tuhan tidak berkenan di dalam kehidupan kita. Bagi Elia dan Elisa, pelayanan itu sendiri juga merupakan satu pembentukan yang terjadi di dalam diri dan kehidupan mereka.

Elisa mengatakan bahwa ia tidak bisa bernubuat karena melihat muka Yoram dia sudah jengkel sekali. Kita melihat Alkitab menghindari gambaran hagiographical (hagios + graphe), yaitu menyatakan para tokoh sebagai orang kudus yang tidak ada kelemahannya sama sekali. Dalam bagian ini dikatakan Elisa muak melihat muka Yoram. Elisa memanggil orang untuk main musik untuk mempersiapkan dia sehingga dia bebas dari kedagingannya. Kalau dia tidak bebas dari kedagingannya, dia bisa memberitakan hal yang bukan dari Tuhan tapi dari kedagingannya sendiri, misalnya kalimat-kalimat yang menusuk dan tidak mengenakkan didengar Yoram dan mengatakan yang baik-baik untuk Yosafat. Elisa sadar akan kelemahannya oleh sebab itu dia minta orang main musik dulu supaya ia dibersihkan dari emosi yang jahat. Tak ada gambaran Elisa yang tidak ada kelemahan, surat Yakobus menegaskan bahwa Elia adalah orang biasa, bukan orang luar biasa. Kalau Elia dan Elisa adalah orang biasa, apalagi saudara dan saya, itu lebih biasa lagi. Tak ada tempat untuk menggambarkan manusia sedemikan besar sehingga kita tidak bisa melihat kemuliaan Tuhan.

Selain mencatat kelemahan Elisa, Alkitab juga mencatat banyak kelebihannya yang bisa kita pelajari, khususnya bagaimana dia benar-benar teruji di dalam meneruskan pelayanan Elia. Elia melayani orang besar, berani menegur orang besar dan juga penuh belas kasihan kepada orang-orang kecil. Demikian juga Elisa, ia tidak merasa rendah diri ketika melayani orang besar dan ia berbelas kasihan terhadap orang-orang kecil. Ujian integritas/keluasan hati kita bukan hanya bergaul dengan orang-orang yang kita senang, karena ini kekanak-kanakan. Tetapi bagaimana kita bisa bergaul dengan berbagai jenis orang, termasuk trouble maker yang bicaranya selalu menyakitkan hati. Elia dan Elisa dipersiapkan Tuhan untuk melayani segala macam jenis orang. Sebagai manusia lemah, kita lebih suka menghormati orang-orang yang dianggap dunia itu besar. Sayangnya mereka sering tidak menghargai apa yang dihargai Tuhan. Saat Elia datang kepada janda itu, ia bukan hanya menolong janda miskin itu saja, tetapi dia sendiri juga membutuhkan pemeliharaan Tuhan. Bagi saya ini satu point menarik karena hamba Tuhan sekaliber Elia diberi makan oleh seorang perempuan, janda dan miskin tinggal di daerah Sarfat (daerah yang di dominasi oleh orang-orang yang menyembah dewa-dewa Kanaan). Elia disuruh Tuhan ke sana bukan untuk melayani tapi untuk minta makan. Untuk hamba Tuhan yang sekaliber dia, ini seperti humiliasi. Sulit bagi kita untuk harus minta tolong dan melihat bagaimana Tuhan menyediakan melalui orang-orang yang seharusnya ditolong. Tuhan sering menghadirkan di dalam kehidupan kita gambaran yang sama sekali lain. Tetapi Tuhan mengetahui dengan pasti siapa yang dilayani oleh Elia dan siapa yang bisa melayani Elia. Kalau kita baca di bagian ini, meskipun dia hidup di antara bangsa kafir, dalam ayat 12 dikatakan “Demi Tuhan, Allahmu yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun…” Artinya dia menghargai Tuhan, meski mungkin ia tidak mengenalnya secara personal. Tapi ia mengatakan bahwa ketika YHWH yang diberitakan Elia berkata tidak ada hujan, maka benar-benar tidak ada hujan. Orang-orang yang tinggal di sekitar Israel juga tidak mendapat hujan, bukan hanya Israel tapi di sekelilingnya juga. Elia adalah seorang hamba Tuhan yang unik karena saat dia memberitakan penghakiman, dia sendiri juga harus belajar mengalami hukuman yang diberikan Tuhan terhadap bangsa Israel. Tidak ada perkecualian khusus. Memang ia dipelihara Tuhan di sungai Kerit, tapi Elia tidak mendapat hujan khusus di dalam hidupnya, bahkan sampai suatu saat sungai itu juga menjadi kering. Bukan hanya Tuhan memberikan hukuman kepada Ahab, lalu Elia bebas dan mendapat hujan. Waktu dikatakan tidak ada air, Elia juga mengalaminya. Waktu sungai Kerit mulai kering, Tuhan juga mau mendidik Elia bahwa kekeringan ini juga harus kamu alami, jadi bukan hanya bangsa Israel yang mengalami hukuman. Kadang di dalam kehidupan kita mencoba menutupi guilty feeling kita dengan berdoa untuk orang-orang miskin. Selebihnya bersyukur untuk diri sendiri. Atau seperti para selebriti yang mengadakan konser amal untuk menolong orang-orang miskin, pergi ke tempat-tempat korban bencana, sepertinya menolong orang miskin namun sendiri hidupnya berfoya-foya. Ini adalah hidup yang munafik, tidak benar-benar mengasihi orang miskin. Elia bukan seperti itu. Elia harus datang kepada janda miskin itu bukan karena di sana ada hujan, tapi karena dia harus belajar satu pembentukan Tuhan yang lain. Elia sendiri perlu makan, butuh pemeliharaan Tuhan dari janda miskin ini.

Berbeda dengan kasus Elia, Elisa tidak ada persoalan dengan belajar rendah hati dan dilayani oleh janda miskin tapi ia ada pergumulan lain. Dalam 2 Raja-Raja 4 dikatakan isteri ini adalah salah seorang dari isteri para nabi, yaitu nabi yang menjengkelkan Elisa. Ketika Elia mau terangkat ke sorga lalu sons of the prophets berkata, “Tahukah kamu kalau hari ini tuanmu akan terangkat?” Elisa menjawab, “Saya juga tahu, diamlah.” Ini kelihatan tidak sopan dan mungkin ada di antara sons of thekprophets yang lebih tua dari dia. Ada seperti perasaan menghina dari Elisa karena memang dia kurang hormat terhadap sons of the prophets. Ini tipe hamba Tuhan yang susah hormat kepada orang kecuali kepada orang yang betul-betul layak dihormati. Ini menyatakan kejujurannya, ia tidak basa-basi. Termasuk ketika ia bicara pada Yoram, “Apa urusanmu dengan saya? Kamu kembali saja sekalian ke dewa ayahmu.” Kalimat yang luar biasa kasar dari Elisa, mungkin Elia tidak sekasar ini. Ini pembentukan Tuhan yang mau dilakukan di dalam kehidupannya. Tuhan sekarang menampilkan istri dari sons of the prop(ets. Kalaupun Elisa tidak menghargai sons of the prophets, dia tetap perlu dibentuk Tuhan untuk punya kepekaan membeda-bedakan orang. Dalam kehidupan kita juga seringkali borongan, kalau marah semua kena. Sebenarnya marahnya pada satu orang, tapi karena tidak bisa melampiaskannya, maka yang kena orang lain. Elisa bukan hamba Tuhan yang seperti ini, dia peka. Mungkin yang hutang adalah suaminya, mungkin karena terlalu sering ikut Elia sampai lupa perhatikan keluarga. Begitu Elia terangkat ke sorga, Elisa langsung meneruskan pekerjaan Elia tetapi sons of the prophets (gerombolan nabi) pergi mencari Elia dan berpikir jangan-jangan Tuhan memindahkan Elia dari gunung sini ke gunung sana (padahal Elia bukan jumper :). Elisa sudah berkata tidak perlu dicari karena Elia sudah terangkat ke sorga, tetapi mereka tetap bersikeras karena terlalu -setia- kepada Elia, the great man. Elisa membiarkan mereka mencari dan akhirnya karena tidak menemukannya, lalu mereka kembali lagi kepada Elisa. Kadang orang belajar melalui kesalahan. Tuhan yang sudah terus menerus memberitahukan kita, tapi kita tidak mau rendah hati, maka kita dibiarkan jatuh dan sakit tapi akhirnya kita belajar sesuatu. Di dalam bagian ini, pergumulan Elisa adalah belajar membedakan orang karena dia tidak mudah hormat pada orang lain. Sekarang dia dilatih untuk compassionate dengan istri dari para nabi yang dia sulit hormati.

Kembali kepada cerita Elia, Elia ada kebutuhan dari dirinya sendiri. Tuhan mendidik dia untuk bicara kepada orang dengan otoritas Tuhan. Pertama, minta air (ini bukan hal gampang karena masa paceklik), lalu minta lagi roti bundar yang kecil (ini juga sulit sekali karena yang ada hanya cukup untuk janda itu dan anaknya, setelah makan akan mati. Pergumulan yang sulit untuk mau taat kepada Tuhan. Saya tertarik dengan prinsip ini karena ada kemiripan jika dibandingkan dengan cerita Elisa. Elisa tidak minta makan, tapi dia bertanya pertanyaan yang mirip dengan prinsip yang paralel dengan Elia. Kalau Elia menguji iman janda dengan mendahulukan orang lain dan belajar memberi di dalam kekurangan, sedangkan Elisa bertanya apa yang kau punya di dalam rumah janda tsb. Ini pertanyaan yang sangat penting. Karena orang miskin biasanya selalu bilang tidak punya apa-apa. Semiskin-miskinnya dan sekurang-kurangnya, kalau Tuhan tanya kamu ada apa dan engkau menjawab tak ada apa-apa, maka kamu tak usah ada apa-apa lagi. Ini prinsip firman Tuhan. Mereka yang punya banyak, Tuhan akan memberikan lebih banyak lagi. Punya banyak bukan artinya kaya tapi setia mengelola apa yang sudah Tuhan berikan, Tuhan akan tambahkan lebih banyak lagi. Alkitab mencatat kalau engkau tak punya apa-apa (tidak setia) maka tidak perlu diberi lagi. Sepertinya kejam, tapi ini prinsip firman Tuhan. Tak ada orang yang tak punya apa-apa! Waktu janda tersebut ditanya apa yang kamu miliki di dalam rumah, seandainya dia berbohong untuk menimbulkan belas kasihan yang lebih besar dari hamba Tuhan ini, mungkin Elisa akan tinggalkan dia karena Elisa paling tidak bisa ditipu dan dipermainkan oleh kebohongan-kebohongan. Paling sedikit ada satu talenta, paling sedikit harus ada berkat Tuhan, tidak ada orang yang tidak ada berkat Tuhan. Di sini ujiannya, yaitu bagaimana dia masih bisa bersyukur melihat anugerah Tuhan meskipun kecil. Orang yang tidak bisa melihat anugerah Tuhan, ia tidak layak mendapat pertolongan Tuhan. Orang yang tidak bisa melihat anugerah Tuhan meski yang kecil, waktu Tuhan memberikan yang besar, dia pasti lupa akan anugerah Tuhan. Ini ujian sederhana. Jika hal kecil tidak bisa bersyukur, waktu besar juga lupa. Jangan katakan waktu kecil kurang, nanti kalau sudah besar saya baru bisa melayani, baru bisa bersyukur, baru ada waktu beribadah, setia, dsbnya. Ini adalah omong kosong yg sudah basi! Tidak ada kenyataan seperti ini di dalam kehidupan. Mereka yang tidak setia dalam perkara kecil, mereka tidak setia di dalam perkara besar. Tidak ada prinsip di dalam firman Tuhan yang berkata mereka tidak bisa setia di dalam perkara kecil karena mereka hanya bisa setia di dalam perkara besar. Tidak ada prinsip seperti itu di dalam Alkitab.

Elisa mau menguji kejujuran dan terutama kepekaan orang yang miskin ini apakah bisa melihat anugerah Tuhan yang cukup. Ternyata dia jujur dan berkata hanya ada satu buli-buli berisi minyak. Kita pernah membahas tentang orang yang buta yang miskin di Yerikho. Waktu Tuhan Yesus bertanya apakah yang engkau kehendaki supaya aku perbuat bagimu. Dia bicara supaya aku bisa melihat. Dengan kata lain, dia mengakui kebutaannya dan mau bisa melihat, itu seperti dibongkar kelemahannya di tengah-tengah orang banyak yang mengelilinginya. Tidak semua orang secara otomatis akan berkata demikian. Pointnya dari Yesus adalah: tahukah kelemahan dan kebutuhanmu? Apakah kamu mengenal diri dengan tepat? Sama seperti pertanyaan Elia kepada janda miskin yang hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak untuk menggoreng, ia mengakui kemiskinannya. Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, karena mereka memiliki kerajaan Allah. Seringkali di dalam kemiskinan dan kekurangan justru kita lebih bergantung kepada Tuhan, lebih rendah hati, lebih siap untuk receptive terhadap pertolongan dan anugerah. Ini bukan jaminan, karena ada orang miskin yang sombongnya luar biasa dan tidak mau ditolong orang lain. Bukan hanya orang kaya yang bisa arogan, tapi orang miskin juga bisa. Berbahagia orang yang mengenal kekurangannya dan kemiskinannya di hadapan Allah (miskin rohani bukan miskin financial, karena finansial tidak menentukan apa-apa). Kita bukan memuliakan kemiskinan atau kekurangan dari perspektif teologi reformed seolah-olah kemiskinan dan kekurangan selalu lebih baik dari kekayaan, bukan demikian! Alkitab memberitakan seperti orang yang buta miskin diterima Tuhan dan ada orang kaya yg dibuang Tuhan. Dia meninggalkan Yesus Kristus karena terlalu mencintai kekayaannya, akhirnya terbuang. Namun Zakheus yg kaya diterima Tuhan. Jadi, bukan kaya atau miskin yg membuat seseorang bertumbuh, melainkan respon yang dinyatakan di hadapan Tuhan, entah kaya atau miskin.

Demikian di dalam diri 2 orang ini, baik janda pertama maupun kedua, mereka berespon dengan benar. Mereka tahu bagaimana menjadikan kekurangan dan kemiskinan mereka sebagai satu keadaan yang kondusif untuk receptive terhadap pekerjaan Tuhan yang mau dinyatakan di dalam kehidupan mereka. Ini yang membuat mereka diperkenan Tuhan, bukan karena mereka miskin/kaya. Di dalam bagian ini Elia mengajar satu point yang berbeda dengan Elisa. Kalau Elisa mempertanyakan apakah yang kamu punya di dalam rumahmu. Sedangkan Elia mengajar janda ini bagaimana bersikap saat kekurangan. Cara paling cepat untuk mendidik orang kekurangan yaitu mendorong dia memberi di dalam kekurangannya. Sama halnya seperti orang miskin ini, pasti berat sekali, sudah dikatakan mau mati, masih diminta lagi. Tapi dia taat dan membuat dulu untuk Elia. Hanya Tuhan yang begitu peka akan takaran iman seseorang. Kalau saudara baca dalam cerita Elia, ada God-s promise, satu encouragement sedangkan di dalam Elisa, tidak ada God-s promise (hanya ada perintah). Satu sisi dididik untuk memberi di dalam kekurangannya, sisi lain juga di-encourage karena Tuhan nanti akan menyediakan kalau kamu mau percaya. Dalam cerita Elisa hanya ada perintah, yaitu ia harus pinjam buli-buli dari para tetangga dan jangan sedikit. Ini satu penyangkalan diri yang tidak kalah sulit dibanding dengan janda yang dilayani Elia. Janda pertama diajar untuk self-denial dan mendahulukan orang lain di dalam kekurangannya sedangkan janda kedua yang dilayani Elisa dibentuk bagaimana keluar dari comfort zone. Kita boleh membayangkan orang di zaman dulu hidup di dalam satu keadaan saling mengenal. Tetangga dari janda ini pasti tahu bahwa ia hidup dalam kekurangan, tapi ia tidak ditolong oleh tetangganya. Sekarang Elisa minta ia pinjam buli-buli dari mereka, janda itu bisa saja berkata bahwa ia sudah pernah ditolak. Kalau mau memberi mengapa tidak sekalian dengan buli-bulinya? Kita melihat ada pembentukan yang ingin Tuhan kerjakan di dalam diri janda miskin yang dilayani Elisa. Dia harus responsible atas kekurangannya, tidak bisa semua diserahkan dan bergantung kepada belas kasihan Tuhan. Ada bagian yang harus dia kerjakan. Ada perbedaaan antara janda pertama dengan janda kedua. Kedua-duanya mengalami pemeliharaan Tuhan saat mereka taat dan Tuhan benar-benar menyediakan tak habis-habisnya.

Kalau kita melihat janda pertama yang dilayani Elia, dia miskin karena kekeringan. Janda kedua miskin karena hutang (kita tidak tahu siapa yang hutang, mungkin suaminya, mungkin dia juga ada andilnya, Alkitab tidak menjelaskan bagian ini). Yang satu miskin karena hutang jadi dia harus responsible. Tapi janda pertama tidak perlu pendidikan responsible karena dia miskin akibat kekeringan. Keduanya akhirnya tidak mengalami kekurangan. Janda pertama akan terus ada/lipat ganda sampai Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi. Tuhan tanggung jawab persis sampai kepada titik itu, tidak lebih. Tetapi janda kedua yang dilayani Elisa, sampai semua buli-buli penuh, tergantung kepada tanggung jawab dia. Janda pertama lebih berurusan dengan kedaulatan Allah karena Tuhan yang menghukum dan Tuhan menyediakan di dalam kedaulatanNya, dsbnya. Sedangkan janda kedua sepertinya lebih tergantung imannya. Armenianism? Pentakosta? Saya pikir bukan, kita percaya teologi reformed setia kepada Alkitab, yg mencakup kedua aspek ini. Di dalam teologi reformed, kalau saudara hanya menekankan kedaulatan Allah dan tidak bisa melihat aspek ini, saudara tidak setia kepada firman Tuhan. Tuhan memberikan berkat dan takaran sesuai dengan tanggung jawab dan imanmu. Ini tidak menyalahi sola gratia. Sebab dia bisa berimanpun karena anugerah Tuhan. Seandainya janda kedua ini sungkan, ada pride dan malas ditolak, maka mungkin dia hanya meminjam sedikit buli-buli saja. Tuhan memberkati sebatas itu. Sayang sekali bukan? Namun akhirnya, dalam cerita ini tidak demikian. Minyak itu dijual dan cukup untuk membayar hutangnya, mungkin juga ada lebih.

Point yang lain lagi yang kita belajar di sini baik janda pertama maupun kedua, ada batas di dalam berkat yang diterima, bukan selama-lamanya. Di dalam janda pertama, pemeliharaan Tuhan cukup sampai Tuhan memberikan hujan. Selanjutnya dia harus bertanggung jawab. Kepada janda kedua sebatas buli-buli yg dia pinjam. Kita tidak bisa mendapatkan berkat Tuhan terus menerus tanpa batas karena kita tidak mampu menampungnya. Buli-buli itu menunjukkan kesiapan dia menampung berkat Tuhan sebenarnya. Semakin besar berkat yang kita minta, kita harus sadar ada -cawan pahit- yang harus ditanggung seperti yang dikatakan Yesus Kristus. Buli-buli seperti suatu symbol takaran seseorang bisa menampung berkat Tuhan, cukup dan tidak berlebih-lebihan. Suatu saat minyaknya habis, ia harus belajar bergantung pada tuhan, bukan pada Elisa.

Ada 2 ekstrim orang di dalam kehidupan Kristen, yaitu: Pertama, tidak mau diajar orang lain tapi beranggapan Roh Kudus langsung memimpin saya, ini tidak salah tapi hanya benar setengah. Jenis kedua, terus belajar dari orang/perantaraan tapi tidak pernah ada direct akses kepada Tuhan yang berkuasa. Saya percaya salah satu pembentukan yang sulit terjadi dalam kehidupan Elisa adalah saat Elia sudah pergi, dia harus belajar bergantung pada Tuhan, Allah-nya Elia. Saya rindu di dalam kehidupan, kita bisa lincah saat Tuhan membentuk kita melalui berbagai peristiwa. Ada saatnya Tuhan memerintahkan kita untuk mencari buli-buli, ada saatnya Tuhan mau menguji iman kita sesuai dengan takaran iman kita. Sebagaimana imanmu, demikian Tuhan akan memberikan sesuai takaran imanmu. Kalau saudara menderita karena kesalahan kita sendiri, saudara harus responsible. Di sisi lain, kalau kita menderita karena dilukai atau akibat kesalahan orang lain, Tuhan juga tahu dan context-sensible. Tuhan tahu persis apa yang harus dilakukanNya. Bagi saya, kedua pasal ini membentuk satu gambaran yang indah, ada banyak kemiripan maupun keunikan dalam pelayanan Elia dan Elisa, demikian juga pelajaran bagi janda pertama maupun janda kedua. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menata puzzle pengenalan kita kepada-Nya sampai kita boleh melihat gambaran yang penuh di dalam diri Anak-Nya, Tuhan kita, Yesus Kristus.

Solus Christus,
Billy Kristanto

One thought on “Elia, Elisa, dan janda miskin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *