Mempersembahkan Hidup Sepenuhnya

Bacaan: Roma 12:1-2

Roma 12 ini bagian yang cukup terkenal, khususnya ay. 1 dan 2. Surat Roma adalah tulisan Paulus yang secara teologis mungkin dapat dikatakan paling solid dan dalam. Secara sederhana struktur surat Roma biasa dibagi dua: pasal 1-11 yang lebih menyerupai risalah teologis dan pasal 12 – terakhir yang merupakan ajaran-ajaran atau nasihat-nasihat praktis tentang kehidupan Kristen. Ini menyatakan bahwa tulisan, pelayanan dan kehidupan Paulus sangat lincah, mengisi kebutuhan orang di segala zaman yang seringkali mendualismekan teori dan praktek. Maka kita sering mendengar orang berkata sinis, “Untuk apa mengerti doktrin-doktrin yang sulit? Teorinya selalu bagus, tapi hidupnya tidak karuan.“ Dualisme. Kita tertarik untuk mengetahui rahasia Paulus dapat beralih dari pengajaran doktrin ke pengajaran hidup sehari-hari dengan lincah.

Perhatikan bhw Roma 11 diakhiri dengan doksologi (ay. 33-36). Itulah penutup yang Paulus pakai untuk mengakhiri risalah teologinya. Doksologi biasa kita nyanyikan sebagai penutup kebaktian, mengembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan. Ternyata inilah salah satu rahasia Paulus. Ketidakhadiran doksologi dapat membuat hidup kita menjadi terpecah-belah, fragmented, schizophren: apa yang kita pikirkan dan ketahui sama sekali terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Tidak demikian dengan Paulus, karena di dalam hidupnya terdapat momen untuk berdoksologi. Orang kristen yang suka mempelajari teologi tentunya perlu banyak membaca buku dengan harapan bisa melayani dengan lebih baik. Jika tidak hati-hati kita dapat mengalami krisis jika doksologi lenyap dari kegiatan belajarnya. Hidup bagaikan mesin yang terus berproduksi, tanpa pernah berhenti, menerima penyegaran dari Tuhan dan kagum. Kita seringkali lebih suka speechful (baca: mengajar dan menggurui orang lain) daripada speechless (baca: mengagumi anugerah Tuhan). Kalau tidak bicara serasa menganggur, akhirnya orang seperti itu tak punya waktu untuk menikmati perhentian yang disediakan Tuhan. Dan karenanya, kita mudah mendualisme teori dan praktek, doktrin dan spiritualitas, pengetahuan dan karakter, dst. Mengapa? Karena kita tak punya momen untuk berhenti mengagumi Tuhan. Padahal seharusnya, doksologi kita disertai rasa kagum kita akan kehadiran Tuhan dalam pengalaman hidup kita.

Hal yang perlu kita pertanyakan bukanlah apakah kita berdoksologi atau tidak, melainkan sudahkan kita menyaksikan kemuliaan Allah? Karena sesungguhnya, kemuliaan Allah nyata dalam banyak hal dan sangat beraneka-ragam bentuknya. Itulah yang membuat kita selalu ingin mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan. Memuji Tuhan dalam ibadah adalah respon kita, bukan sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Itu artinya kesungguhan dan ketulusan kita memuji Tuhan sangat tergantung dengan sejauh mana kita memahami betapa limpahnya anugerah dan kasih Tuhan dalam hidup kita. Tanpa itu, kita akan memuji Tuhan secara klise atau melakukannya dengan terburu-buru, mirip orang yang sedang sibuk menyelesaikan tugasnya, tak punya waktu, maka melayani secepat mungkin, bahkan menyanyi pun secepat mungkin. Tak heran, banyak orang memandang ibadah sebagai satu kewajiban, “Setelah aku menunaikannya, tinggalkan aku sendiri, biarkan aku mengurus urusan dan kesenanganku sekarang!” Padahal itu bukan arti dari hari Sabbat. Waktu yang kita pakai dengan tenang, mengagumi Allah akan sangat mempengaruhi menyatunya pengertian teologis dan hidup kita.
Jadi struktur dari Roma 11 akhir dan masuk ke Roma 12 bukanlah suatu kebetulan. Kita juga mendapati kelincahan seperti ini dalam tulisan Augustinus. Dalam Confessiones misalnya dia bisa membahas pengajaran teologis yang dalam dan rumit, mengajar orang untuk berpikir keras. Namun pada bagian-bagian tertentu dia berhenti dan berdoa. Karena baginya, teologi bukanlah sesuatu yang dipelajari di kelas belaka. Hans Urs von Balthasar membedakan antara kneeling theology dan sitting theology. Dalam zaman modern teologi agaknya berubah dari kneeling theology kepada sitting theology. Tadinya, teologi adalah pergumulan seseorang di hadapan Allah dengan sikap berdoa dan berlutut, tapi sekarang bergeser menjadi sekedar topik-topik yang diajarkan di kelas. Hati-hati. Orang mengatakan salah satu pembunuh terbesar dalam hidup manusia modern adalah kursi! Ya, orang yang duduk berjam-jam mengerjakan tugasnya tanpa berdiri, tanpa bergerak, terpaku di depan layar computer akhirnya menderita berbagai macam penyakit. Mungkin dalam dunia rohani juga tidak jauh berbeda. Orang yang sama sekali tidak tertarik untuk mengagumi Allah Sang Subyek yang kita sedang pelajari, tak pernah berdoksologi dari Senin s/d Sabtu, maka tak heran, pada hari Minggu jadi sulit sekali untuk masuk ke dalam suasana ibadah yang alkitabiah.

Jadi, melalui doksologi Paulus kemudian bergerak untuk memberikan definisi yang sangat penting tentang ibadah Kristen yang sejati di pasal 12 di mana dia memperluas ibadah sampai kepada kesalehan atau kekudusan yang sejati. Dalam bukunya Institutio (III,6-9), Calvin membahas tentang isu kehidupan Kristen yang dia simpulkan dengan kata penyangkalan diri. Starting point dari penyangkalan diri ini bagi Calvin adalah dedikasi atau konsekrasi: persembahan hidup kita kepada Tuhan. Kekudusan dimulai dengan dedikasi atau konsekrasi. Kita seringkali mengidentikkan kekudusan atau kesalehan dengan watak atau moral yang tinggi. Kalau kekristenan hanya sekedar mengajarkan moralitas yang tinggi, saya percaya di dunia ini ada banyak orang yang menurut penilaian manusia mempunyai moral yang sangat tinggi dan patut dikagumi. Hanya saja, tentunya, mereka tidak tertarik untuk mempersembahkan diri untuk dipakai oleh Tuhan Yesus. Contoh yang paling nyata dalam Alkitab adalah Esau: karakternya jauh lebih baik daripada Yakub. Dia hormat pada orang tua – hal yang sangat dijunjung tinggi dalam kebudayaan Timur. Dia juga lebih jujur, tak seperti Yakub yang adalah penipu. Dia juga seorang pekerja keras, suka berburu, tidak seperti Yakub yang hanya bisa tinggal di rumah. Tapi mengapa Tuhan membuang Esau? Tentu jawaban dari perspektif kekekalan adalah karena kehendak kedaulatan Tuhan. Namun jika kita mengobservasi: adakah sesuatu yang ada pada Yakub dan tidak ada pada Esau? Memang ada! Esau tidak peduli akan berkat-berkat rohani, dia tidak tertarik untuk dipakai oleh Tuhan, tidak ada appetite untuk perkara-perkara yang di atas, dan dengan begitu gampang menukarnya dengan semangkuk yang hanya bisa mengenyangkan sementara. Mungkin dia menganggap hak kesulungan adalah suatu yang terlalu abstrak, yang toh tidak nyata dan tidak terlihat. Yang nyata adalah, „Sekarang saya lapar dan saya perlu mengisi perut saya supaya kenyang.“ Tak ada perspektif rohani dalam diri Esau. Kita menguatirkan banyak orang percaya yang moralnya baik dan mengesankan orang lain, tapi saat diajak untuk melayani selalu menolak dengan pelbagai alasan. Mungkin orang-orang seperti ini pernah dikecewakan oleh banyak orang kristen yang sibuk melayani namun mereka mendapati orang-orang ini ternyata hidupnya tidak lebih baik daripada mereka. Mereka akhirnya memilih untuk tidak terlibat dalam pekerjaan Tuhan, memelihara hidup yang ‚kudus, saleh, berkarakter tinggi‘ …. tanpa sadar menghidupi self-righteousness orang-orang Farisi. Sementara orang yang Tuhan pakai adalah orang berdosa yang diampuni oleh Kristus, bukan orang sempurna. Bahkan Yakub juga perlu dibentuk oleh Tuhan. Jadi, waktu kita membahas tentang persembahan hidup, apa yang harus kita persembahkan sepenuhnya? Ingat: mempersembahkan diri bukan berarti harus jadi hamba Tuhan full-time gerejawi. Tuhan juga tidak memanggil semua orang menjadi missionary. Cerita-cerita tentang para missionaris itu bisa diresepsi dengan keliru, akhirnya bukan mendorong tapi malah membuat kita hopeless dan merasa tidak berdaya. Kita bisa melihat mereka sebagai raksasa-raksasa iman sementara kita sendiri merasa diri kita begitu kecil dan tidak berguna karena kita tidak sehebat mereka. Saya percaya, cerita-cerita tentang para missionaris itu tidak bermaksud untuk mendorong semua orang untuk menjadi missionaries, melainkan agar kita menggumuli dengan serius panggilan kita masing-masing.

Spiritualitas para reformator sangat jelas dalam hal ini: mereka mendobrak pola pikir orang Kristen pada abad pertengahan. Mereka mengajarkan bahwa orang yang Tuhan pakai bukan hanya so-called hamba Tuhan full-time gerejawi, tapi semua orang yang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk menjalani panggilannya. Faktanya, ada Pendeta yang tidak mempersembahkan seluruh hidupnya pada Tuhan, ada yang cinta uang, ada yang gila posisi dan jabatan, gila kuasa dsb. Jabatan atau jenis pekerjaan seseorang sama sekali tidak menjamin seseorang sungguh-sungguh mempersembahkan seluruh hidupnya dan mempersilakan Tuhan untuk memakainya. Cerita orang-orang yang sangat diberkati Tuhan itu setidaknya mengingatkan kita untuk mempersembahkan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Mungkin kita tak seperti mereka, memiliki penyerahan diri yang total tanpa reservasi apa pun. Ada banyak orang percaya yang hidupnya tak dapat Tuhan pakai secara maksimal. Seringkali orang hanya mempersembahkan apa yang tak terlalu penting baginya. Orang kaya sebenarnya tidak terlalu susah untuk mempersembahkan sebagian uangnya untuk pekerjaan Tuhan, namun jika dia diminta waktunya, sulit sekali. Sebaliknya, banyak pasangan muda yang masih struggle dengan urusan keuangan yang menurut mereka belum stabil, rajin ikut banyak pelayanan, tapi saat diminta untuk berbagian dalam keperluan website finansial mereka merasa itu bukan panggilan mereka. Sementara Tuhan ada kalanya minta sesuatu yang paling kita kasihi. Abraham diminta untuk mempersembahkan Ishak, bukan kekayaannya atau pegawai-pegawainya. Abraham taat dan dia diberkati Tuhan. Maka sekali lagi, prinsip mempersembahkan diri seharusnya mendahului semua yang lain. Ini tentu bukan berarti bahwa Tuhan tidak peduli dengan karakter atau moral kita. Karena kita membaca bagaimana Tuhan juga dengan serius membentuk Yakub untuk diubahkan dari kebiasaan-kebiasaan, ya, karakternya yang buruk itu, karena itu menghalangi pekerjaan Tuhan. Namun sekali lagi, ini semua didahului oleh satu sikap hati yang paling dasar yaitu mempersembahkan diri sepenuhnya untuk dipakai oleh Tuhan. Apakah kita memiliki sikap mempersembahkan diri tanpa syarat seperti itu? Kiranya Tuhan berbelas-kasihan kepada kita.