Resources from the Ministry of Billy Kristanto and Co-workers

Perumpamaan Gadis Bijaksana dan Bodoh

Bacaan: Matius 25:1-13

Injil Matius banyak membahas tentang tema Kerajaan Sorga, suatu pokok yang terus dibicarakan oleh Yesus sepanjang masa pelayananNya di bumi. Demikian pula teks yang kita baca hari ini membicarakan tentang Kerajaan orga yang dikaitkan dengan akhir jaman (eskatologi). Pembahasan mengenai akhir jaman dimulai sejak pasal yang ke-24 dari Injil Matius.

Perumpamaan ini sendiri didahului dengan 1 perumpamaan (tentang hamba yang setia dan jahat) dan disambung lagi dengan 1 perumpamaan lagi (tentang talenta) dan diakhiri dengan gambaran tentang penghakiman terakhir. Ketiga perumpamaan yang disampaikan ini memiliki tekanan yang semakin memuncak berkenaan dengan kehidupan orang percaya yang dibicarakan secara radikal (radikal maksudnya sampai kepada poros hati yang terdalam, sebagai lawan dari hanya sebatas permukaan). Pada perumpamaan yang pertama (hamba yang setia dan jahat), Yesus memperingatkan orang-orang yang hidup berbuat jahat, memukul sesamanya, makan minum bersama pemabuk-pemabuk, pendek kata, hidup terus melampiaskan nafsunya sendiri, orang-orang seperti ini akan dihakimi dan akhirnya dibinasakan oleh Tuhan sendiri. Orang-orang ini, sekalipun tidak berlaku munafik dalam kejahatan mereka (mereka terang-terangan melakukannya), namun akan dibuat senasib dengan orang-orang munafik. Sementara pada perumpamaan ini (gadis bodoh dan bijaksana), hukuman ditimpakan bagi mereka yang hanya (pakai tanda kutip karena hanya inilah yang membuat mereka binasa!) tidak mempersiapkan diri dengan baik. Mereka tidak mengumbar nafsu dan berlaku jahat seperti pada perumpamaan yang pertama, mereka sekedar tidak siap saja, sekedar terlambat. Lalu pada perumpamaan yang ketiga (tentang talenta), hamba yang ketiga ini binasa juga bukan karena berbuat jahat seperti pada perumpamaan yang pertama, atau tidak siap seperti perumpamaan yang kedua (hamba yang ketiga pun telah melakukan perhitungan dan pertimbangan sebelum ia memendam talenta yang dipercayakan kepadanya, tidak seperti lima gadis bodoh yang tidak menghitung minyak mereka), hamba yang ketiga ini sesungguhnya dianggap banyak orang tidak terlalu jahat karena dia toh tidak melakukan apa-apa (doing nothing), namun justru itulah yang akhirnya membinasakan dia. Firman Tuhan tetap menyebutnya sebagai hamba yang jahat. Kejahatannya adalah karena dia tidak melakukan apa-apa. Dan akhirnya, gambaran tentang penghakiman terakhir mencatat orang-orang yang dibuang dan ditolak karena mereka tidak mengasihi sesamanya. Ada penanjakan di sini dari dosa yang dianggap paling keji sampai kepada dosa yang seringkali dianggap bukan merupakan kejahatan oleh manusia pada umumnya (mengumbar nafsu tidak siap tidak melakukan apa-apa tidak mengasihi sesama), namun di hadapan Tuhan itu tetap merupakan suatu dosa yang harus dihakimi.

Kembali kepada perumpaman gadis bodoh dan bijaksana. Siapakah gadis-gadis yang digambarkan di sini? Kita tidak mengetahuinya dengan pasti (yang pasti kita tidak dapat memasukkan gambaran perkawinan kontemporer dalam cerita ini), namun ada kemungkinan bahwa gadis-gadis ini adalah hamba dari mempelai laki-laki (panggilan Tuan pada ayat 11). Sebagian gadis ini bodoh dan sebagian lagi bijaksana. Alkitab seringkali membuat kontras antara kedua hal ini dan sekali lagi, bodoh yang dimaksud di sini sama sekali tidak berarti memiliki inteligensia rendah. Firman Tuhan sesungguhnya tidak pernah menghina mereka yang kurang di dalam kecerdasan dalam arti seperti ini dan juga tidak menghormati mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Di hadapan Allah Yang Mahakudus semua orang sama-sama berdosa! Manusia yang suka membanggakan hal-hal yang tidak dihargai oleh firman Tuhan sesungguhnya sedang berlaku bodoh. Lalu apa yang dimaksud bodoh dan bijaksana di sini? Secara sederhana bodoh adalah sikap yang tidak mau diajar oleh kebenaran firman Tuhan (betapapun tinggi inteligensianya, orang itu tetap adalah bodoh!), sedangkan bijaksana adalah mereka yang mendengar dan melakukan firman Tuhan (betapapun sederhana pemikiran orang tersebut). Dalam konteks bacaan kita hari ini, dalam pengertian yang lebih khusus, bodoh berarti tidak mempersiapkan diri dengan baik, sementara bijaksana berarti bersiap dan berjaga-jaga.

Lalu artinya pelita dan minyak, mengapa di sini dikatakan 5 dan 5, bukan 3 dan 3 atau 10 dan 10? Dalam menafsir perumpamaan, kita tidak boleh menafsir sampai kepada detail-detailnya, karena itu bukanlah tujuan dari perumpamaan. Kebahayaan dari cara penafsiran seperti ini adalah kita akhirnya jatuh dalam penafsiran yang disebut alegoris (penafsiran ini banyak dikembangkan oleh Bapa Gereja seperti Origen, sesungguhnya banyak dipengaruhi oleh cara penafsiran Yunani Kuno dalam menafsir tulisan-tulisan pada jaman itu, dan karena dipengaruhi oleh filsafat Neoplatonism yang mengajarkan makna spiritual yang lebih dalam). Kita tidak perlu menafsir bagian ini sampai sedetail-detailnya karena perumpamaan ini pada intinya mengajarkan dua macam orang, yaitu yang bersiap sedia dan yang tidak.

Ayat 5 mencatat bahwa mempelai itu lama tidak datang-datang juga (Ingg: delayed). Tuan itu terlambat. Tuan ini sebenarnya Tuhan yang akan datang kembali bukan? Masakan Tuhan bisa terlambat? Di sinilah kesulitannya, manusia seringkali menilai Tuhan dari cara pandangnya sendiri, termasuk dari kacamata waktu dunia, seolah-olah Tuhan harus datang jam segini, tanggal ini, tahun itu. Pada kenyataannya, Tuhan tidak dikuasai oleh waktu kita, sebaliknya saat di mana Tuhan datang yang akan mengakhiri waktu kita! Ada seorang professor yang pernah mengatakan kalimat demikian Jesus doesnt have to come on time because He is not in time. Kalimat ini menyatakan bahwa seringkali kita membelenggu Tuhan dalam pola pemikiran kita yang terbatas, dan yang paling celaka adalah kita pikir itu adalah Tuhan yang sesungguhnya! Allah adalah Allah yang berdaulat, kapan Dia akan datang kembali, itu adalah sepenuhnya berada dalam kehendak kedaulatanNya, Dia tidak perlu mencocokkan saat kedatanganNya dengan jam dan tanggalan kita. Namun, secara antropomorfis (istilah ini kurang cocok, lebih baik menggunakan antropokronos, yaitu waktu manusia) Dia memang seolah datang terlambat. Dalam bagian firman Tuhan yang lain kita juga membaca bahwa Yesus memang sengaja datang terlambat (peristiwa Lazarus yang dibangkitkan). Mengapa Tuhan sengaja mengulur-ulur waktu? Yang pertama, menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan atas waktu, Dia yang menetapkan saatNya, bukan kita, bukan mereka yang menunggu. Kedua, ini sekaligus menjadi ujian karena waktu yang tertunda itu justru menyatakan sikap manusia yang sesungguhnya. Bukan karena tertunda lalu manusia boleh membenarkan diri untuk tidak mempersiapkan diri.

Gadis-gadis itu mulai mengantuk dan akhirnya semuanya tertidur. Di sini kita melihat tidak ada perbedaan antara anak-anak Tuhan dan anak-anak binasa. Secara fenomenal mereka semua terlihat sama, dan memang to certain extent kita tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya: kita perlu istirahat, tubuh kita bisa sakit, dagang bisa rugi, kita pergi berbelanja, berkeluarga, sama seperti semua orang yang lain. Menjadi kristen bukan berarti menjadi manusia yang eksentrik, fanatis dan reduktif (sempit). Namun, sesungguhnya kedua jenis orang yang sama-sama tertidur itu sama sekali berbeda. Sama, dua orang bisa sama-sama berdagang dan bekerja tapi bagaimana mereka melihat harta bisa sama sekali berlainan, sama-sama berkeluarga tapi cara menempatkan keluarga bisa sangat berbeda, bahkan sama-sama melayani, akan tetapi di dalam arah hati tidak tentu sama.

Ketika mempelai itu datang, mereka pun bangun semuanya (tidak ada yang tetap tertidur), semuanya lalu membereskan pelita mereka masing-masing. Sampai di sini, secara fenomena semua terlihat sama. Akan tetapi ayat 8 dan 9 segera menyatakan keberbedaan mereka. Ternyata gadis-gadis bodoh itu tidak siap untuk menyongsong mempelai laki-laki, pelita mereka hampir padam! Mereka lalu berharap agar gadis-gadis yang membawa persediaan minyak itu untuk membaginya kepada mereka, akan tetapi gadis-gadis bijaksana itu menolak untuk memberikannya. Ini semacam keegoisankah? Pelit? Tidak ada belas kasihan! Tidak punya jiwa pengorbanan?! Hanya memikirkan keselamatan diri sendiri?? Tidak, sama sekali bukan begitu. Pengajaran dari bagian ini adalah setiap orang harus bertanggung-jawab secara pribadi di hadapan Tuhan. Saya tidak bisa melimpahkan tanggung jawab saya untuk menjadi tanggung jawab orang lain. Keselamatan hidup adalah urusan setiap pribadi, bukan urusan kelompok. Tidak ada yang bisa menjamin saya kelak pada akhir jaman, saya harus berdiri seorang diri di hadapan Tuhan. Kesiapan hati orang lain adalah milik orang lain, orang lain memang memiliki tanggung jawab juga atas sesamanya (termasuk mungkin sebagian atas diri saya), akan tetapi ia tidak mungkin dituntut untuk bertanggung jawab atas tanggung jawab saya (sebagaimana diajarkan oleh E. Levinas misalnya). Selalu mempertanggung jawabkan tanggung jawab orang lain dapat menghancurkan kedewasaan orang yang dibantu itu. Lagipula, manusia mana yang dapat bertanggung jawab atas tanggung jawab semua manusia di seluruh dunia? Kita bukan Juruselamat dan Mesias, bahkan Mesias yang sejati pun tidak melakukan hal tersebut (bertanggung jawab atas tanggung jawab orang lain). Manusia harus belajar dengan segala kerendahan hati untuk mengatakan bahwa ia terbatas. Bahkan sahabat yang terbaik pun juga tetap terbatas. Ia tidak Mahakuasa, hanya Tuhan saja yang dapat menolong setiap orang yang berharap kepadaNya.

Gadis-gadis bodoh itu pergi untuk mempersiapkan minyak mereka yang kurang, dan celakanya, pada saat itulah mempelai datang! Orang-orang seperti selalu berpikir masih ada kesempatan untuk bertobat, masih ada waktu untuk berubah, mereka pikir the last minute akan sanggup menyelesaikan persiapan untuk menyongsong Tuan itu. Mereka adalah orang-orang malas yang tidak mempersiapkan diri, yang begitu sombong dan menilai diri terlalu tinggi yang membawa kepada keyakinan diri sendiri yang begitu naif! Sangkanya mereka masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mempersembahkan diri mereka pada menit-menit terakhir sebelum kematian menjumpai mereka. Yang lebih konyol lagi adalah mereka berpikir bahwa selama ini mereka sudah mengenal Tuan itu, mungkin bahkan hidup bersama-sama, bekerja untuk Tuan itu, namun dalam kenyataannya, Tuan itu menyatakan tidak mengenal mereka semua. Mereka terhilang untuk selama-lamanya. Sudahkah hatimu dimiliki oleh Yesus? Seberapa penuh?

Firman Tuhan tidak memberi tahu kepada kita kapan Tuan itu akan datang kembali, kapan hidup kita akan berakhir. Justru adalah lebih baik bagi kita untuk tidak mengetahuinya. Karena dengan tidak mengetahui saatnya, kita perlu untuk senantiasa berjaga-jaga, mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatanganNya. Dia tidak akan datang lagi sebagai bayi kecil, Dia akan datang sebagai Hakim yang akan mengakhiri segala perbuatan manusia di bumi. Marilah pada masa adven ini, menjelang peringatan hari kelahiran Yesus Kristus, kita mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatanganNya kembali. Para penggubah lagu, di dalam pimpinan Tuhan, memilih untuk mengambil teks yang diinspirasi dari bagian perumpamaan ini untuk menjadikannya sebagai karya yang dinyanyikan pada masa adven. Bukanlah merupakan suatu kebetulan, bahwa masa adven yang merupakan masa penantian kedatangan Yesus Kristus, sesungguhnya merupakan suatu sikap eskatologis, sikap yang menanti kedatanganNya kembali. Sudah siapkah kita?

Sleepers, wake! A voice astounds us
The shout of rampart guards sourrounds us
Awake, Jerusalem, arise!
Midnights peace their cry has broken
Their urgent summons clearly spoken
The time has come, O maidens wise!
Rise up, and give us light
The Bridegroom is in sight
Alleluia!

Your lamps prepare and hasten there
That you the wedding feast may share

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>