Bekerja dalam Perspektif Kerajaan Allah

Bacaan: Daniel 1:1-21

Dalam Daniel 1, kita bisa melihat satu perjalanan Daniel yang salah satu bagian klimaks dalam hidupnya adalah bagaimana dia terluput dari ketidakadilan yang direncanakan kepada dirinya, di dalam pengalaman gua singa. Ternyata pengalaman gua singa yang sangat “heroik” bukan terjadi begitu saja, tetapi ada suatu persiapan yang sangat panjang. Tuhan membentuk Daniel sejak dia pertama kali masuk ke dalam kerajaan Babel. Saya pikir ini prinsip yang sangat penting di dalam kehidupan kita. Kita selalu ingin melihat orang dari hasil akhirnya, tapi kita kurang tertarik melihat bagaimana perjalanan seseorang dibentuk oleh Tuhan sebelum dia berhasil; bagaimana dia mendapatkan reward (upah) dari apa yang selama ini sudah dia kerjakan di dalam ketekunan. Kita kurang tertarik dengan bagaimana perjalanan hidup seseorang mengalami jatuh bangun sampai pada titik terakhir, karena menurut kita itu juga tidak membawa kita ke mana-mana. Tapi, menurut prinsip Alkitab, kita tidak bisa membuang bagian itu. Kita tidak bisa hanya mempelajari cerita Daniel dan gua singanya, tapi kita juga harus kagum dengan bagaimana perjalanan kehidupannya dibentuk oleh Tuhan dengan cerita-cerita yang tidak terlalu dramatis tapi sebetulnya merupakan suatu momen yang penting di dalam kehidupannya.

Untuk memahami Kitab Suci, dan terutama kitab Daniel, penting sekali untuk kita melihat bahwa cerita center-nya adalah the story of God’s Kingdom, dan bagaimana kehadiran Kerajaan Allah di dalam dunia ini. Dan Kerajaan Allah bukan satu-satunya realitas, tetapi juga ada kerajaan dunia. Dalam tulisannya, Agustinus melihat dunia ini dengan double-perspective (perspektif ganda). Ada perspektif kerajaan dunia yang kelihatan, lalu ada juga perspektif Kerajaan Allah yang tidak kelihatan. Kita harus selalu melihat pergerakan dari pasal-pasal di dalam double-perspective ini, bagaimana Tuhan menyoroti dari dunia dari perspektif Kerajaan Allah.

Di dalam ayat pertama, kerajaan Yehuda dikepung oleh Nebukadnezar dan tentaranya dari kerajaan Babel, dan akhirnya jatuh juga. Ketika Kerajaan Utara jatuh, Kerajaan Selatan (Kerajaan Yehuda) hampir jatuh, lalu mereka menganggap itu sebagai pemeliharaan Tuhan atas Yerusalem. Tapi sekarang memang harus dikalahkan dan runtuh. Kerajaan Babel mengalahkan kerajaan Yehuda yang katanya percaya kepada Tuhan semesta alam. Ini perspektif kerajaan dunia. Tetapi ayat ke-2, ada pergeseran perspektif kepada perspektif Kerajaan Allah. Dalam perspektif kerajaan dunia, Nebukadnezar lebih besar dari Yoyakim, dan kerajaan Babel lebih superior daripada kerajaan Yehuda. Tetapi perspektif Kerajaan Allah mengatakan bahwa Tuhanlah yang menyerahkan mereka kepada kerajaan Babel. Bukan karena Nebukadnezar lebih besar, atau karena Babel pada dasarnya lebih superior daripada kerajaan Yehuda, tapi karena Tuhan yang menyerahkan. Kedaulatan Allah dihadirkan karena kerajaan ini sudah berdosa kepada Tuhan.

Di sini ada kaitan antara penderitaan, pembuangan, dan hukuman Tuhan. Ada 2 macam ekstrem di dalam pandangan Kristen. Satu pandangan ekstrem mengatakan bahwa penderitaan manusia itu pada dasarnya adalah karena dosa, entah dosanya sendiri atau dosa orang lain. Ini pandangan yang terlalu kritis. Kita tahu tidak selalu seperti itu. Tapi mungkin ada pandangan ekstrem yang lain, yang mungkin kurang kritis, bahwa penderitaan tidak ada hubungan apa-apa dengan dosa. Penderitaan memang harus menderita, ada saat menderita ada saat bahagia. Jadi memang tidak usah dikaitkan dengan dosa. Karena tidak usah memikirkan tentang dosa sama sekali, maka tidak usah introspeksi. Ini juga memang tidak mutlak, tidak selalu seperti ini.

Dalam kisah ini, penderitaan di sini memang betul-betul karena dosa. Penderitaan ini dihadirkan Tuhan di dalam kerajaan Yehuda karena mereka berdosa kepada Tuhan, dan untuk itu mereka harus introspeksi kenapa mereka menderita. Saat kita mengalami penderitaan, kepicikan, dan berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan, selalu merupakan suatu jalan yang aman kalau kita mengintrospeksi diri. Apakah kita pada akhirnya terbukti tidak bersalah, atau ada sesuatu yang harus kita koreksi dari diri kita, itu adalah persoalan yang lain, tapi tidak ada salahnya kita berintrospeksi.

Tapi yang sering terjadi di dalam kehidupan kita, juga sering terjadi di dalam kehidupan orang Reformed, adalah kita lebih menjalami story of self-righteousness. Kita mengatakan bahwa orang benar pun tidak selalu harus diberkati dan bisa hidup menderita. Akhirnya kita bukan berintrospeksi tapi menghibur diri kita (self-consolation). Yesus orang benar dan menderita, saya juga mengikuti Yesus, hidup benar dan menderita. Tapi tidak di dalam cerita ini. Di dalam cerita ini jelas sekali bahwa penderitaan itu betul-betul karena dosa; penderitaan yang dihadirkan Tuhan supaya mata kita terbuka dan tahu Tuhan mau bicara sesuatu di sini. Adakah sesuatu yang salah di dalam kehidupan saya yang sedang terjadi?

Seperti dalam Daniel 1 ini, mereka seharusnya berintrospeksi di dalam keadaan seperti ini. Mengapa Tuhan bisa menyerahkan kerajaan yang begitu dikasihi-Nya kepada tangan bangsa kafir? Kita memang tidak benar, tapi bangsa ini lebih tidak benar lagi. Lalu kenapa mereka menang terhadap kita? Bagaimana kita harus menerima pengalaman seperti ini dari tangan Tuhan? Kerajaan Babel memang tidak lebih baik dari kerajaan Yehuda. Dikatakan bahwa mereka begitu kurang ajar mengangkat perkakas-perkakas di rumah Allah dan menaruhnya di rumah dewa-dewa mereka, yang menandakan penaklukkan Tuhan di bawah dewa-dewa mereka. Itu adalah sebuah penghinaan terhadap Tuhan sendiri, bukan hanya terhadap kerajaan Yehuda. Waktu Mesir berperang dengan Israel, itu bukan perang antara bangsa Mesir dan bangsa Israel, tetapi sebetulnya adalah dewa Mesir dengan Yahweh, Tuhan yang Israel percaya. Bukan sekadar pertempuran manusia, tapi pertempuran kosmik. Jadi bangsa Babel yang menang yakin bahwa dewa Babel sudah menaklukkan Yahweh, dan mengangkat perkakas-perkakas itu sebagai simbol penaklukkan itu. Ini merupakan suatu penghinaan yang luar biasa. Tapi Tuhan sendiri merelakan itu terjadi, bahkan membiarkan seperti seolah-olah kemuliaan-Nya itu tercoret-coret oleh bangsa kafir yang tidak takut akan Tuhan ini. Alkitab mengatakan itu juga adalah di dalam kedaulatan dan rencana Tuhan. Double-perspective, dari sisi kerajaan dunia adalah kekalahan, tetapi Tuhan tetap bergerak di dalam rencana dan realitas Kerajaan-Nya yang sering kali tersembunyi dan tidak terlihat secara langsung itu.

Kita terus membaca di dalam bagian ini, bagaimana kerajaan dunia berusaha untuk mencari orang-orang yang terpandai, orang yang mempunyai IQ, bahkan mungkin EQ, yang paling tinggi. Orang-orang yang elit ini dicari di dalam kerajaan dunia. Menarik Saudara, bukankah di dalam dunia kita juga bekerja seperti dunia yang terus mencari yang terbaik? Bukankah Saudara yang mempunyai company juga kurang lebih begitu? Siapa yang mencari dan semakin menerima orang yang semakin bodoh? Lalu bagaimana kalau ada yang kurang pintar? Kita tidak terima. Tidak jauh berbeda dengan kerajaan dunia yang ada di sini. Mereka mencari orang-orang yang paling pintar dan kebetulan saja Daniel di sini terpilih.

Saya tertarik ketika kita merenungkan bagian ini saat dibenturkan dengan Kerajaan Allah. Kerajaan dunia mencari orang-orang yang terbaik, terpandai, dan sebagainya. Akhirnya setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi orang-orang seperti itu. Itu kerajaan dunia. Tetapi reaksi di dalam Kerajaan Allah itu santai-santai saja. Tidak ada cerita bahwa Daniel berusaha dan mempersiapkan diri supaya dia terpilih masuk ke dalam elite circle kerajaan Babel. Ini adalah salah satu hal yang indah di dalam Kerajaan Allah. Daniel, dan beberapa orang Yehuda, yakni Hananya, Misael, dan Azarya, masuk begitu saja ke dalam kelompok itu. Apakah kualitas mereka sehingga bisa terpilih? Tidak ada cerita itu sama sekali. Maksudnya bahwa di dalam Kerajaan Allah, itu bukan competition, tapi itu diberikan Tuhan (givenness). Mereka ada di situ karena Tuhan menempatkan mereka di situ, bukan susah payah struggling supaya mendapatkannya. Saya menyebutnya minority complex. We better don’t live that kind of story, karena itu bukan the story of the kingdom of God. The story of the kingdom of God bukan berarti foreign talent seperti Daniel ini bukan berkiasu ria supaya bisa mengalahkan the local people untuk mendapatkan pekerjaan dan kesenangan dari bosnya. Ketika Tuhan menempatkan dia di dalam kerajaan dunia, dia juga memiliki tempat yang sesungguhnya di dalam Kerajaan Allah. Dan itu diberikan Tuhan. Daniel ada di situ, lalu Tuhan memimpin, dia mempunyai suatu tanggung jawab, ada sesuatu yang harus dikerjakan di sana. Ini realitas Kerajaan Allah. Kalau kita tidak memahami bagian ini, kita mudah sekali terbawa dalam kerajaan dunia tadi. Saya bukan mengatakan bahwa kalau kita menghidupi realitas Kerajaan Allah maka kita jadi tidak hidup di dalam kerajaan dunia lagi. Kita masih ada di dalam dunia. Yesus sendiri mengatakan, “Mereka bukan dari dunia, mereka masih hidup di dunia.” They live in this world, but they are not from this world. Ada double-perspective. Not from this world means that we live in the Kingdom of God, but we also live in Singapore. Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya ada di sana; Tuhan membiarkan mereka ada di sana.

Di dalam cerita ini, ada benturan yang cukup subtle. Terhadap orang-orang dalam kelompok elit ini, raja begitu bangga sampai memberikan kepada mereka santapan raja dan anggur yang biasa diminumnya. Tidak terlalu jelas bahwa makan daging adalah suatu kenajisan dan dilarang di dalam kerajaan Yehuda. Mungkin ada ayat-ayat tertentu yang tertuju ke situ, tapi para scholar juga kayaknya tidak terlalu jelas. Tapi katakanlah ini lebih berkaitan dengan urusan conscience. Conscience adalah suatu domain yang lain lagi. Yang pasti kita boleh secara aman mengatakan bahwa Daniel terganggu dengan makanan itu, maka dia mengatakan, “Saya tidak akan menajiskan diri saya dengan santapan raja itu.” Conscience-nya memberi tahu kepada dia untuk tidak makan makanan dan minum minuman itu. Tidak terlalu jelas apa alasannya, tapi yang pasti dia adalah seorang yang mengikuti hati nuraninya. Luar biasa. Hati nurani bisa tidak sempurna.

Kalau Saudara membaca 1 Korintus, ada orang-orang yang hati nuraninya lemah, mereka takut makan daging karena daging di Korintus berkaitan dengan persembahan berhala. Daging yang dijual beli di pasar kemungkinan besar adalah daging yang pernah ditaruh di kuil, sebagai orang Kristen mereka tidak bisa makan daging seperti itu. Tapi yang lain berdoa dan bersyukur di dalam nama Tuhan Yesus, tetap makan karena sudah dikuduskan. Tidak salah pemikiran seperti itu. Tapi Paulus mengajarkan agar kita juga harus mempertimbangkan hati nurani orang lain, dan sudah tentu hati nurani kita sendiri. Alkitab mengajarkan satu prinsip: segala sesuatu yang bukan dari iman adalah dosa. Kalau ada sesuatu yang tidak jelas tapi kita tetap melakukannya, itu dosa. Bukan hanya apakah kegiatan tersebut berdosa, tapi keyakinan iman kita juga ikut menentukan apakah hal yang kita kerjakan itu dosa atau bukan. Kebersihan hati nurani (conscience) adalah aspek yang penting di dalam kehidupan seorang Kristen. Daniel memiliki itu dan ia mengambil ketetapan untuk tidak menajiskan diri.

Dalam cerita gua singa, Daniel menetapkan dirinya untuk tetap beribadah tiga kali sehari dengan tidak melakukan perubahan apa-apa walaupun ada dekret yang dibuat Darius. Itu keputusan dengan risiko yang besar sekali. Tapi ternyata Daniel dari awal sudah melatih dan menciptakan karakter yang agung di dalam dirinya melalui keputusan-keputusan kecil. Kita tidak bisa mendapatkan karakter yang indah karena kita luput di dalam hal-hal yang kecil, kita tidak mendapat gambaran yang jelas dalam keputusan kita di dalam Tuhan. Sehingga akhirnya di dalam hal-hal besar pun kita juga tidak terlatih. Lalu kita bermimpi mau mengambil keputusan yang benar di dalam hal-hal yang besar, tapi menutup mata terhadap hal-hal yang kecil. Masalahnya kalau di dalam hal-hal kecil kita tidak terlatih, di dalam hal-hal besar kita akan banyak luputnya. Daniel berani menghadapi risiko gua singa karena dia juga dulu sudah mengambil ketetapan itu, dan dia tahu ada risiko. Setiap ada satu standpoint di dalam realitas Kerajaan Allah yang berbenturan dengan realitas kerajaan dunia, dia memilih untuk menjalankan realitas Kerajaan Allah dan bukan kerajaan dunia. Tapi kita mengatakan bahwa kita harus cerdik, maksudnya mendapatkan Kerajaan Allah dan kerajaan dunia sekaligus! Saya tidak bersalah kepada Tuhan, saya juga mendapatkan kerajaan dunia; dapat Tuhan Yesus, dapat semuanya! Ini benturan yang sangat subtle. Alkitab sudah mempersiapkan benturan-benturan ini terjadi, dan Daniel telah memilih yang benar. Itu menciptakan keagungan karakter di dalam dirinya, sampai pada suatu persiwa klimaks dia tahu apa yang harus dia lakukan karena dia terbiasa mengambil keputusan di dalam hal-hal yang lebih sederhana.

Saya tertarik waktu mengaitkan bagian ini dengan ayat yang ke-7. Nama mereka diubah, Daniel menjadi Beltsazar, Hananya menjadi Sadrakh, Misael menjadi Mesakh, dan Azarya menjadi Abednego. “Daniel” di dalam bahasa aslinya (Ibrani) artinya “God is my Judge”. Tapi “Beltsazar” mengandung nama “Bel”, dewanya Babel. Jadi Daniel seperti dibaptis ulang karena dia masuk ke dalam kerajaan Babel. Begitu juga dengan tiga temannya yang lain. Pergantian nama itu juga adalah certain pressure di dalam kehidupan orang-orang yang takut akan Tuhan. Daniel tidak melawan. Tidak penting juga, seperti kata Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama.” Tapi Daniel memelihara identitas dan kesucian hatinya sebagai orang yang takut akan Tuhan Allah. Dia mempertahankan dirinya dari kenajisan dan dari kemungkinan menyantap makanan raja atau anggur yang biasa diminum raja. Dia berani menyatakan suatu petisi. Ketika dia menyampaikan petisinya, pemimpin pegawai istana itu khawatir kalau Daniel jadi kelihatan kurang sehat. Dia tidak bisa menghindari ketakutan terhadap raja. Tapi Daniel bersikeras untuk mencoba dalam 10 hari lalu lihat apakah mereka jadi lebih tidak sehat daripada orang yang lain. Dan ternyata tidak. Daniel disertai oleh Tuhan. Saya pikir ini suatu diferensiasi yang penting waktu kita bekerja di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita punya tujuan dan sarana untuk mencapainya. Tujuannya sering kali tidak harus salah, tapi sarananya sering kali mengganggu kita orang Kristen karena segala cara dihalalkan. Di dalam tekanan kita jadi setuju karena kalau tidak pakai cara seperti itu, kita habis. Tapi Daniel membedakan, apa sebetulnya tujuan dari menyajikan makanan dan minuman raja ini? Kita diberikan makanan terbaik supaya sehat dan bisa bekerja dengan baik. Itu tujuannya. Kalau begitu, tujuan itu akan saya ikuti, tapi tidak harus dengan minum anggur dan makan makanan raja. Kita bisa setuju dengan tujuannya tapi tidak harus jalan dengan cara itu. Cara saya bisa dengan makanan lain yang sesuai dengan iman saya. Dan memang tujuannya tercapai. Mereka kelihatan lebih gemuk (artinya lebih sehat) daripada orang-orang yang lain, yang makan dan minum dari santapan raja.

Daniel bisa membuktikan bahwa iman yang percaya kepada Tuhan dengan segala risiko dan taruhannya membawa dia ke dalam tujuan yang dikehendaki oleh raja. Tapi bukan tanpa suatu taruhan dan risikonya. Kita tidak akan ke mana-mana di dalam kehidupan kita jika kita selalu mau play safe di dalam apa pun, atas nama kecerdikan. Kita berjalan berliku-liku, sepertinya kita lincah, tapi sebenarnya hati nurani kita tahu bahwa kita sudah melakukan hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Daniel tidak. Hatinya lurus, bukan liku-liku, tapi dia juga mempunyai kebijaksanaan. Dia berani menantang, “Saya akan tetap mengikuti tuntutan itu, yaitu sehat dan jangan sampai sakit, tapi saya punya jalan lain menurut kepercayaan yang saya imani.” Benturan seperti ini terjadi di dalam kehidupan kita. Kita tidak bisa lepas dari kerajaan dunia dan hidup di dalam Kerajaan Allah saja. Tapi pertanyaannya di saat seperti itu, yang manakah yang kita ikuti? Rasionalisasi kita atau kita menjaga kesucian hati nurani?

Waktu Martin Luther dihakimi di Worms, dia tidak berusaha untuk mengesankan orang dengan pengetahuan theologisnya yang melampaui theologi semua orang Katolik. Tapi dia mengatakan, “My conscience is captive by the word of God. And it is neither right nor safe to act againts conscience.” Sederhana, hanya modal conscience. Dia dipaksa untuk menarik kembali seluruh tulisannya dan mengakui kalau itu adalah theologi yang sesat. Tapi Luther bersikeras, “Saya tidak akan menarik kembali kecuali kamu bisa membuktikan bahwa tulisan saya melanggar Alkitab dengan plain reason (penalaran yang bukan dibuat-buat).” Dia mungkin bukan orang yang memiliki seluruh pengetahuan theologi di zamannya, tapi dia mempunyai kepekaan di dalam hati nuraninya. Kita orang Reformed jika tidak mempunyai kepekaan rohani, saya khawatir akhirnya theologi digunakan untuk membenarkan kesalahan kita dan menekan hati nurani. Itu menakutkan sekali.

Kita tahu bahwa menekan hati nurani itu melanggar firman Tuhan dan tidak berkenan di hadapan Tuhan, tapi kita dengan doktrin Reformed makin ahli menutupi dosa dengan berbagai macam perangkat. Daniel tidak. Ia berpengetahuan dan excellent di dalam hal itu tapi dia terutama mempunyai kelebihan yang lain yaitu kepekaan hati nurani. Hati nurani tidak mutlak karena itu bukan firman Tuhan, tapi firman Tuhan juga memakai hati nurani untuk peka terhadap firman Tuhan. Hati nurani juga bisa bertumbuh terus di dalam pengetahuan. Memang hati nurani tidak mutlak, tapi Tuhan menghakimi dan menilai kita berdasarkan hati nurani, karena hati nurani tidak bisa ditipu kalau kita tidak menekannya. Tapi begitu kita mempermainkan hati nurani kita, akhirnya kita menjadi orang yang kehilangan integritas. Orang yang kehilangan integritas mungkin saja mendapat keberhasilan di dalam kehidupannya, tapi di dalam realitas Kerajaan Allah, dia sama sekali bukan orang yang diperlukan. Ini adalah suatu kesedihan. Ada orang yang sangat berhasil, tapi di dalam Kerajaan Allah, Tuhan hanya melihatnya dengan sebelah mata, atau bahkan memalingkan wajah-Nya. Daniel menjaga kesucian hati nuraninya dan dia berani mengambil risiko, berani mengambil tindakan iman waktu terjadi benturan dengan hati nurani dan imannya. Ayat ayat terakhir, ayat 20-21, dikatakan bagaimana mereka disertai Allah sehingga 10 kali lebih cerdas daripada semua orang berilmu dan ahli jampi di seluruh kerajaan. Sepuluh adalah angka lengkap.

One thought on “Bekerja dalam Perspektif Kerajaan Allah

  1. Saya bersyukur atas perenungan Firman Tuhan lewat pengalaman Daniel yg meneguhkan Iman . Be Strong in The Lord .

Comments are closed.