Kegenapan Waktu Allah

Bacaan: Galatia 4:1-9

Sebagai ciptaan manusia ditempatkan oleh Tuhan dalam keterbatasan ruang dan waktu. Suka atau tidak suka manusia harus menentukan sikapnya bagaimana dia berurusan dengan waktu. Ada orang yang selalu merasa punya banyak waktu, sementara orang yang lain lagi merasa kekurangan waktu. Yang satu berusaha mengisi waktu sebanyak mungkin, yang lain menyia-nyiakan waktu. Yang lain menanti dengan penuh pengharapan, yang lain tidak peduli dan membiarkan waktu bergulir begitu saja. Ya, bahkan orang yang tidak peduli dengan waktu pun sebenarnya juga telah menentukan sikapnya terhadap waktu. Mereka yang menanti dan menunggu bukan berarti menjalani kehidupan yang pasti lebih baik daripada mereka yang mengabaikan waktu. Yang menjadi persoalan adalah apa yang kita nantikan dalam kehidupan ini?

Hidup memang dipenuhi dengan menunggu dan menanti: mulai dengan menanti kendaraan umum, menanti mendapat pekerjaan, menanti saat pernikahan, menanti dikaruniai seorang anak, menanti menyekolahkan anak, menanti anak lulus, menjadi dewasa, dst. Penantian-penantian sepertinya tidak dapat dihindarkan dari kehidupan seorang manusia, setidaknya bagi mereka yang serius menanggapi kehidupan ini. Penantian setidaknya menyatakan kepekaan seseorang bahwa tidak selamanya semua waktu sama, ada saat-saat tertentu yang berbeda dengan waktu-waktu lainnya. Mereka yang tidak dapat membedakan hal ini sesungguhnya kurang mengerti kehidupan dengan baik.

Demikian waktu kita membaca Alkitab Tuhan pun memiliki waktu atau saat yang khusus. Ada kegenapan waktu Allah. „Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya …“ (4:4). Ayat berikutnya mengatakan tujuannya yaitu „supaya kita diterima menjadi anak“. Ini tidak diberikan setiap saat, namun pada kegenapan waktu Allah: dalam sejarah ini telah digenapkan saat Yesus Kristus lahir ke dalam dunia, Dia yang adalah Allah yang sejati menjadi hamba yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita yang hidup dalam perhambaan boleh dimerdekaan dan menjadi anak-anak Allah. Yesus menjadi terikat dan terbelenggu supaya kita yang terbelenggu oleh dosa menerima kebebasan yang sejati. Tidak ada seorang pun yang berhasil melakukan sepenuhnya tuntutan Allah. Ya, Alkitab bahkan mengatakan tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Yang mencari berkat Allah, perlindungan Allah, keselamatan dari Allah banyak; namun yang mencari Allah: tidak ada. Justru di sini Alkitab menyatakan bahwa dalam kelahiran Yesus Allahlah yang telah mencari manusia. Manusia yang terhilang, bukan Allah. Karena itu juga Allahlah yang mencari manusia, bukan manusia.

Yesus memerdekakan kita dari roh seorang budak. Apa beda seorang budak dan anak? Seorang budak tidak memiliki relasi dengan tuannya. Yang ada hanyalah relasi sebatas jasa – gaji: budak/hamba memberikan jasanya, tuan memberikan gaji. Sekarang dalam zaman kita tentunya tidak ada lagi sistem perbudakan seperti pada zaman yang lampau, namun masih banyak orang yang bekerja dengan mentalitas pegawai seperti ini: mereka tidak pernah merasa memiliki, mereka hanya bekerja demi uang, ya, singkat kata: professional. Berbeda dengan anak: ketika ia menaati Allah, ia menaati dengan sikap hormat dan karena kasih sebab seorang anak memiliki relasi dengan bapanya. Ia bukan menaati ayahnya untuk mendapatkan gaji melainkan karena ia mengasihinya. Seorang budak mengerjakan banyak hal sebagai kewajiban belaka. Tidak ada sukacita dalam dirinya. Bahkan, jika mungkin, lebih baik untuk tidak mengerjakannya. Segala sesuatu menjadi beban bagi dirinya. Seorang anak menaati perintah ayahnya dengan kerelaan hatinya dan dengan sukacita. Dia taat bukan hanya karena kewajiban belaka.

Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah kita memandang hukum-hukum Allah juga dengan mentalitas seorang budak? Terpaksa saya mengerjakannya, sebab jika tidak nanti saya celaka dan kena hukuman dari Allah? Sulit menikmati saat-saat beribadah kepada Tuhan dan melayani Tuhan karena itu melelahkan? Atau justru kita merasakan adanya dorongan kasih ketika kita menaati perintah-perintah Allah? Yesus telah datang ke dalam dunia untuk membebaskan kita dari keterikatan roh budak dan memberikan kepada kita Roh-Nya ke dalam hati kita yang sanggup memanggil Allah sebagai Bapa. Inilah saat kegenapan waktu Allah: mari kita merendahkan hati kita untuk mempersilakan Yesus bekerja dengan leluasa dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *