Kehadiran Allah: Sukacita dan Kegentaran

oleh Ev Eko Aria

Bacaan: Mazmur 17

Kita segera akan menutup tahun 2012 ini, 2012 terlewat begitu saja tanpa terasa dan nyaris tanpa makna. Salah satu ciri kehidupan saat ini adalah kedangkalan makna; dunia kita menghasilkan berbagai macam produk dan kita terus berlomba untuk membuat produk baru dalam percepatan yang semakin bertambah. Dari pager ke telepon genggam dan telepon genggam makin lama makin canggih dengan sangat cepat; dari harga yang mahal menuju semakin murah semakin multi fungsi semua melaju dengan sangat cepat. Manusia seolah dipaksa untuk berlomba dengan waktu yang terus berlari untuk mengejar perubahan-perubahan; memikirkan apa lagi yang akan dibuat; perkembangan dalam dunia teknologi secara khusus telah dengan sangat jelas kita saksikan. Dalam ukuran waktu yang sebenarnya tetap 24 jam sehari dan 365/366 hari setahun juga tersebut semakin lama kita semakin kekurangan waktu dan semakin panen kedangkalan. Setahun terlewat demikian cepat, makna yang mendalam bagi hidup kita hampir tak ada yang tersisa. Dalam setahun sebenarnya terjadi banyak hal yang menakjubkan. Ada anggota keluarga yang bertambah ada yang berkurang; ada yang lulus dari sekolah, ada yang lulus kuliah. Ada yang mendapat dan ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang hidupnya menjadi lebih mudah dan ada yang mejadi lebih susah. Namun dibalik semuanya satu kredo senantiasa kita amini dalam bibir kita bahwa Tuhan senantiasa ada, Tuhan senantiasa mengasihi kita. Ada waktunya Allah mengasihi kita, ada waktunya Allah menyertai kita, ada waktunya Dia menggandeng kita; namun tak ada waktu cinta-Nya absen dari kita. Maka cukup wajar jika kita memikirkan, adakah cinta kita terhadap Tuhan bertambah tahun ini, adakah semangat yang semakin besar, adakah keberanian untuk berpikir
dan bertindak besar bagi Tuhan?

Hari ini secara khusus kita akan merenungkan tentang keberadaan Tuhan dalam hidup kita. Sebuah perenungan yang aneh mengingat kita telah memiliki sebuah doktrin yang menjawab permasalahan ini, yaitu kemaha hadiran Allah. Namun sekali lagi ditengah dunia yang tanpa ampun melalap habis masa-masa kita merenungkan Allah; maka kemaha hadiran Allah semakin tersudut dalam buku-buku dan kelas-kelas PA belaka. Gereja yang semestinya menjadi wadah manusia bersua dengan Tuhan telah disulap oleh dunia kita menjadi ajang pertunjukan sirkus. Kita mendambakan atraksi yang lebih dan lebih lagi; kita kecewa jika si badut gagal memberikan “atraksi mimbar” yang lebih menawan ketimbang minggu lalu, atau ketimbang badut yang lain. Inilah “gereja sirkus” masa kini, menyedihkan. Sirkus menampilkan sesuatu dalam panggung bukan dalam kehidupan nyata; singa nan ramah, gajah nan lihai bermain drama itu semuanya hanya ada di sirkus bukan di dunia nyata. Kehadiran Allah dalam gereja sudah mirip sekali dengan hal ini, begitu kita keluar gereja dan diluar jam ibadah, maka selamat datang di dunia nyata yang tanpa Allah, mirip sekali dengan sirkus. Demikian pula dengan doa yang semestinya menjadi sarana murah dan mudah bagi kita untuk menikmati Allah telah berubah rupa menjadi semacam kewajiban agamawi yang memberatkan; kitab suci yang semestinya menjadi sarana kita mendengarkan suara Tuhan juga telah mulai menjelma menjadi sebuah buku wajib yang memantik rasa bersalah kita jika kita tidak membacanya. Pendek kata, kita semakin tersudut dan kehilangan ruang untuk Allah yang adalah pemilik segala ruang. Apa yang sedang terjadi dengan kita?

Mazmur 17 ini merupakan salah satu bentuk doa klasik Perjanjian Lama; menceritakan sebuah konfidensi besar ketika seorang dalam pergumulan hebat, konfidensi yang diperoleh dalam hadirat Allah. Mazmur ini mengetengahkan ide ini dengan sangat jelas terkhusus dalam bagian akhir yang dituliskan dalam frasa memandang wajah-Mu. Dalam PL dan PB wajah Allah adalah suatu hal yang menghasilkan efek yang sangat ekstrim; disatu sisi kita mendengarkan doa-doa sangat berani seperti Musa yang dalam depresi yang sangat dalam berkata show me Thy glory, atau Elia yang dalam kegalauan hebat mencari wajah Tuhan yang dijumpainya dalam angin sepoi-sepoi, pun kita tidak akan melewatkan Daud dalam berbagai lagu dan tindakannya. Disini wajah Allah menjadi penghiburan puncak dari jiwa manusia yang tertawan oleh kecintaan akan Allah. Disisi yang lain wajah Allah adalah sebuah kutukan besar yang sangat menakutkan; dalam kitab Wahyu dituliskan bagaimana orang fasik berharap gunung-gunung runtuh dan menimpa diri mereka karena mereka ketakutan akan wajah Tuhan. Sayang sekali tradisi seperti ini sudah nyaris sirna dalam kekristenan saat ini. Mencari muka Tuhan merupakan satu hal yang semakin lama menjadi semakin “murahan”, kita mengucapkannya dengan enteng tanpa pergumulan, tanpa ketakutan dan tanpa sukacita. Wajah Tuhan bisa menjadi non issue dalam hidup kita. Secara ironis tema wajah Tuhan sudah digeser dengan wajah dunia. Takut dan sukacita kita semakin lama semakin bergeser dari Tuhan menuju kepada dunia. Salib Kristus menyajikan kedua hal ini; disatu sisi penulis Injil Yohanes mengutarakan bagaimana salib adalah sebuah kemuliaan besar; Yohanes mengaitkan salib dengan ular tembaga yang ditinggikan; Yohanes mengaitkan Anak domba yang tersembelih dengan segala pujian dan hormat; sumber kehidupan, sumber sukacita. Teologi sedemikian banyak dihayati oleh para bapa gereja terkhusus hingga abad pertengahan bahkan sampai para bapa reformator kita. Calvin behkan menyatakan bahwa salib merupakan lencana keprajuritan; membicarakan kemuliaan tidak bisa diperkatakan terlepas dari salib. Namun disisi yang lain tidak ada orang yang mengerti sejarah Perjanjian Lama dan kebudayaan Romawi yang tidak melihat bahwa salib adalah hal yang sangat mengerikan. Menceritakan intrik busuk manusia berdosa, kekejaman yang nyaris tak berbatas. Menyalibkan seorang calon pembebas di hari pembebasan mereka (Paskah) adalah tindakan super intimidatif, terlebih dengan menaruhkan tulisan tiga bahasa dan memampangkannya untuk dilihat sebanyak mungkin orang; hal itu jelas brutal. Hal ini mirip dengan tindakan pembunuhan sadis seorang anak dihadapan bapaknya dihari ulang tahun anaknya. Kebrutalan puncak yang mengisahkan dengan sangat baik betapa murka Allah demikian menakutkan. Namun sekarang baiklah sekali lagi kita bertanya dalam diri kita saat ini; adakah kita membaca “wajah Allah” sebagai kemuliaan besar, sumber berkat sejati, kesukaan diatas segala kesukaan dan disisi yang lain kegentaran diatas segala kegentaran??? Kegentaran akan Allah saat ini sangat langka kita jumpai bahkan dalam gereja; perhatikan cara kita atau saudara kita berbusana, perhatikan dedikasi kita untuk ketapatan waktu; hanya dengan dua parameter saja kita bisa sedikit menarik kesimpulan; Allah yang “menakutkan” bukan saja lenyap dalam kebutaan dunia namun juga mulai terpojok dalam gelapnya gereja yang semakin sulit menjadi terang. Tidak ada bagian Alkitab yang mengisahkan bahwa kemuliaan Allah bisa dipermainkan; ada masa ketika manusia bisa menajiskan bait suci namun hal itu sama sekali tidak menyatakan bahwa Allah bisa dipermainkan. Hal tersebut hanya menyatakan bahwa perkenanan Allah telah meninggalkan mereka. Dalam segala ratap dan kesedihan mari kita renungkan hal ini; jika kita bermain-main dengan kehadiran Allah dan kita dibiarkan saja, maka mungkin Allah memang sudah tidak berkenan pada kita. Maukah kita hal ini terjadi??? Kita perlu segera bertobat!!! Demikian juga mari kita perhatikan seberapa besarnya sukacita kita ketika waktu berdoa tiba, waktu kita beribadah, waktu teduh kita tiba; bukankah kita lebih merasakan beban super berat ketimbang sukacita besar yang tak tertahankan. Tak dapat ditahan seperti ketika kita akan update status FB atau BB; atau bahkan sukacita besar ketika kata amin pertanda ibadah selesai telah diucapkan.

Mazmur ini dibuka dengan sebuah seruan; permintaan untuk Allah memperhatikan, menilai. Orang-orang benar merani membuka dirinya untuk dinilai dihadapan Allah. Bagi Daud dinilai dihadapan Allah adalah sangat krusial; ini agak atau mungkin sangat berbeda dengan kita saat ini. Permintaan untuk dihakimi dihadapan Allah bisa muncul dari dua macam sikap hati; pertama hati yang mengutamakan Allah, orang sedemikian membiarkan dunia berjalan dengan penilaiannya namun dirinya mendapati sekuritas dalam penilaian Allah. Disisi yang lain ada orang yang dalam hidupnya pengalaman akan Allah sangatlah jauh sehingga membuka diri dihadapan Allah tentu saja mudah; bagi mereka membuka diri dihadapan Allah sama sekali tidak memiliki konsekuensi. Bukankah banyak diantara kita yang seperti ini; kita mengaku dosa dihadapan Allah dengan sangat mudah; bukan karena sesal yang dalam namun simply karena kita anggap Tuhan tidak akan berbuat terlalu banyak, konsekuensi dosa dihadapan Tuhan jauh lebih kecil dibandingkan dengan dihadapan manusia yang kita segani atau yang bisa memberikan pengaruh cukup besar dalam hidup kita. Terkadang kita cukup berani jujur ketika berdoa, kita mengaku dosa ini dan itu, Tuhan saya sudah tidak benar, saya begini dan begitu; namun dihadapan manusia kita berusaha untuk menutupi. Ya manusia yang bisa memecat kita dari pekerjaan, manusia yang bisa marah dan dengki kepada kita dsb. Allah paling-paling ya diam saja. Sewaktu SMA saya sangat malas belajar; saya menulis rumus kimia pada tangan saya; dan jelas yang saya paling takuti adalah guru dihadapan saya. Bahkan saya berdoa; Tuhan tolonglah agar tidak sampai ketahuan guru, saya berdosa sudah tidak belajar, ampuni saya dan lindungi saya Tuhan. Dihadapan Allah masalah gampang untuk ditolerir, enteng saja minta ampun bahkan minta perlindungan. Dihadapan guru saya menutupnya sedemikian rupa; dihaapan Allah ketahuan tidak masalah, namun dihadapan guru bisa gawat, bisa dikasi 0 dalam nilai ujian. Daud bukan tipe sedemikian; dia tau bahwa manusia bisa dan bahkan telah melakukan ini dan itu terhadapnya; dia pernah diburu oleh Saul, dikudeta oleh Absalom, dikutuki oleh Simei; namun semua realita tersebut menjadi terlalu kecil bagi Daud. Daud “terlalu” sibuk memikirkan tabut, memikirkan perkenanan Allah terhadap dirinya. Orang seperti ini tidak sembarangan ketika mengatakan Engkau tidak akan menemui suatu kejahatan, mulutku tidak terlanjur. Sayang sekali jika doa seperti ini sangat jarang kita nyanyikan secara komunal; kita sebagai gereja Tuhan lebih sering berdoa bersama minta pengampunan ketimbang pernyataan diri tak bersalah seperti ini. Mengapa??? Karena kita jangan-jangan tidak peduli tentang hidup benar, hidup saleh tak bercacat; sehingga bisa berkata Tuhan bila engkau selidiki hatiku pada waktu malam, maka takkan kautemui kejahatan dalamku. Banyak Mazmur sedemikian yang tidak akan berbunyi dengan baik jika kita tidak pernah peduli untuk melatih seni hidup saleh, hidup tak bersalah dihadapan Allah.

Orang sedemikianlah yang dalam segala kepercayaan diri berkata ketika aku berseru Engkau menjawab aku. Gambaran singa muda yang mengendap ditempat yang tersembunyi mungkin agak asing bagi kita. Kita tau singa-singa dikebun binatang; singa penangkaran yang mendapatkan pasokan makanan dari tempat para pawang. Namun mereka yang hidup dalam dunia kuno dekat sekali dengan gambaran ini. singa adalah binatang yang berbobot besar; setelah harimau singa adalah spesies kucing besar yang terberat. Berat badannnya membuatnya tidak memiliki stamina yang tinggi; sehingga singa bisa berlari cepat namun tidak bisa berlari jauh. Singa harus mengendap sangat dekat dengan mangsanya; ketika cukup dekat singa menerkam, dan hanya dalam beberapa detik mangsanya akan tertngkap; singa tidak memungkinkan pengejaran panjang. Daud menyatakan lawannya sudah demikian dekat dengan demikian Daud berada dalam kedekatan dengan pengalaman kematian; tidak heran dalam berbagai Mazmurnya Daud mengungkapkan pengalaman “lembah bayang-bayang maut” seperti ini (Mzm 23:4). Namun dalam keadaan yang sangat “real” seperti ini Daud tetap menyatakan keyakinannya bahwa Allah akan melindungi dan meluputkan. Cukup sering kita mendengarkan nasihat atau memberikan nasihat bahwa hidup harus realistis, minta yang realistis dsb. ketika KKR di pulau Numfor Papua sebelum KKR, seorang datang menggendong cucunya yang lumpuh dia minta saya doakan; lalu saya berdoa dalam doa yang saya sesali setelahnya, doa yang klise yang singkatnya adalah kehendak-Mu jadi. Itu adalah doa aman, doa yang pasti terkabul yaitu kehendak Allah jadi; doa yang mencerminkan doktrin yang benar namun sering dilatari dengan kekurang percayaan akan Allah. Kami beberapa hamba Tuhan yang pelayanan di Papua ternyata mengalami beberapa bentuk yang mirip dan jawaban kami serta doa-doa kami ternyata agak tipikal yaitu doa aman yang miskin kepercayaan akan Allah. Kita berusaha “realistis” namun kurang sadar bahwa realita diatas segala realita adalah Allah. Kalau mau realistis manusia yang diintai singa yang mengendap sesungguhnya tidak ada harapan. Namun Daud tahu bahwa Allah adalah realita yang besar, justru realistis bagi Daud untuk menganggap bahwa Tuhan akan mendengarkan doa, memberikan pembelaan baginya.

Bagian terakhir Mazmur ini sangat menarik, dan menimbulkan berbagai macam perdebatan. Dalam teologi Perjanjian Lama kita belum mendapati bentuk yang cukup jelas berkaitan dengan ucapan berkat bagi para musuh. Abraham memang dijanjikan untuk menjadi berkat bagi semua bangsa; namun diikuti dengan kalimat bahwa siapa memberkati Abraham akan terberkati sebaliknya siapa yang mengutuknya akan dikutuk. Dalam Perjanjian lama banyak kisah Allah memakai bangsa asing, bahkan tak jarang para orang jahat untuk mendatangkan berkat bagi umat-Nya; mulai Bileam bin Beor, hingga bangsa Babel yang mengadakan pemurnian bagi Israel, hingga Koresh yang mendekritkan kepulangan bangsa Israel ke Yehuda. Namun sekali lagi kita belum mendapati konsep yang berkembang matang tentang mendoakan berkat kepada musuh seperti yang diperintahkan oleh tuhan Yesus. Disini kita melihat ada semacam kesulitan penerjemahan; ayat 14 dalam terjemahan LAI seperti memberikan ucapan berkat kepada para musuh. Hal ini sulit diterima dalam konsep Perjanjian Lama. Dalam penerjemahan bagian ini ada dua terjemahan besar tergantung kita mengikuti terjemahan yang tertulis atau yang dilisankan. Dalam Alkitab Ibrani ada perbedaan dua hal ini yaitu antara Qere dan Ketiv. Alkitab awalnya didesign bukan untuk dibaca namun dibacakan atau diperdengarkan; saya dalam hal ini lebih memilih untuk mengikuti tradisi Ketiv (tertulis) yang menyatakan bahwa ucapan berkat ini adalah bagi mereka yang jahat. Namun masih dalam keterlanjutan dengan teologi Perjanjian Lama; ucapan berkat ini menjadi suatu hal yang negatif; LAI dengan sangat baik menuliskannya orang-orang dunia yang bagiannya adalah dalam hidup ini. Bagian dalam hidup ini diteruskan dengan kekenyangan kepuasan bagi anak dan bayi-bayi. Ini semua dalam teologi penciptaan merupakan berkat besar dan memiliki nuansa yang sangat positif. Tipe berkat yang besar dan berkelimpahan; melimpah hingga dinikmati oleh tiga generasi. Namun ketika kita melihat dalam kaca mata dosa; dimana manusia dalam kitab Kejadian mulai terlepas dari Allah; mencari sumber bahagianya sendiri. Maka perkataan bahwa bagian mereka adalah dalam hidup ini menjadi sebuah kutukan yang sangat mengerikan. Hal ini bisa kita lihat ketika kita mengontraskannya dengan ayat terakhir; tetapi aku dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu dan pada wktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu. Wajah dan rupa; keduanya muncul sebagai berkat besar disini; dan hal ini adalah berkat yang sangat besar jika dibandingkan dengan bagian dalam dunia ini. Yang menarik adalah bahwa apa yang sejatinya merupakan berkat sangat besar; makanan, kelimpahan bagi anak cucu dsb ketika hal tersebut dikontraskan dengan kehadiran Allah maka sontok hal tersebut menjadi sampah. Paulus menyatakan bahwa semua kebangaan lahiriah (yang besar, yang sejatinya bukan hal negatif bahkan dalam teologi Paulus sendiri) dianggapnya sampah; segala kebanggaan dan keunggulan lahiriah yang dimilikinya sontok menjadi kehilangan arti ketika diperhadapkan dengan kehadiran Allah sendiri. Cukup bertolak belakang dengan pandangan beberapa denominasi yang mengunci berkat Allah dalam kelimpahan berkat jasmani. Dalam Mzm 17 ini justru sebaliknya. Berkat dan kelimpahan biarlah diberikan saja kepada orang fasik; ini bukan penyangkalan diri, namun dibandingkan dengan kehadiran Allah itu semua adalah sampah; meninggalkan sampah jelas bukan penyangkalan diri, dan memberikan sampah kepada orang lain jelas bukan berkat apa-apa. Dalam hal ini Daud menyatakan bahwa keberadaan Allah memuaskannya lebih dari berkat yang melimpah hingga tiga generasi.

Pada waktu bangun ayat ini mengisahkan sekali lagi kenunikan manusia yang dipuaskan oleh Allah. Dalam nuansa perang, dalam kondisi dikejar dan diintai musuh, bangun pagi merupakan suatu hal yang penting dan berita yang paling ditunggu semestinya adalah kalahnya musuh, terpukul jatuhnya mereka. Namun bukan itu yang menjadi penutup nyanyian ini; melainkan ketika bangun dia dipuaskan lagi-lagi oleh wajah Tuhan. Keberadaan Allah menutup realita-realita keterburonan dia. Orang-orang sedemikian sudah mengecap bahagia sorgawi selama hidupnya di bumi ini. Ayat ini juga bisa diresapi oleh mereka yang hidup jauh setelah Daud, mereka yan hidup dalam pembuangan dan bahkan setelah pembuangan yang mana mengartikan bagian ini sebagai hidup setelah kematian. Saya senang untuk mengertinya dalam kedua pengertian tersebut tanpa harus memilih. Disatu sisi dalam hidup kita saat ini ada pengalaman hadirat Allah, ada kepekaan untuk memandang wajah Allah; itu yang kita dapatkan dalam penyertaan Yesus dalam Allah Roh Kudus. Yesus adalah true shekinah glory. Orang-orang yang bagiannya adalah Allah disukacitakan setiap pagi oleh wajah Tuhan. Dia boleh buron, boleh diintai singa, boleh dirundung sakit penyakit, namun wajah Allah memuaskannya; memantik harapannya yang semakin membesar bahwa dalam kehidupan kekal nanti dia akan memandang wajah Tuhan dengan lebih jelas dan penuh. Saya percaya si buta Fanny Crosby yang menyanyikan and I shall see Him fae to face… akan sangat bersukacita ketika pertama kali matanya terbuka, pertama kali setelah sekian puluh tahun dirundung kebutaan yang demikian gelap; maka pertama kali yang dilihatnya bukan wajah suaminya, wajah kerabat dekatnya namun wajah Tuhan.
2012 telah kita tinggalkan, ada banyak hal yang terjadi, banyak hal yang berubah, banyak hal yang datang dan pergi; namun ada satu hal yang pasti. Allah hadir dan tak tinggalkan kita; demikian terus hadir dalam tahun-tahun mendatang kehidupan kita. Sekali lagi ada satu pertanyaan wajar yang perlu kita gumulkan; adakah cinta Tuhan, adakah semangat menyenangkan Tuhan terus bertumbuh dalam tahun-tahun penyertaan Tuhan ini??? Selamat bergumul di tahun 2013.
GOD be praised!!!