Kepemimpinan Rohani Seorang Laki-laki

Bacaan: Efesus 5:21-33

Ayat-ayat di atas biasa dipakai sebagai nats khotbah dalam pernikahan Kristen. Salah mengerti ayat ini bisa mengakibatkan suatu pernikahan yang tidak dibangun di atas dasar Kitab Suci melainkan hanya sebatas pernikahan a la budaya Timur. Apa maksudnya? Coba perhatikan, di situ dikatakan misalnya: “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” (ay. 22). Laki-laki mana yang tidak akan senang mendengar ayat seperti itu? Ya, terutama laki-laki orang Timur! Kita akan sangat menikmati ketaatan seorang isteri seperti itu, bukan? Namun saya kuatir, penafsiran seperti itu sangat one-sided kalau bahkan tidak mau dibilang keliru.

Perikop ini (ay. 22-33) menarik jika dikaitkan dengan 1 ayat sebelumnya saja (ay. 21). “Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain (Ingg: submit to one another) di dalam takut akan Kristus.” Betapa pentingnya ayat ini ditaruh mendahului ayat ke-22! Secara ordo ciptaan: isteri harus tunduk kepada suami; namun dalam konteks semua orang adalah ciptaan Tuhan: kita (laki-laki dan perempuan) harus saling merendahkan diri (submit) seorang kepada yang lain. Ini jelas berbenturan dengan kebudayaan Timur di mana hanya perempuan yang perlu merendahkan diri (tunduk), sementara laki-laki tidak perlu. Ordo berbeda dengan kebudayaan yang hirarkis. Banyak pernikahan rusak dan tidak lagi mempermuliakan Tuhan karena suami yang bersikap semena-mena terhadap isterinya. Salah tidak pernah minta maaf. Menjaga gengsi pribadi. Tidak mau dikoreksi dan menerima nasihat. Ya, pendek kata: congkak dan sombong!

Jelas ayat 22 tidak mengajarkan hal seperti itu. Lalu mengapa dikatakan isteri harus tunduk kepada suaminya? Karena suami terlebih dahulu menjalankan peran pemimpin/kepala seperti Kristus (23). Karena suami mengasihi isterinya sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat (25). Kepemimpinan berarti pengorbanan dan beban yang lebih berat harus dipikul, bukan otoritas semena-mena yang hanya menuntut orang lain takluk dan tunduk! Kasih dan pengorbanan yang tulus akan menggerakkan mereka yang dipimpin akan dengan rela dan sukacita menundukkan diri. Orang-orang percaya akan dengan senang hati menaati Kristus karena Kristus telah mati untuk menebus dosa-dosa kita. Seorang suami yang mengasihi isterinya akan memenangkan ketaatan dan penghormatan dari isterinya.

Berikutnya, sebagai sesama manusia ciptaan Allah, setiap orang (termasuk seorang suami) harus belajar untuk merendahkan diri seorang kepada yang lain (ay. 21). Ini berarti dia sendiri perlu memiliki kekayaan pengalaman menaklukkan diri kepada orang lain. Mereka yang tidak bisa tunduk kepada sesamanya (dan bukan hanya kepada Tuhan!) mustahil memiliki kuasa persuasif untuk membuat orang lain tunduk kepadanya. Seorang pemimpin yang agung adalah seorang yang bisa dipimpin. Tidak ada jalan lain bagi kepemimpinan yang alkitabiah.

Dalam konteks pernikahan, seorang suami juga diharapkan untuk menjadi pemimpin rohani bagi isteri dan anak-anaknya. Seorang suami harus menjalankan peran seorang raja, imam dan nabi bagi keluarganya. Raja dalam arti dia adalah seorang pemimpin yang adil, yang juga mencintai kebenaran-keadilan (righteousness). Menegur dan menghukum dengan adil. Memberikan apa yang menjadi bagian orang lain. Imam dalam arti dia mendoakan keluarganya di hadapan Allah. Memohon pengampunan untuk keluarganya. Dan adalah yang pertama yang bertanggung-jawab untuk kesalahan keluarganya. Nabi dalam arti dia memberikan pengarahan kepada keluarganya untuk mengerti dan melakukan kehendak Allah. Memiliki kepekaan atas apa yang dikehendaki Tuhan bagi keluarganya. Dan juga menegur dengan kuasa Tuhan ketika keluarganya berjalan menyeleweng dari hadapan Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita dan memberikan anugerah-Nya agar kita bisa menjalankan peran seorang suami yang berkenan kepada Tuhan.