Mazmur 8

Bacaan: Mazmur 8

Mazmur adalah satu kitab yang sangat unik dalam Kitab Suci. Yang pertama, karena panjangnya sendiri, kitab ini adalah memuat jumlah pasal yang terbanyak dalam seluruh Alkitab. Selain itu kitab ini, seperti Luther mengatakan, seperti sebuah Alkitab kecil, a little Bible, in it is comprehended most beautifully and briefly everything that is in the entire Bible. Ditambah lagi, kitab ini dapat dikatakan membicarakan kehidupan manusia beserta segala kompleksitas pergumulan hidupnya dari A – Z, “… in the words of this book (Psalm) the whole human life … is comprehended and contained. Nothing to be found in human life is omitted” (Athanasius), sehingga kitab ini realistis dalam jangkauannya, namun sekaligus visioner dalam gerakan pengertiannya. Di antara pasal atau nomor yang menjadi koleksi kitab ini, beberapa memang lebih mencuat dibanding yang lain. Seperti misalnya pasal 1, 19, 23, 42, 51, 73, 100, 121, 130, 150 dan mungkin masih banyak nomor yang lain. Di antara kumpulan favorit ‘evergreen’ tersebut Mazmur yang ke-8 sudah pasti dapat diletakkan dalam daftar di atas karena beberapa alasan: tema atau materi yang dibicarakan, pengaruh konsep yang diajarkan kepada banyak penulis yang lain, keindahan strukturnya, keindahan syairnya (yang mendorong banyak orang untuk menggubah nadanya) dan akhirnya nubuatan messianis yang ada di dalamnya.

Mazmur ini membicarakan kemuliaan dan kebesaran Allah yang dikaitkan dengan pengenalan manusia akan dirinya. Kebesaran atau keagungan Allah yang membawa manusia ke dalam kesadaran diri yang kecil, terbatas dan tidak berarti. Konsep ini (kebesaran Allah dan ketidak-berartian manusia) terus-menerus didengungkan dalam Kitab Suci, termasuk dalam tulisan Yesaya (pasal 6), Petrus yang menyuruh Yesus pergi karena dikuasai perasaan ketidak-layakan diri, Paulus yang menyebut dirinya yang paling berdosa di antara semua orang berdosa, bahkan di surga: para orang kudus yang tersungkur dan melempar mahkota mereka di hadapan Anak Domba Allah. Calvin mempergunakan konsep ini untuk menjadi prolegomena dari buku Institutio-nya, konsep Soli Deo Gloria yang terkenal itu pun tidak mungkin lepas dari Mazmur 8 ini, bahkan penulis mistik Teressa dari Avilla dalam karyanya Interior Castle mengatakan “… kita tidak pernah akan mengenal diri kita sendiri kalau kita tidak berusaha mengenal Allah. Dengan memandang kemuliaanNya kita merasakan kekejian kita; dengan memandang kemurnianNya kita akan melihat kecemaran kita …” Suatu konsep yang sangat mirip (kalau tidak mau dikatakan sama) dengan apa yang ditulis oleh Calvin.

Struktur Mazmur 8 ini ditulis dalam chiasme, sebuah struktur yang sangat sering dijumpai dalam literatur Ibrani (A – B – C – B’ – A’). Dalam pasal ini:

Kemuliaan nama Tuhan (ayat 1-2, terj. Ind. 1-3)
Langit sebagai ciptaan/buatan jariNya (ayat 3, Ind. 4))
Manusia sebagai makhluk yang tidak berarti (ayat 4, Ind. 5)
Manusia sebagai makhluk yang mulia (ayat 5, Ind. 6)
Binatang sebagai ciptaan/buatan tanganNya (ayat 6-8, Ind. 7-9)
Kemuliaan nama Tuhan (ayat 9, Ind. 10)

Yang pertama: kemuliaan nama Tuhan. Penyataan kemuliaan dan kebesaran Tuhan sesungguhnya dinyatakan secara jelas, maupun juga dalam cara yang lebih tersembunyi. Secara jelas dinyatakan dalam ciptaanNya yang besar, langit dan benda-benda penerang yang tergantung di atas. Daud kagum melihat keindahan alam ciptaan Tuhan, dia tidak bisa tidak, digerakkan oleh kekagumannya, memuji dan memuliakan nama Tuhan. Alangkah sulitnya bagi manusia kontemporer yang hidup di kota yang serba sibuk untuk mengambil waktu sejenak untuk bisa dengan jujur mengatakan “O Lord, my God, when I in awesome wonder … How great Thou art, how great Thou art.” Kita busy and busy, bekerja dan bekerja, belajar dan belajar, mengurus anak dan mengurus anak, dan akhirnya kita kehilangan sukacita yang terpenting, yaitu ketika tidak mampu lagi melihat kemuliaan dan kebesaran Tuhan dalam keseharian kita. Namun Tuhan tidak hanya menyatakan kemuliaanNya pada ciptaanNya yang besar dan perkasa, melainkan juga dalam ciptaanNya yang kecil, bahkan paling rentan dan tidak berdaya, yaitu dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang sedang menyusu, dalam ciptaan kecil itu Tuhan pun menyatakan kemuliaanNya. Dalam kelemahan bayi itulah Allah menetapkan kekuatanNya yang dahsyat. Allah menyatakan kebesaranNya dalam ciptaanNya yang besar dan ciptaan itu tidak pernah memuliakan diri mereka sendiri. Allah menyatakan kekuatanNya melalui makhluk yang lemah dan makhluk itu bahkan tidak tahu bagaimana memuliakan diri mereka sendiri karena mereka begitu sederhana untuk mengetahui apa itu kesombongan. Segala kemuliaan kembali kepada Allah.

Kutukan yang terbesar dalam hidup manusia adalah setelah kejatuhannya, manusia kehilangan, atau lebih tepat, kekurangan kemuliaan Allah (fall

short) dalam dirinya. Bukan hanya demikian, ia bahkan tidak sanggup lagi melihat kemuliaan Allah yang terdapat di sekitar dirinya. Mata rohaninya sudah kabur kalau tidak mau dikatakan buta. Inilah juga kutukan yang terjadi dalam dunia science. Manusia menggali dan mempelajari banyak hal dari dunia ciptaan, namun manusia gagal melihat jejak tangan Penciptanya, manusia tidak lagi melihat alam sebagai buatan jariNya. Akhirnya yang terjadi adalah entah manusia memperilah alam, seolah alam memiliki kuasa yang tidak terbatas, atau manusia kemudian memperilah dirinya sendiri atau memperilah kemanusiaan (the problem of secular humanism). Kita semua pernah belajar (bahkan sekarang juga masih belajar), dan bukankah tidak selamanya kita tekun dengan gairah yang tetap untuk mempelajari berbagai macam disiplin ilmu? Senang tidak senang kita harus tetap tahan, karena kalau tidak belajar tidak lulus, tidak lulus tidak ada ijazah, tidak ada ijazah tidak bisa melamar pekerjaan, tidak bekerja nanti menjadi pengemis. Suatu alur yang tampaknya dengan sendirinya akan bergerak seperti itu, namun di manakah prinsip kebenaran firman Tuhan yang mengajarkan “Galilah dan taklukkanlah alam semesta sebab kalau tidak engkau tidak akan ada income”? Memang ada ayat yang mengatakan “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”, tetapi makan (dan semua kebutuhan ekonomis yang lain!) tidak akan pernah menjadi tujuan terakhir dari penguasaan manusia atas alam ciptaan. Orang belajar supaya mendapatkan gaji yang baik, sungguh merupakan hal yang sangat umum di jaman kita, namun ini sama sekali bukan ajaran Alkitab. Alkitab mengajarkan kita menyelidiki alam untuk mengagumi jejak tangan Tuhan yang terdapat dalam seluruh ciptaanNya. Terlalu idealis? Bagi orang yang cinta uang, ya. Tapi, tidak bagi orang yang mau hidup memperkenan hati Tuhan. Kejenuhan manusia dalam seluruh aktivitas hidup yang manapun, entah itu pekerjaan, sekolah, kehidupan rumah tangga, keluarga, hobby, rekreasi, main game, pelayanan, dikarenakan satu hal saja: manusia gagal mengaitkannya dengan keberadaan Penciptanya, yang kemuliaanNya senantiasa mengagumkan dan menyegarkan jiwa manusia.

Van Til, seorang teolog Reformed, begitu setia untuk terus menekankan pandangan, bahwa pengetahuan yang sejati, pengetahuan akan kebenaran apapun juga, tidak pernah dapat dipisahkan dengan pengenalan akan Pencipta. Ketika manusia mengerti suatu kebenaran yang diselidikinya dalam dunia ciptaan, dia harus mengaitkan hal itu dengan seluruh kebenaran sehingga pengetahuannya memiliki koherensi dengan totalitas kebenaran yang sejati. 2+2=4 misalnya adalah kebenaran matematis yang tercakup dalam hukum numerik, hukum numerik ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkait dengan hukum-hukum yang lain, dan yang terutama tidak mungkin tidak dikaitkan dengan Allah Sang Pencipta. Ketika kaitan kebenaran ilmu alam ini dipisahkan dengan Penciptanya, maka pengetahuan yang didapat menjadi pengetahuan yang fragmented, disintegrasi terjadi di situ (dalam pemikiran dan pemahaman manusia), manusia sendiri akhirnya semakin terpuruk dalam disintegrasi pribadinya (tanpa dia sendiri sadar atau mau mengakuinya), yang akhirnya membawa kepada disintegrasi keluarga, komunitas, bangsa dan negara, dan terakhir disintegrasi dengan seluruh ciptaan. Manusia tidak dapat lagi mengerti apa makna sesungguhnya dibalik penyelidikan yang dia kerjakan. Manusia kehilangan tujuan dunia diciptakan yaitu agar manusia dapat melihat kemuliaan Tuhan (fall short of the glory of God). Di dalam Teologi Reformed sangat ditekankan studium integral, belajar dengan mengaitkan aspek yang satu dengan aspek yang lain, dan terutama kaitannya dengan Allah sebagai sumber segala kebenaran. Baru di situlah manusia akan memiliki gairah yang benar dan kudus untuk menggali dan mempelajari dunia ciptaan. Tanpa melihat dan dibuat kagum oleh kemuliaan Allah, segala jalan hidup manusia akan sangat membosankan!

Dalam Mazmur ke-8 ini, pemazmur begitu takjub ketika melihat ciptaan Allah yang besar, dia dilingkupi oleh perasaan kebesaran ciptaan tersebut dan ketika ia membandingkannya dengan dirinya sendiri, mendapati bahwa ia begitu kecil dan remeh. Anak kecil berbeda dengan orang dewasa, anak kecil melihat hal yang besar bisa merasa takjub, sebagian bahkan mungkin merasa takut. Mengapa? Karena biasanya dia membandingkan hal yang besar itu dengan menjadikan dirinya sebagai titik acuan (mengenai konsep ini saya berhutang kepada Ev. Yadi S. Lima) sementara orang dewasa tidak lagi mengalami hal itu karena dia tidak lagi menjadikan dirinya sebagai titik referensi, melainkan ketika melihat sesuatu yang besar, membandingkannya dengan yang lain yang juga besar, sementara dia sendiri berdiri sebagai subyek yang memperbandingkan obyek yang satu dengan obyek yang lainnya. Manusia dewasa akhirnya kurang mengenal dirinya sendiri. Di sini kita berhenti sejenak untuk mengagumi perkataan Tuhan kita “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Anak kecil memang mengagumkan, mereka memiliki banyak kelebihan daripada orang yang sudah dewasa. Daud ternyata tidak kehilangan sifat anak kecil ini ketika dia melihat ciptaan Tuhan yang besar, dirinya diliputi oleh perasaan kemuliaan Allah yang membawa kepada pengenalan diri (dan seluruh umat manusia) sebagai ciptaan yang remeh dan hina. Daud overwhelmed by the glory of God in His creation.

Justru pada titik inilah terjadi turning point yang sesungguhnya. Ketika manusia mengakui dirinya sebagai ciptaan yang tidak berarti, di situlah pengenalan akan dignitas yang sesungguhnya dinyatakan oleh Tuhan. Alangkah berbedanya konsep ini dengan apa yang diajarkan oleh dunia. Dunia mengajarkan kemuliaan manusia dalam kekayaan, kalau miskin dihina orang, maka harus berusaha menjadi kaya karena kalau kaya orang tidak bisa memandang rendah, berapa banyak orang yang mengejar kekayaan hanya sekedar supaya mendapat penerimaan diri yang lebih layak? Orang kaya yang dihormati karena kekayaannya perlu berhati-hati kepada orang yang hormat karena dia kaya, sebab sesungguhnya orang itu bukan menghormati orangnya, melainkan kekayaannya, orang demikian adalah orang yang jahat. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kemuliaan manusia didapatkan dalam kekayaan. Yang lain lagi meletakkan kehormatan manusia pada kepandaian dan kecerdasannya. Kita memang cenderung kagum kepada orang yang lebih pandai daripada kita (ya, paling tidak ini masih lebih baik daripada iri hati atau sirik kan J). Kagum memang tidak salah dan bukan dosa, tapi apa yang kita kagumi sebenarnya? Adakah kekaguman itu dikaitkan dengan anugerah Tuhan yang dinyatakan dalam diri orang yang kita kagumi itu, atau lebih merupakan kekaguman yang bersifat kekanak-kanakan (seperti jemaat di Korintus ‘kagum’ kepada Paulus, yang lain kepada Petrus, yang lain lagi kepada Apolos, dan yang paling heboh ‘kagum’ kepada Kristus)? Saya baru-baru ini membaca dalam satu buku suatu tulisan yang mencoba untuk memberikan rating IQ kepada komponis-komponis besar. Coba Saudara tebak, siapa yang tertinggi? Laporan itu mencatat Mozart dan Mendelssohn sebagai yang tertinggi dengan IQ 155 dan 150, Haendel 145, Beethoven 135, Bach hanya 125!!, dan Glueck 110. Kita yang mempelajari musik mungkin akan menghina rating yang kita anggap sama sekali tidak mewakili kebesaran para komponis ini (kita bahkan mungkin berpikir yang menyelidiki kemungkinan besar tidak terlalu mengerti musik), namun rating semacam ini mungkin berguna untuk menghentakkan kita bahwa sekedar IQ yang tinggi (bahkan mungkin jauh lebih tinggi dari Bach!) tidak tentu menjadikan seseorang lebih besar dari nama-nama di atas yang kecerdasannya biasa-biasa saja. Masih perlu contoh lain? Martin Luther, refomator besar itu, di kelas hanya mendapat urutan yang ke-30 dari 57 murid. Mencapai top 50% pun tidak! Jadi, kecerdasan itu sebenarnya apa ya? Lalu mengapa begitu banyak orang mengidolakannya, seolah kehormatan dan kemuliaan manusia boleh diwakili olehnya?

Yang lain lagi menempatkan kehormatan manusia pada keindahan parasnya. Operasi plastik ndak pernah puas sampai ndak bisa dioperasi lagi! Takut sekali mengalami proses penuaan, apalagi kalau terserang penyakit yang merusak keindahan fisik, seluruh hidup seperti menjadi tidak berarti lagi. Bijaksanakah orang yang berlaku seperti ini?

Yang lain mungkin sangat menjaga penampilannya, karena dia pikir penampilan yang baik akan membawa penghormatan dari orang lain. Memang, di satu sisi, kita sebisa mungkin tampil rapi dan jangan penampilan kita menjadi celah orang lain tersandung karenanya. Tapi di sisi yang lain, Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kehormatan didapatkan dari penampilan yang sebaik mungkin. Sekurangnya ada dua hal yang sangat mengagumkan dalam peran film Passion of the Christ yang terkenal itu. Yang pertama adalah tokoh yang memerankan Yesus, tapi yang tidak kalah hebat adalah pemeran orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat yang sangat baik dalam memerankan dignitas manusia yang coba dibangun dalam fondasi yang rapuh dan rentan, dan salah satunya adalah cara berpakaian! Coba bandingkan pakaian yang dikenakan ahli-ahli Taurat itu dengan pakaian yang digunakan oleh Yesus dan para rasul. Mereka terlihat sangat gagah, bahkan ketika jubah dikoyakkan pun tetap gagah! Orang-orang yang sangat menjaga penampilannya, harap-harap dari situ orang boleh menghargai dia, sebenarnya sangat mirip dengan orang-orang Farisi ini. Mereka sangat naif karena berpikir kehormatan boleh didapat dari hal-hal yang bersifat fenomenal, dan bukannya dari inner being (entah itu pakaian, cara berjalan, cara senyum, ritual keagamaan, jabatan dan sebagainya).

Masih banyak daftar yang hampir tidak terbatas bisa kita susun bagaimana cara dunia membangun kehormatan dan kemuliaan manusia, semuanya akan lenyap ketika Tuhan datang kembali untuk menghakimi umat manusia. Alkitab menyatakan dengan sangat jelas bahwa kehormatan atau dignitas manusia yang sejati dinyatakan justru ketika ia merendahkan dirinya.

Tidak ada teladan yang lebih sempurna selain Yesus Kristus sendiri. Ia meninggalkan segala tahta kemuliaan dan kehormatan yang dimilikiNya sebagai Anak Tunggal Bapa, turun ke dalam dunia yang kotor dan hina, bahkan sampai titik yang terendah, Dia dihina, dihindari orang, ditolak, dipermalukan, disalibkan. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan “tidak ada suatu pun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepadaNya” (Ibr 2:8). Allah menaklukkan segala sesuatu kepada Yesus. Dia mendapat kemuliaan yang tertinggi melalui perendahan diriNya. Mazmur ini (8) memang membicarakan Yesus Kristus, sebagaimana dikutip oleh penulis surat Ibrani dalam pasal yang ke-2. Berbahagialah mereka yang di dalam Yesus Kristus, merendahkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah, karena orang-orang seperti itulah yang menyatakan kemuliaan manusia yang sesungguhnya.

Dalam titik inilah Daud menyadari bahwa manusia yang begitu rendah sesungguhnya ditempatkan begitu tinggi, mulia dan hormat, bahkan dibuat hampir sama seperti Allah, sedikit lebih rendah daripadaNya. Ia diciptakan sebagai gambar-rupa Allah (God’s image) dan satu hal yang sangat jelas menyatakan hal ini yaitu penguasaan manusia atas ciptaan yang lain. Sebagaimana Allah adalah Allah yang memerintah dan berkuasa, demikian manusia diberi kepercayaan oleh Penciptanya untuk memerintah, menguasai menaklukkan alam. Mari kita perhatikan sejenak hasil karya manusia sebagai gambar-rupa Allah entah itu membangun Pyramida, katedral-katedral pada jaman abad pertengahan sebagai pencakar langit yang tidak tertandingi selama beberapa abad, jembatan-jembatan megah yang menaklukkan air yang ada dibawahnya, atau sepotong kayu kecil dengan bendera yang ditancapkan di atas puncak sebuah gunung, detail kontrol seorang komponis atas suatu komposisi musik, lukisan seorang artist yang ‘menaklukkan’ alam di atas sebuah kanvas dan masih banyak lagi, semua ini menyatakan kebesaran manusia yang mengikuti Penciptanya sebagai Penguasa dan Penakluk.

Namun persoalannya, ketika semua ini dilakukan manusia tanpa mengembalikan segala kemuliaan hanya kepada Pencipta yang satu-satunya, manusia tidak lagi menyerupai Dia, melainkan akan lebih menyerupai binatang-binatang (beasts). Ini ironis yang terbesar dalam kehidupan manusia, manusia akhirnya tidak lagi melihat ke atas, melainkan melihat ke bawah dan mengambil ciptaan yang lebih rendah sebagai teladan hidupnya. Nebukadnezar, Nero, Hitler adalah sedikit dari sekian banyak contoh yang mencerminkan manusia yang merusak dirinya sendiri sebagai gambar-rupa Allah dan hidup lebih menyerupai binatang liar. Ayat 7-9 dalam Mazmur ini tidak mungkin bisa dilepaskan dengan ayat 10, sebuah doxology yang mengembalikan segala sesuatunya demi kemuliaan Allah. Manusia boleh berkarya, bahkan berkarya sebesar apapun, menaklukkan alam yang paling ganas, menyatakan kemenangan dan kelebihannya atas ciptaan yang lain, asalkan ia melakukan semuanya itu demi memuliakan Penciptanya. Ketika manusia mengembalikan segala kemuliaan kepada Allah di situlah kembali dinyatakan kehormatan manusia yang paling tinggi, tujuan hidup yang tertinggi, kemuliaan hidup yang tertinggi.

Pemazmur dengan sangat tepat mengulang ayat yang pertama di akhir mazmur ini. Ini bukan pengulangan yang percuma, ini adalah suatu pengulangan yang menyatakan prinsip yang sangat penting yang boleh dinyatakan dalam struktur chiasm yang sudah kita bicarakan sebelumnya. TUHAN adalah Alfa dan Omega, yang awal dan yang akhir, sebagaimana dituliskan oleh para penulis Perjanjian Baru, kita menerima kasih karunia demi kasih karunia (grace upon grace), dari iman kepada iman (from faith to faith), dan diubah menjadi serupa dengan gambarNya (God’s image), dari kemuliaan menuju kemuliaan (from glory to glory), 2 Cor 3:18.

Kiranya Tuhan segala kemuliaan, memberikan kepada kita kasih karuniaNya untuk memperoleh kehidupan yang sedemikian.

4 thoughts on “Mazmur 8

  1. hi (Pak Billy?),
    saya suka dengan website ini, dapat banyak berkat. bacanya sendiri ga teratur, karena kalo dirumah, terlalu banyak tawaran lain ;) tapi saya barusan download banyak artikel dr site ini buat dibaca offline, pas dalam perjalanan. saya sendiri sih bikin pdf buat data buat dibawa2x kemana. site ini udah bagus banget, bisa mail, bisa kirim ke facebook, etc. cuma saya sendiri lebih prefer pdf buat baca offline. mungkin ini ide berikutnya, jadi tiap artikel ada pdf-data nya buat di download dan baca offline?
    Tuhan memberkati pekerjaan baik kita untuk kerajaanNya.

    Gruß,
    yuliana

  2. Pak,
    say mau tanya untuk Doxology yang biasa dinyanyikan di bagian akhir kebaktian, sebaiknya seperti apa musiknya dan cara menyanyikannya? apakah yang cenderung grand (seperti lagu Majesty) atau yang lebih tenang? tks.

  3. Good question. Kalau mengikuti gaya Genevan Psalter (hymn tune ini sebenarnya berasal dari situ) menyanyinya riang dan ceria. But since kita pakai ritme yang simplified version (yang biasa dinyanyikan tiap minggu itu) pembawaannya menurut saya lebih cenderung ke maestoso (majestically).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>