Spiritual Battle

Bacaan: Mazmur 144

Ini adalah satu Mazmur pujian, yang dimulai dengan kata pujian, tetapi ini bukan suatu pujian biasa. Jika kita baca koleksi Mazmur nomor-nomor yang terakhir sampai puncak doksologi dari Mazmur 150, kita mendapati bahwa banyak yang tergolong Mazmur pujian. Mazmur pujian biasanya memiliki alasan seperti Tuhan membebaskan, Tuhan menyelamatkan, dan sebagainya. Tetapi di dalam Mazmur 144, ditulis bahwa Daud memuji Tuhan bukan karena keselamatan (meskipun hal ini ada dalam ayat-ayat yang berikutnya), tetapi oleh karena dia dilatih oleh Tuhan, oleh suatu pembentukan Tuhan di mana dia belajar berperang. Kalau kita membaca dalam bagian Alkitab yang lain, kita membaca tokoh-tokoh yang lain seperti Musa, Yeremia, Paulus, Timotius dan lain-lain, mereka mengalami pembentukan Tuhan dengan cara-cara yang berbeda. Ada yang seperti Paulus yang mengalami pembentukan dalam 3 hari, ada juga yang dibentuk sampai 40 tahun seperti Musa. Lalu ada orang yang seperti Yakub yang memiliki karakter tidak baik (penipu), ada juga seperti Natanael yang memiliki ketulusan hati, ada yang terlalu berani seperti Petrus, ada yang cenderung penakut/pemalu seperti Timotius. Ada yang harus belajar untuk berdiam diri dan mempersilakan Tuhan yang berperang baginya, ada yang harus diajar berperang seperti Daud.

Di sini Daud mengalami pembentukan secara khusus dan rupanya kesulitan yang ada dalam diri Daud bahwa dia cende2ung suka menikmati keadaan yang tenteram dan damai, perlu dilatih untuk memiliki fighting spirit karena dia sedang dipersiapkan menjadi pemimpin, menjadi raja dalam penetapan Tuhan, tetapi dia sendiri belum mempunyai suatu karakter yang cukup. Dia memang seorang penggembala domba, itu juga adalah bagian dari pembentukan Tuhan, tetapi itu tidak cukup. Tuhan terus melatih dia untuk belajar berperang/bertempur.

Di dalam teologi Reformed, kita menekankan fighting spirit sebagai suatu warisan yang kita terima dari para Reformator. Banyak gereja-gereja yang tadinya pernah diberkati, dilawat oleh Tuhan, lalu lambat laun kehilangan semangat berperang sehingga akhirnya menjadi gereja yang tidak lagi memiliki signifikansi. Pengenalan kita akan Allah akan membawa akibat pada karakter kita, pada seluruh pengikutan kita kepada Tuhan. Kalau kita mengenal Allah sebagai sahabat sejati (Alkitab memang mengajarkan juga pengenalankseperti ini), kita akan memiliki kerohanian yang dipengaruhi oleh pengenalan tsb. Kalau kita mengenal Allah sebagai seorang hakim atau polisi, kita akan hidup dipenuhi ketakutan akan hukuman Allah. Kalau kita mengenal Allah sebagai tuan yang jahat (seperti yang dimengerti oleh hamba ketiga dalam perumpamaan tentang talenta), kita akan enggan mengembangkan talenta kita karena kita pikir Tuhan hanya mau cari keuntungan dan kebahagiaanNya sendiri dan bukan kebahagiaan saya. Konsep kita tentang Allah, entah itu sebuah doktrin yang solid atau doktr)n yang tanpa doktrin, secara sadar atau tanpa kita sadar, akan mempengaruhi pengikutan kita akan Allah.
Salah satu tema yang penting dalam Teologia Perjanjian Lama adalah Allah yang dikenal sebagai warrior. Kita sedang berada dalam konteks kehidupan yang pluralistis, dengan pesan-pesan seperti yang disampaikan dalam film Kingdom of Heaven misalnya. Konsep Allah sebagai Allah yang berperang mungkin menjadi batu sandungan bagi orang jaman ini yang sulit untuk mengerti bagaimana mungkin Allah yang Mahakasih sekaligus adalah Allah yang suka berperang dan menimbulkan pertumpahan darah? Orang lebih suka mengenal semacam Allah yang sepenuhnya kasih, tanpa murka. Tema Allah sebagai warrior adalah sebuah pengenalan yang sulit diterima oleh manusia yang berdosa, termasuk kita. Tetapi pengenalan ini adalah pengenalan yang kita terima dari FirmankTuhan yang bukan saja ada dalam Perjanjian Lama, mulai dari Kejadian, bahkan terus dibicarakan dalam kitab-kitab Injil dan akhirnya sampai kitab Wahyu, secara konsisten membicarakan Allah sebagai warrior. Allah yang menang adalah tema besar dari kitab Wahyu, Tuhan yang tampil sebagai pemenang, Tuhan yang mengalahkan dan membinasakan musuh-musuhNya, Tuhan yang mengikutsertakan orang-orang yang mengikut Dia untuk berbagian di dalam kemenanganNya. Ini salah satu tema besar di dalam Alkitab, yang terbentang dari awal sampai dengan akhir.

Di dalam Chronicles of Narnia, ada satu bagian yang mengisahkan bagaimana Aslan terlebih dahulu mengumpulkan tentaranya sebelum bertempur. Film ini memang merupakan alegori (atau ada juga yang mengatakan “supossing”) cerita yang dinyatakan dalam Alkitab, yaitu pertempuran antara Kristus dan musuh-musuhNya. Kalau mau bertempur sendiri tentu tidak ada yang mustahil bagiNya karena Ia Mahakuasa, Dia bisa mengalahkan semuanya. Tetapi Ia lebih suka menunggu dengan mengumpulkan tentaraNya, sampai saat yang tepat perang itu diumumkan. Sekalipun Tuhan memang bisa berjuang sendiri dan tidak perlu bantuan manusia, tetapi Dia mau mengikutsertakan orang-orang untuk turut ambil bagian dalam peperangan rohani itu dan akhirnya berbagian juga dalam sukacita kemenangan. Sekali lagi, karakter kita akan sangat dipengaruhi oleh doktrin Allah yang kita percaya. Kita akan merefleksikan pengertian kita akan Allah yang kita percaya (entah itu benar atau salah). Pengenalan akan Allah selalu bersifat reflektif dan transformatif. Kalau kita mengenal allah panteis, allah seperti yang dipercaya oleh Spinoza, Hegel dan sekarang orang-orang New Age, kita dapat menjadi seperti allah, mendemonstrasikan kuasa atau potensi yang ada pada diri dan berlagak seperti Allah.

Berapa banyak dalam gereja-gereja sekarang masih dinyanyikan lagu-lagu yang menceritakan peperangan rohani yang harus dialami oleh setiap orang percaya? Celakanya, sebagian dari lagu-lagu seperti ini sungguh-sungguh dipergunakan dalam perang fisik, antar agama atau antar suku, suatu penyalah-gunaan darikorang-orang yang tidak mengerti iman mereka dengan baik. Orang beragama yang tidak mengerti siapa musuh mereka yang sesungguhnya dan menukarnya dengan musuh yang dapat dilihat, diraba dan akhirnya dipukuli dan dibunuh. Trauma seperti ini mungkin turut berbagian juga dalam menggeser lagu-lagu peperangan rohani dalam daftar repertoire musik sakral, sehingga yang lebih gampang dikonsumsi adalah Yesus Gembala yang baik, seperti rusa rindu sungaiMu, dan lagu-lagu ‘romantik’ yang lain. Memang ini juga merupakan satu aspek pengenalan akan Allah yang diperkenalkan oleh Alkitab (the romantic element of christian faith), tetapi bukan satu-satunya. Kita menjadi orang Kristen 9ang berada dalam kehidupan yang berkelimpahan ketika kita mengenal aspek-aspek pengenalan itu secara utuh dan salah satu tema besar dalam Teologia Perjanjian Lama adalah mengenal aspek kekayaan tersebut. Di dalam Perjanjian Lama, Tuhan dikatakan dengan berbagai sebutan seperti gunung batuku, kota bentengku, keselamatanku, perisaiku, gembalaku dan masih banyak yang lain. Pengenalan yang kaya ini membawa orang percaya memiliki kehidupan yang ada dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Sebaliknya pengenalan yang hanya sisi itu-itu saja akan membawa reduksi (penyempitan) hidup yang dijanjikan oleh Yesus.

Dalam kehidupan Daud, dia juga belajar mengenal Allah sebagai gunung batu, yang mengajar ia berperang, tempat perlindungan, kubu pertahanan, perlindungan, kota benteng, penyelamat, perisai, yang menundukkan bangsa-bangsa di bawah kuasanya. Di dalam kehidupannya, Daud terus-menerus mengalami pembentukan Tuhan, musuh yang harus dihadapi seperti tidak habis-habisnya. Daud tidak hanya menanggapi musuh secara horisontal, tetapi dia mengaitkan kesulitan horisontal tersebut dalam relasinya dengan Tuhan, dan inilah yang menjadikan dia bertumbuh. Kita sering mendengar kutipan bahwa Martin Luther tidak dapat bekerja, berkhotbah, menulis, pendek kata, berkarya lebih baik kecuali ketika dia diinspirasi oleh suatu kemarahan yang suci. Ketika kita menyelidiki lebih jauh “Apa yang membuat dia marah?” Kita akan mendapati bahwa di situ ia sedang ditempatkan dalam suatu keadaan peperangan rohani, dan itulah yang membuat dia memiliki suatu kemarahan yang kudus. Kemarahan itu lahir dari suatu fighting spirit, bukan sekedar kemarahan kepada manusia-manusia yang lain, melainkan kemarahan kepada si jahat. Inilah yang membuat pelayanannya begitu diberkati.
Daud justru menyatakan kebesaran dan kemuliaan Allah ketika berada dalam keadaan seperti itu. Tetapi dia jatuh ketika tidak sadar bahwa bangsanya sedang berada dalam peperangan. Alkitab mencatat “Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, … Daud sendiri tinggal di Yerusalem. … Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya …” (II Sam 11:1-2). Ia seharusnya berada di medan peperangan, namun ia berjalan-jalan dan akhirnya matanya melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat jika ia menjaga fighting spirit, di situlah Daud, sang pahlawan yang pernah menumbangkan Goliat, jatuh. Ketika kita menghadapi banyak pergumulan, kita memang bisa kelelahan. Suatu peperangan yang sangat melelahkan dan sepertinya tidak ada habisnya. Kita ingin menikmati seperti yang tertulis dalam Mazmur 23 “padang rumput yang hijau, air yang tenang”, karena kita lelah dengan pengalaman lembah kekelaman. Tetapi seringkali justru ketika kita berada dalam ketenangan, kita begitu gampang terjatuh ke dalam keadaan yang lebih bahaya. Di dalam spiritualitas kristen yang benar, kita tidak mengenal adanya dualisme antara ada waktu untuk berperang dan berjaga-jaga, tapi ada juga waktu untuk tidur, menikmati diri, santai dulu. Seolah-olah ada waktu untuk berperang bagi kerajaan Allah, ada waktu untuk diri sendiri. Kita membaca dalam cerita Gideon, orang-orang yang dipilih Tuhan dan dipandang layak untuk turut-serta dalam peperanganNya adalah mereka yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya (Hak 7:4-6). Apakah ini berarti mereka yang minum pakai tangan lebih sopan (lebih tahu table manner atau sungai manner) dari pada mereka yang menghirup air dengan lidahnya? Seorang pengkhotbah menafsir bagian ini dengan sangat tepat: Persoalannya adalah mereka yang minum dengan tangannya adalah mereka yang sadar bahwa mereka masih di dalam keadaan peperangan. Mereka yang minum seperti anjing menjilat, sambil minum mereka tidak mempertahankan lagi kewaspadaan, sikap berjaga-jaga dan dengan demikian mengendorkan fighting spirit mereka. Kelompok yang terakhir ini hidup dalam dualisme, mereka pikir “inilah saatnya minum air, saatnya rileks, dari tadi tegang terus, sekaranglah waktunya istirahat, tidak perlu berjaga-jaga lagi karena memang waktunya minum.” Demikian juga dalam perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Kesepuluh gadis itu memang sama-sama tidur, mereka semuanya beristirahat. Lima gadis bodoh ini tertidur dalam pengertian yang sebenar-benarn9a, tetapi lima gadis bijaksana ini tidur tetapi hati mereka bangun dan berjaga-jaga. Yang satu hidup dalam dualisme dan yang lain hidup berintegritas. Memang tidak salah minum air, persoalannya bukan di situ, juga bukan karena mereka tidur (karena semua orang memang perlu tidur). Namun jauh di dalam lubuk hati Tuhan sesungguhnya mengetahui keadaan kita yang sesungguhnya. Tidak ada dualisme antara waktu untuk menikmati Tuhan dan waktu untuk menikmati diri, antara waktu untuk berjaga-jaga dan waktu untuk bersenang-senang bagi diri sendiri. Ini membuat kehidupan kita kacau dan tercabik-cabik. Kesulitan yang tidak habis-habisnya, peperangan yang tidak kunjung selesai memang mudah menggoda kita untuk masuk dalam perangkap dualisme ini.

Dalam salah satu buku tentang bagaimana belajar dengan baik dan cepat (konon ada hubungannya dengan teori Quantum J), dibahas tentang salah satu metode yang baik adalah setelah selesai belajar atau ujian ada perayaan %r8we should celebrate). Kelihatannya sangat manusiawi, setelah bekerja selesai lalu merayakan. Suatu dinamika kehidupan supaya tidak menjadi gila (stress terus), setelah bekerja susah payah lalu ada waktu nonton TV, jalan-jalan shopping, minum coklat panas. Ya, kehidupan memang seperti itu bukan? Namun lambat-laun tanpa kita sadar yang terjadi adalah “Ingat, bekerja itu melelahkan, belajar itu adalah suatu penyangkalan diri yang berat, ujian itu cicipan neraka, akan tetapi ketika bel berbunyi … itulah surga (coklat panas, kacang mente, game baru etc). Tuhan begitu terbatasnya, sehingga tidak bisa dinikmati ketika kita bekerja dan belajar, Tuhan yang cuma hadir dalam coklat susu! Pengajaran seperti ini, betapapun sangat manusiawi tampaknya, sesungguhnya berbeda dengan pengajaran kristen. Dan perbedaannya tidak sedikit. Sebagaimana memuliakan dan menikmati Tuhan bukanlah merupakan suatu pilihan waktu, demikian pula hidup yang berjaga-jaga dan memelihara fighting spirit bukanlah pilihan waktu.

Dalam kehidupan kita mengikut Tuhan, seharusnya kita senantiasa berada dalam keadaan yang berjaga-jaga, memelihara fighting spirit. Peperangan rohani ini memang dicanangkan setelah kejatuhan. Kita tidak perlu berspekulasi andaikan Adam dan Hawa tidak jatuh. Faktanya adalah setelah kejatuhan, permusuhan itu sudah diumumkan Aku (TUHAN Allah) akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya (Kej 3:15). Peperangan ini sudah diumumkan dan tidak mungkin ditarik kembali, tidak ada gencatan senjata, ini adalah suatu drama kosmik yang sedang terjadi. Manusia tidak mungkin tidak terlibat dalam realita ini. Persoalannya, di mana, atau lebih tepat, pada siapakah kita berpihak? Firman Tuhan hanya memberikan dua pilihan: si ular tua atau keturunan perempuan itu (Yesus Kristus). Kita dapat memilih untuk turut berperang bersama Kristus, atau berada pada pihak yang lain, atau membangun suatu ilusi seolah-olah perang itu tidak pernah ada dan tidak sedang terjadi.

Ada beberapa hal yang dapat dikontraskan dengan orang percaya yang turut serta dalam peperangan rohani ini. Antitesis dari fighting spirit ini yang pertama adalah kemalasan. Orang yang membuang-buang waktu, potensi, bakat yang ada pada dirinya atau menggunakannya di luar konteks peperangan rohani ini, suatu saat akan dihakimi oleh Allah. Yang kedua, mengutip Charles Spurgeon, a sinful desire to comfort living, suatu kerinduan yang berdosa terhadap kehidupan yang nyaman. Jangan-jangan spirit ini juga dimasukkan ke dalam beribadah, pengikutan kepada Tuhan, semua menuju kepada kenyamanan. Kenyamanan hidup sebagai berhala. Ketiga adalah kehidupan yang mempertahankan status quo rohani, tidak ada keinginan untuk maju dan melampaui keadaan yang sekarang, lalu jatuh ke dalam keadaan kepuasan diri yang salah (self-satisfaction). Keempat, discouragement, patah semangat, tidak ada lagi gairah dan kekuatan untuk melanjutkan perjuangan. Salah satu pekerjaan iblis adalah membawa kita ke dalam keadaan discouraged. Di situ ia menipu kita dengan mengatakan bahwa kita tidak ada kekuatan lagi untuk melayani dan bahwa kita sangat kelelahan, ia akan terus menggiring kita untuk melihat dengan jelas kekecewaan hati kita, kesulitan-kesulitan yang tampaknya tidak mungkin dapat kita atasi, pesimisme yang tanpa harapan. Bahkan Martin Luther pun pernah mengalami masa-masa seperti ini. Ada saat-saat di mana dia depresi, merasa bahwa gerakan reformasi tidak berjalan sebagaimana yang dia pikirkan. Di dalam saat-saat seperti itu seorang pelayan Tuhan akan sangat mudah tergoda untuk berpikir Jangan-jangan saya terlalu idealis, apakah ini mimpi saya sendiri dan bukan pekerjaan Tuhan, apakah saya telah salah mencari kehendak Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan introspeksi itu memang sangat baik dan menjadi bagian yang sehat dalam kerohanian kristen, namun bisa juga menjadikan kita bingung dan tidak sanggup lagi untuk berjalan dalam iman. Salah satu kesulitan di dalam discouragement dalam kehidupan kita (entah itu pelayanan gerejawi, pekerjaan, study, keluarga dsb) adalah kita cenderung tidak melihat bahwa persoalan itu semata-mata ditimbulkan oleh sosok-sosok yang ada di sekitar kita secara horisontal. Ini adalah tipu muslihat iblis yang lain lagi. Waktu kita discouraged/kecewa, kita tidak lagi melihat bahwa itu dapat ditungganggi oleh pekerjaan si jahat. Kita hanya melihat bahwa kekecewaan ditimbulkan oleh orang ini atau orang itu atau lain-lainnya. Kita tidak melihat persoalan yang sesungguhnya, kita telah dikelabui. Kita melihat dengan satu perspektif yang tidak utuh. Apa yang terjadi di dunia ini adalah semacam drama kosmik. Tetapi kalau kita membaca surat kabar, tentunya hampir tidak ada yang memuat berita drama kosmik ini. Manusia terlalu biasa hanya membaca dalam perspektif ekonomi, sosial, budaya, politik, ekologi yang independen dari Tuhan. Inilah yang kita baca setiap hari di surat kabar. Tetapi sesungguhnya dari perspektif Tuhan sangat berbeda.

Orang yang berada dalam fighting spirit akan bertumbuh secara pesat. Orang yang tidak banyak mengalami hal ini akan tertinggal di dalam pengikutan kepada Tuhan. Tetapi kita harus membedakan fighting spirit yang bersifat alami dengan fighting spirit yang dari Tuhan. Memang ada orang-orang yang dari kecil memiliki fighting spirit (mulai dari memiliki sifat pekerja keras sampai dengan suka tawuran). Hal-hal ini tidak ada kaitannya dengan fighting spirit yang dari Tuhan. Ada orang yang secara bawaan sabar luar biasa, dalam keadaan apapun dia tersenyum. Tapi itu tidak selalu berarti kesabaran yang dari Tuhan karena mungkin memang bawaannya seperti itu. Ini pembawaan alami yang memang ramah. Kita melihat di dalam Firman Tuhan bahkan orang-orang yang secara temperamen alami sabar, waktu Tuhan membentuk berdasarkan standarNya nyatalah bahwa mereka ternyata tidak terlalu sabar. Contohnya Abraham, menurut analisa Tim LaHaye adalah orang yang bertemperamen flegmatik. Abraham digambarkan sebagai orang yang tenang, sabar, bahkan demikian tenang dan sabarnya sampai janji Tuhan yang diberikan kepadanya tidak membuat dia percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan dengan sabar menanti penggenapan janji itu, ia malah berusaha mendahului Tuhan dengan menikahi Hagar dengan harapan mendapatkan keturunan melaluinya. Penggenapan jani itu dianggap terlalu lambat hingga Tuhan perlu menyatakan janji itu sekali lagi dan sekali lagi. Ketika dalam keadaan yang sulit dan terpojok dia tidak mengatakan separuh kebenaran dengan motivasi mengelabui Abimelekh (peristiwa ini menjadi suatu persoalan etis yang menarik untuk dibicarakan, apakah di sini Abraham sebenarnya berdusta atau tidak. Kita tidak menilai persoalan etis berdasarkan ajaran Kant dengan etika deontologisnya, melainkan etika kristen harus dinilai berdasarkan iman atau relasi di hadapan Tuhan. Dan nyatalah dalam kasus ini Abraham bukan tidak bersalah, karena sekalipun berdasarkan standard etika Kant dia tidak berdusta [karena Sara memang istrinya], namun berdasarkan standard firman Tuhan ia sudah bersalah karena di situ ia memiliki motivasi mengelabui Abimelekh, dan juga bahwa motivasi itu timbul karena ketakutan diri supaya tidak dibunuh [motivasi egois], dan terlebih lagi karena ketakutan ini sebenarnya berakar dari ketidak-berimanan Abraham kepada Allah yang sanggup memelihara hidupnya, dalam peristiwa ini Abraham gagal menyatakan iman percayanya kepada Tuhan). Di sini kita melihat orang yang tenang dan sabar secara alamiah, secara pembawaan tidak tentu lulus berdasarkan standard kesabaran Tuhan. Di bagian lain Paulus pernah mengatakan di dalam suratnya bahwa jemaat di Korintus begitu ‚sabar’ terhadap orang-orang yang mengajarkan ajaran yang salah (II Kor 11:4), memperhambakan mereka, menghisap mereka, menguasai mereka etc (11:20) dan dalam bahasa sindiran Paulus mengatakan bahwa di dalam hal ini ia terlalu lemah dibandingkan dengan jemaat Korintus yang memiliki lebih banyak ‚kesabaran’ (yaitu kesabaran alami dan bukan kesabaran yang dari Tuhan). Demikian pula halnya dengan fighting spirit, ada orang yang memang bawaannya suka bekerja keras, suka melakukan banyak hal, tidak bisa berdiam diri, suka mengerjakan yang paling banyak, tetapi persoalannya: tidak selalu yang dipercayakan dari Tuhan.

Dalam kehidupan kita, kita sebenarnya lebih suka fight untuk hal-hal yang menguntungkan diri kita sendiri. Tetapi hal-hal yang Tuhan ingin kita kerjakan, kita lebih gampang menyerah dan discouraged. Inilah keadaan kita yang sesungguhnya. Hal yang ingin kita dapatkan maka kita akan lebih ada fighting spirit, lebih ulet dan tekun. Tetapi giliran hal yang Tuhan percayakan, kita tunda-tunda, enggan dan lalu kita membenarkan diri dengan mengatakan: Aku berserah, aku berserah, pada Yesus, Juruselamat …. Pada kenyataannya kita kurang memiliki fighting spirit, tidak ada daya juang untuk menggenapkan apa yang Tuhan inginkan. Di dalam kehidupan Daud, dia dibentuk oleh Tuhan dalam hal ini karena dia sedang dipersiapkan Tuhan untuk menjadi seorang pemimpin.

Sebagaimana sudah kita bahas, hidup dalam fighting spirit adalah pembentukan atau latihan yang terus dikerjakan oleh Tuhan pada orang-orang yang hendak dipakainya. Mereka yang sabar dan bertekun dalam pembentukan ini akan menuai buah yang telah disediakan oleh Tuhan. Upah dari fighting spirit ini, di antaranya adalah:

  • Pertama, ketekunan atau karakter itu sendiri. Orang yang dilatih Tuhan di dalam peperangan rohani akan memiliki karakter, yang sedang dipersiapkan menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang tidak mempunyai pengalaman fighting spirit akan sulit menjadi seorang pemimpin yang baik.
  • Kedua, dia akan menjadi seorang prajurit yang sejati. Dalam cerita the Chronicles of Narnia digambarkan bahwa Peter ketika berhadapan dengan serigala harus belajar untuk menghadapinya sendiri. Peter berjuang untuk menaklukkan serigala itu. Dan setelah berhasil membunuh serigala barulah ia dinobatkan sebagai seorang prajurit yang sejati. Tuhan terkadang seolah tidak hadir atau tidak berperan dalam peperangan rohani yang sedang kita hadapi, namun yang terjadi di situ sesungguhnya adalah kita sedang dilatih untuk menjadi laskarnya. Tuhan sebagai The Great Warrior dan kita pun sebagai warrior di dalam rencanaNya.
  • Ketiga, kita melihat suatu worldview yang tidak dilihat oleh dunia ini yaitu suatu drama kosmik, peperangan antara Allah melawan si jahat. Tetapi berapa banyak orang yang melihat keadaan dunia yang seperti ini? Bukankah banyak orang yang mempunyai perspektif yang sama sekali tidak penting? Yesaya 6 mengatakan bahwa pada waktu raja Usia mati Yesaya mendapat visi dan ini adalah drama kosmis yang sangat penting. Raja Usia mati tidak sepenting Yesaya mendapat visi, maka Alkitab mencatat tentang kematian raja Usia hanya dengan beberapa kata. Tetapi yang dimuat di Newsweek dan yang dipublikasikan besar-besaran bukan tentang Yesaya yang mendapat visi tetapi raja Usia yang mati. Raja Usia mati menjadi berita besar sementara Yesaya mendapat visi tidak penting. Tetapi Alkitab lain karena yang ditulis Alkitab adalah drama kosmis itu. Dan inilah yang dinyatakan terus-menerus dalam Alkitab. Orang yang memiliki kepekaan rohani akan melihat hal seperti demikian. Orang yang tidak memiliki kepekaan rohani akan hanyut di dalam berita-berita dunia dan perspektif matanya akan kacau karena dia hanya melihat hal-hal yang kurang penting yang dijadikan penting dan akhirnya hal yang sungguh-sungguh penting dilewati. Dia tidak menangkap momen di mana Tuhan menyatakan karyanya di dalam sejarah. Dia hanya menyoroti hal-hal yang tidak penting di dalam sejarah. Itu adalah kerugian orang-orang yang tidak memiliki worldview yang benar. Ini akan teerjadikketika kita tidak melatih diri di dalam fighting spirit. Fighting spirit akan menajamkan kita akan worldview sebagaimana firman Tuhan memandang (biblical perspective).
  • Keempat, kita berpartisipasi di dalam kemenangan Tuhan. Mazmur 144:2 mengatakan Tuhan adalah gunung batuku, kubu pertahananku, kota bentengku …, tetapi … yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku. Daud jelas memahami bahwa ini adalah peperangan yang dimenangkan oleh Tuhan dengan kuasa Tuhan tetapi juga dengan yakin ia mengatakan bahwa bangsa-bangsa ditundukkan ke bawah kuasanya. Daud berbagian di dalam kemenangan Tuhan, Daud berbagian di dalam peperangan yang dilakukan oleh Tuhan sendiri.

Di dalam ayat 3 dan 4 terlihat seperti kutipan dari Mazmur 8. Memang bagian ini mengingatkan kita dengan ayat dari Mazmur 8:5 Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya%3 Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun ini bukan menjadi menarik karena persoalan tambahan redaksi awal redaksi akhir, melainkan karena kedua ayat ini memiliki kesamaan sekaligus perbedaan. Ayat dalam Mazmur 144 ini ditulis dalam konteks yang berbeda. Ayat ini berada setelah pemazmur melihat Tuhan adalah Tuhan yang berperang dan ayat 3-4 menyatakan suatu pemahaman akan ketidakberartian manusia itu sendiri. Pemazmur memelihara diri dari penghayatan yang salah dari kemenangan yang diperoleh lalu menjadi percaya diri (dan lupa diri) karena dia sudah menang atas musuh-musuhnya, Tuhan digeser keluar lalu dia menikmati kemenangan itu seolah-olah itu diraih dengan kekuatan tangannya sendiri.

Elia jatuh di dalam kesalahan ini. Kalau kita membaca dengan teliti, saat Tuhan menolong dia mengalahkan dewa-dewa Baal, kemenangan besar dalam peperangan rohani itu kemudian membawa dia dalam suatu keadaan depresi, tersendiri, mengasihani diri. Yang celaka dia berpendapat bahwa dia seorang diri berperang melawan nabi-nabi palsu itu. Dia pikir dia satu-satunya orang yang paling mengerti kehendak Tuhan, yang paling giat melayani dan paling mencintai Tuhan, bertempur bagi Tuhan sementara yang lain tidak. Alkitab memang tidak mencatat secara eksplisit bahwa Elia mencuri kemuliaan Tuhan dalam kemenangan tersebut, akan tetapi mengapa Elia masuk ke dalam keadaan (tersendiri) seperti itu? Tiba-tiba rohaninya menjadi lelah (exhausted). Kalau itu pekerjaan Tuhan mengapa dia menjadi lelah sementara Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa? Yang berkarya adalah Tuhan dan Ia jugalah yang menyatakan kebesaranNya, mengapa Elia yang menjadi lelah? Di sinilah ironisnya jikalau kita mengambil bagian yang seharusnya merupakan kemenangan Tuhan lalu kita perhitungkan sebagai kemenangan kita sendiri, kita akan dihempaskan dalam perasaan ketersendirian. Waktu kita mengembalikan semua kemuliaan kepada Tuhan, kita justru berlari dan tidak menjadi lesu, berjalan dan tidak menjadi lelah.

Alkitab mencatat bahwa manusia berdosa tidak tahan memandang kemuliaan Tuhan. Ada orang yang tidak mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan lalu mengambil kemuliaan itu untuk dirinya sendiri, maka dia akan kelelahan sendiri. Tetapi justru ketika manusia mengembalikan semua kemuliaan kepada Tuhan, menyatakan itu sebagai pekerjaan Tuhan, dia berada di dalam keadaan yang aman karena dia menyerahkan semua kekuatan dan kuasa yang ada padanya merupakan kuasa yang dari Tuhan yang sedang bekerja dan ia tidak akan menjadi lelah karena yang berperang adalah Tuhan sendiri. Daud di dalam hal ini mempunyai kepekaan rohani yang lebih dibanding Elia (bagian ini tidak sedang membanding-bandingkan tokoh-tokoh dalam Alkitab seolah-olah mereka berada dalam satu kompetisi satu dengan yang lain, melainkan ingin menyatakan satu fakta sederhada bahwa raksasa-raksasa rohani seperti Elia pun sebenarnya adalah orang biasa, sama seperti kita, seperti dikatakan oleh Yakobus, mereka juga memiliki kelemahannya, demikian juga halnya dengan Daud, sekalipun pada bagian ini kita tidak sedang membahas kelemahannya, namun pada bagian firman Tuhan yang lain kita tahu bahwa dia pun juga, sama seperti Elia, adalah seorang manusia berdosa yang juga memiliki kelemahan).

Setelah mengalami kemenangan yang dimpimpin Tuhan, Daud menyadari dirinya sebagai manusia yang seperti angin dan bahwa hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat. Itu menjaga dia di dalam satu kehidupan rohani yang sehat di hadapan Tuhan. Itu memelihara dia dari kehidupan yang mencuri kemuliaan Tuhan yang akhirnya membawa dia ke dalam kehidupan yang melelahkan. Justru di dalam penghayatan seperti ini, ketika kita baca pada ayat yang selanjutnya, baru dia bisa melihat dan menyatakan kebesaran Tuhan yang sesungguhnya.

Ayat 5, tekukkanlah langitmu dan turunlah, sentuhlah gunung-gunung sehingga berasap, lontarkanlah kilat-kilat dan serakkanlah mereka, lepaskanlah panah-panahmu sehingga mereka kacau. Dari penghayatan ketidakberartian diri, Daud mengharapkan keperkasaan Tuhan, kemaha kuasaanNya. Daud berharap akan kebesaran Tuhan, sebagaimana dia mengetahuinya dalam peristiwa Keluaran. Sebenarnya yang dicatat dalam ayat 5 dan 6 adalah peristiwa gunung Sinai. Tuhan yang menyatakan diri, dan dalam suatu keadaan yang menggentarkan orang-orang Israel. Daud mengenal dengan baik bagaimana Tuhan telah berkarya di masa yang lampau.
Kita membaca pengenalan seperti ini juga dalam tulisan-tulisan Daud yang lain. Ini adalah satu bagian yang kita perlu belajar terutama karena Alkitab seringkali menyatakannya berulang-ulang. Di dalam pengharapan akan kebangunan rohani, kita perlu mengingat pekerjaan Tuhan yang pernah terjadi di masa yang lampau. Kita ingat Tuhan yang pernah bekerja di masa yang lampau, nyatakanlah Tuhan pekerjaanMu seperti Engkau pernah melakukannya dahulu, bagaimana Engkau memimpin Musa untuk membebaskan umat Israel keluar dari tanah perbudakan. Dia mengingat peristiwa yang lampau, dia mengingat pekerjaan dan kebesaran Tuhan di masa yang lampau. Tetapi ada orang-orang Kristen yang tidak mengenal kebaikan Tuhan dan kebesaran Tuhan di masa yang lampau. Akhirnya waktu berada di dalam penderitaan/kesulitan, dia terjerembab di dalam kesulitan tersebut. Dia tidak bisa mengingatkan dirinya akan kebaikan Tuhan yang pernah dia alami pada waktu-waktu yang lampau. Dia tidak melihat kebesaran Tuhan di masa yang lampau, sehingga dia tidak sanggup untuk menghadapi waktu yang sekarang dan akhirnya tidak berpengharapan untuk waktu yang akan datang. Daud bukan orang yang demikian. Daud mengenal dengan baik pekerjaan Tuhan di masa lampau. Itu menjadi semacam api yang menguatkan dia untuk terus menerus berada di dalam fighting spirit karena dia mengenal bahwa Tuhan adalah Tuhan yang tidak berubah, dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Tidak ada teologia pengharapan dan teologia masa kini tanpa teologia masa lampau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *