Spiritualitas Ketersembunyian

Bacaan: Matius 6:5-6

Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Bagian ini biasa disebut sebagai salah satu dari trilogi spiritualitas yang diajarkan oleh Yesus dalam Khotbah di Bukit. Dalam ketiga hal (memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa) Yesus mengajarkan prinsip yang sama yaitu supaya kita melakukan kewajiban agama kita dalam ketersembunyian, bukan untuk dilihat oleh orang. Mereka yang melakukan kewajiban agamanya supaya dilihat oleh orang lain adalah orang munafik menurut Yesus. Ternyata munafik bisa menyelinap dalam kehidupan kita tanpa terang-terangan. Kita seringkali menganggap orang yang munafik adalah orang yang bermuka dua: di hadapan orang berpura-pura baik padahal di dalam dirinya punya kebiasaan berdosa yang berusaha untuk ditutupi. Memang itu juga adalah kemunafikan. Namun ternyata kemunafikan bisa hadir dalam bentuk yang sangat halus: mencari muka orang lain (dan bukan wajah Tuhan!). Orang-orang seperti ini pada dasarnya tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan karena mereka lebih takut kepada ada tidaknya pujian dan penerimaan dari manusia yang berdosa. Mereka adalah orang-orang yang melecehkan Tuhan dengan menganggap penerimaan dan pengetahuan Tuhan terhadap kebaikannya tidak cukup (dan karena itu harus selalu ditambah dengan pujian, penerimaan, serta pengakuan manusia). Yesus mengatakan orang-orang seperti ini munafik! Mereka adalah orang yang berpura-pura menjalankan ibadah mereka di hadapan Tuhan, tapi sebenarnya mereka menjalankannya di hadapan manusia.

Tidak mudah memang. Daging selalu berusaha untuk menyenangkan dirinya sendiri. Daging mengalami kesakitan ketika tidak ada manusia yang melihat. Tapi sebagai seorang percaya kita tidak dipanggil untuk menyenangkan daging kita melainkan menyalibkannya. Biarlah daging itu mengalami kesakitan dipaku di atas salib bersama dengan Kristus. Jangan memberikan kesempatan karena begitu kita memberikan kesempatan yang menyuburkan daging kita, harga yang dibayar sesungguhnya terlalu mahal. Ya, kita akan gagal menikmati kuasa kebangkitan Kristus dalam hidup kita. Pelayanan yang kita kerjakan akan menjadi pelayanan humanis yang hanya berusaha untuk menyenangkan manusia, atau lebih tepat: menyenangkan kedagingan saya.

Yesus mengatakan orang-orang seperti ini sudah mendapatkan upahnya (selagi mereka masih berada dalam dunia). Kasihan. Mereka adalah orang-orang yang investasinya gagal total karena ngengat dan karat akan merusakkannya dan pencuri akan membongkar serta mencurinya. Mereka tidak beroleh upah dari Bapa yang di sorga karena mereka juga sudah terbiasa menghina Bapa yang seharusnya cukup melihat segala kewajiban agama mereka.

Yesus mengajarkan agar kita berdoa dalam tempat yang tersembunyi. Tempat-tempat itu akan menyelamatkan kita dari kemunafikan. Karena tidak ada orang yang melihat, hanya Allah saja yang melihat. Betapa menyenangkan dan memerdekakan bisa melayani seperti ini, bisa mendoakan orang seperti ini. Tidak ada tekanan untuk menjadi indah dan enak dilihat orang. Tidak ada! Menyenangkan sekali. Kita boleh tampil apa adanya di hadapan Tuhan. Kita bisa bebas mendoakan apa saja yang memang Tuhan gerakkan dan bukan hanya mendoakan pokok-pokok doa yang mengesankan orang lain. Kita juga bahkan boleh berdoa dengan kalimat yang kurang sempurna yang mungkin secara teologis kurang indah. Namun itulah keindahan yang dilihat oleh Bapa yang di sorga. Bapa yang di sorga akan membalas kita karena kita tidak punya motivasi lain kecuali mau menyenangkan dan menaati perintah-Nya dalam kasih yang tulus kepada-Nya dan kepada sesama kita. Yesus mengundang kita untuk menikmati kebebasan seperti ini. Yesus yang telah mati di atas kayu salib untuk menebus dan mengampuni segala dosa dan kemunafikan manusia beragama, sekarang mengajak Saudara dan saya untuk menikmati kemerdekaan ini. Kemerdekaan menjalankan kewajiban keagamaan kita di hadapan Allah. Tuhan memberkati kita sekalian.

3 thoughts on “Spiritualitas Ketersembunyian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *