Panggil Aku Mara

oleh Ev. Yadi Sampurna Lima

Bacaan: Rut 1

Bacaan: Rut 4

Elimelekh (namanya berarti: Allahku adalah raja) mengungsi ke negeri kafir: Moab. Alasannya sederhana saja, di negeri Israel, yang Allahnya janjikan akan selalu melimpah dengan ‘susu dan madu’, ada kelaparan (Rut 1:1). Dari Bethlehem (nama itu artinya: rumah roti – suatu ironi yang lain) ia pergi ke negeri asing untuk mencoba peruntungannya. Di tanah asing itulah Elimelekh mati dengan tiada kesempatan untuk melihat tanah kelahirannya kembali. Kedua anak lelakinya segera menikah – dengan perempuan-perempuan lokal. Lalu kedua anak lelaki Naomi itu meninggal dunia, meninggalkan tiga janda malang, ibu mereka, Naomi, istri-istri mereka Orpa dan Rut. Kematian kedua anak Naomi bukanlah sesuatu yang terlalu wajar. Mereka berdua masih terlalu muda untuk mati. Tidak diceritakannya mengenai anak-anak Mahlon dan Kilyon mungkin mengindikasikan mereka masih baru saja menikah ketika mereka meninggal (atau bahwa mereka ‘tidak diberkati Tuhan dengan anak-anak’). Dugaan ini diperkuat dengan kenyataan bahwa istri-istri mereka juga masih tergolong cukup muda untuk menikah lagi (1:9). Di dalam jaman dimana kalah perang, kemandulan, gagal panen, mati muda dan penyakit seringkali dianggap sebagai pertanda akan kemarahan Tuhan, Naomi kelihatannya beranggapan bahwa tangan Tuhanlah yang telah melawan dia dan menyebabkan segala kepahitan yang ia alami itu: kematian suami dan kedua anak lelakinya (1:13, 20). Setelah segala hal-hal buruk yang ia alami dalam sepuluh tahun kita bisa memahami mengapa Naomi sampai bereaksi seperti ini, usahanya untuk menjadi pekerja migran tidak membuahkan hasil malahan seluruh keluarganya mati.

Tetapi sesungguhnya situasinya tidaklah sepenuhnya gelap. Naomi, istri Elimelekh, ibu dari Mahlon dan Kilyon, kelihatannya adalah seorang ibu mertua yang baik yang mendapatkan anak-anak menantu perempuan yang juga baik. Sebuah kombinasi yang jarang terjadi – apalagi mengingat kedua menantunya itu adalah orang-orang Moab. Kedua perempuan asing yang menjadi menantunya terbukti setia kepadanya, bahkan ketika suami-suami mereka telah mati. Mereka menyatakan keinginannya untuk menyertai Naomi ‘pulang kepada bangsanya’. Bahkan Rut tidak dapat dicegah keinginannya untuk menyertai ibu mertuanya yang telah bangkrut itu dengan suatu nasehat bahwa mereka masih bisa kawin lagi dan memulai hidup yang baru di tanah kelahiran mereka sendiri (1:8-14). Kelihatannya Rut telah tertawan hatinya oleh kebudayaan, orang-orang, dan Allah dari bangsa Israel melalui contoh hidup dari suami dan mertuanya. Pernikahan lintas agama ini menghasilkan situasi yang berlawanan dari yang biasanya terjadi – Mahlon dan Kilyon tidak disimpangkan hatinya dari Allah YHWH, justru sebaliknya, istri-istri merekalah yang berbalik dari allah yang disembah orang-orang Moab untuk mengikuti Allahnya orang-orang Israel seumur hidupnya (1:16-17).

Pada akhir cerita, kita mengetahui dari puji-pujian yang diutarakan para perempuan Israel bahwa Rut itu lebih berharga bagi Naomi daripada ‘tujuh orang anak laki-laki’ (4:15). Tujuh anak laki-laki! Bayangkan! Betapa sempurnanya kebahagiaan seorang ibu yang memiliki ‘tujuh anak laki-laki’ – walau demikian – kebahagiaan Naomi bahkan melampaui itu karena memiliki Rut si perempuan Moab itu. Tentu saja posisi Elimelekh, Mahlon, dan Kilyon tidak dapat digantikan oleh bayi Obed yang http://www.incredibleblogs.com/ baru lahir, Rut si menantu yang baik, dan Boas si penebus kaya raya yang kini jadi anak angkat Naomi. Setiap orang itu unik, mereka menempati posisi yang unik di hati kita, itu sebabnya orang yang sudah mati akan meninggalkan kepedihan dan kehilangan yang tak dapat digantikan oleh apapun, atau siapapun. Tetapi untuk tragedi hidup Naomi ada penebusannya yang sangat indah. Apa yang disangka Naomi sebagai ‘tangan Tuhan yang teracung untuk memahitkan hidupnya’ ternyata adalah bagian tidak terpisahkan dari resolusi yang terjadi di akhir cerita. Kisah Rut ini diletakkan setelah kitab Hakim-Hakim oleh mereka yang menyusun Alkitab Kristen kita. Ini adalah suatu peletakan yang indah.1 Kitab Hakim-Hakim mengisahkan perjalanan Israel dari jaman sepeninggal Yosua, bagaimana mereka di awal periode Hakim-Hakim mengalami degradasi dari kompromi yang berhulu kepada kawin campur sampai memuncak kepada kekejian yang melampaui apa yang dilakukan bangsa-bangsa kafir (perbuatan noda di Gibea) yang berbuntut kepada hampir punahnya suku Benyamin. Lalu setelah buku yang membikin depresi itu (Hakim-Hakim) kita berjumpa dengan buku Rut yang mengambil setting pada jaman Hakim-Hakim juga. Dalam buku Rut ini pahlawan dari ceritanya justru adalah seorang perempuan asing! Perkawinan campur yang menyebabkan berbagai kekacauan di awal buku Yosua, dalam kitab ini digambarkan sisi terangnya. Di dalam anugerah Allah, segala kelemahan yang dilakukan bangsa Israel dapat dipakai menjadi alat peragaan kasih karunia-Nya. Dari Rut, perempuan Moab itu, melalui serangkaian kejadian tragis dan pahit, lahirlah Obed (namanya berarti ‘pelayan’ atau ‘penyembah’) yang menjadi ayah dari Isai – berarti ia adalah kakek dari raja Daud. Apa yang dikira Naomi sebagai ‘nasib buruk dari Allah’ ternyata adalah pekerjaan Allah yang penuh misteri di dalam menghadirkan karya keselamatan-Nya melalui kehidupan Naomi. [J.S. Lima]

Pertanyaan Renungan

  1. Pertanda apakah yang dilihat Naomi dari kematian suami dan kedua anaknya? Apakah itu pertanda bahwa Allah berkenan atau tidak kepada keputusan Elimelekh untuk hijrah ke Moab sepuluh tahun sebelumnya? Apakah kematian kedua anak lelakinya memberikan suatu petunjuk mengenai sikap Allah atas pernikahan mereka dengan perempuan-perempuan Moab itu?
  2. Apakah yang ditunjukkan oleh komitmen Rut untuk menjadikan Allahnya Naomi sebagai Allahnya sendiri, bangsa Naomi sebagai bangsanya sendiri, dan kampung halaman Naomi sebagai kampung halamannya sendiri? Bagaimanakah hal ini bisa menjelaskan mengapa Rut lebih tertarik untuk mengikuti Naomi ‘pulang’ ke tanah yang asing bagi Rut, daripada memulai hidup baru di tanah Moab yang dikenalnya dengan baik?
  3. Dapatkah anda mengenali pola-pola ‘penebusan’ dalam kisah Rut ini? Bagaimanakah Allah ‘menebus’ kisah hidup Naomi yang pahit sehingga kisah itu menjelma menjadi sesuatu yang indah?